​Pengalaman Operasi Militer di Suriah Masuk Kurikulum Sekolah Militer Rusia

Sekolah tinggi militer Rusia akan memasukan pengalaman operasi antiteror Rusia di Suriah ke dalam kurikulumnya, demikian disampaikan Menteri Pertahanan Rusia Jenderal Sergei Shoigu melalui konferensi telepon, Jumat (2/12).

“Sebuah konferensi pelatihan dan metodologi bernama ‘Pendidikan Militer untuk Pengabdian Tanah Air’ menguraikan pendekatan untuk mengenalkan pengalaman tempur yang didapat Pasukan Dirgantara dan Angkatan Laut di Suriah ke dalam proses pendidikan militer, serta melalui penerapan teknologi masa kini,” terang Shoigu.

Menurut Shoigu, konferensi tersebut mengadopsi deklarasi yang menetapkan tata cara untuk mengembangkan pendidikan militer dan pelatihan personel hingga 2020.


Sebelumnya, Shoigu memberikan instruksi perlunya memasukan pengalaman pasukan Rusia di Suriah dalam proses pelatihan tempur individu para prajurit selama periode musim dingin.

Rusia memulai operasinya melawan kelompok militan di Suriah pada 30 September 2015 atas permintaan Presiden Suriah Bashar al-Assad. Operasi militer Rusia telah membantu tentara Suriah membebaskan sekitar 400 wilayah pemukiman dan mengacaukan jalur perdagangan minyak ilegal yang merupakan sumber utama pendapatan kelompok teroris. Seluruh rute untuk persediaan besar senjata dan amunisi pun diblokir.

Pada 14 Maret 2016, Presiden Rusia Vladimir Putin memerintahkan penarikan sebagian besar Angkatan Udara Rusia dari Suriah. Kini, dua fasilitas militer Rusia masih beroperasi di wilayah Suriah, yakni di Hmeimim dan Tartus.

Sejauh ini, bantuan Rusia telah berhasil membantu pasukan Suriah untuk merebut kembali beberapa kota penting di negara yang telah dilanda perang selama bertahun-tahun tersebut. 

(TSM/ruskarec.ru)

Advertisements

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan