5 Kerugian Indonesia Jika Membeli Sukhoi Su-35 Bagi Perkembangan Pertahanan

Saat ini publik Indonesia sedang menanti pesawat tempur baru untuk mengawal angkasa Indonesia menggantikan pesawat F5 yang semakin menua. Pilihan favorit jatuh ke Sukhoi Su-35, pesawat tempur terbaru berbasis Su-27 buatan Rusia. Di pasar global, baru China yang akhirnya deal membeli Su-35. Adapun Brazil, Korea Selatan, India, Aljazair dan Malaysia sempat menunjukkan minat namun akhirnya memilih pesawat tempur lainya.

Berikut analisis redaksi MM tentang 5 kerugian Indonesia jika memilih Sukhoi-35 sebagai pengganti F-5 Tiger.

1. Transfer Teknologi dari Rusia Dipastikan Sangat Sedikit
Kementrian pertahanan rencananya hanya akan memesan 8 pesawat Sukhoi Su-35 dari Rusia. (What hanya 8? mohon dibaca dengan nada kaget ya). Kira-kira dapat tranfer teknologi apa saja? pastinya kurang dari 50% atau malah kurang dari 25% dari teknologi Sukhoi.

Berkaca dari pengalaman India, negara sekutu dekatnya Rusia. Negaranya Rahul Khan tersebut mendapat lisensi untuk membangun sendiri Sukhoi Su-30. Bahkan dalam pengembanganya, India mendesain ulang Su-30 dengan kode MKI dengan menambahkan sayap canard di depan, tujuanya agar mampu menggendong Rudal Brahmos dan melengkapi kemampuan Triad Nuklir, yaitu kemampuan biar bisa meluncurkan rudal nuklir dari Udara, Darat dan Laut.

Su-30MKI dengan modifikasi sayap canard. Foto: defencepk
Su-30MKI dengan modifikasi sayap canard. Foto: defencepk

Masalahnya ternyata, lisensi tersebut hanya mengizinkan india membuat Sukhoi Su-30 tanpa mengizinkan India membuat suku cadangnya. Walhasil AU India keteteran dalam menyiagakan Su-30 untuk siap terbang dari total 200unit Su-30MKI yang sudah dibuat India, hanya 50%-nya saja yang siap terbang.

Akibanya Su-30MKI sering jatuh karena gagal mesin, suku cadang yang seharusnya sudah diganti belum bisa diganti karena tidak ada barangnya. Ada hampir 4 kali pemerintah India menggrounded Su-30MKI demi keselamatan pilotnya.


Saat meneken kontrak Su-30MKI dari Rusia, India berharap bisa mentrasfer teknologinya dalam pengembangan jet tempur lokalnya, HAL Tejas. Tapi ternyata, effort militer India lebih banyak terkuras pada perawatan MIG-29 dan Su-30MKI. Pengembangan HAL Tejas pun terhenti dan hanya berhasil dibuat 3 unit saja sampai sekarang. Pada saat bersamaan, China dan Pakistan terus menambah kemampuan dalam teknologi pesawat tempur.

Nagh, India yang menjadi partner karib Rusia saja dikasih Transfer Teknologi yang tak utuh. Lalu seberapa besar transfer teknologi yang akan didapat Indonesia yang hanya membeli 8 Su-35?. Transfer teknologi dari Rusia yang kecil bisa tak terserap dalam pengembangan IFX.


2. Kesempatan ToT dari SAAB Gripen akan Diserobot Thailand.
SAAB produsen asal Swedia menjanjikan transfer teknologi 100% untuk pesawat Gripen. Bahkan mereka juga memastikan bahwa separuh dari pesanan, akan dirakit di hanggar PT. Dirgantara Indonesia (PT.DI). Ini akan sangat bermanfaat bagi proyek pengembangan IFX bersama Korea Selatan. Bahkan ada kemungkinan Indonesia bisa membuat pesawat tempur sendiri tanpa bantuan Korea Selatan.

Baca Juga:  Indonesia Gadaikan Pangkalan Militer di Natuna ke Amerika Serikat?
Grippen dengan rudal Meteor. Foto: SAAB
Grippen dengan rudal Meteor. Foto: SAAB

Secara fisik, Gripen mungkin diremehkan karena bermesin tunggal. Tapi keunggulan utama pesawat buatan SAAB ini adalah pada kemampuan jaring radarnya yang terintegrasi dengan semua radar buatan SAAB baik di darat maupun di udara. Saat ini radar pertahanan Indonesia didominasi produk SAAB.

Misalkan, 1 Gripen patroli di Nunukan, Kalimantan dan 1-nya lagi patroli di laut Bali. Apa yang dilihat Gripen di Nunukan bisa dilihat oleh Gripen yang di laut Bali secara langsung. Saat radar Gripen di Nunukan mendeteksi ancaman pada jarak 180KM dari batas teritorial Indonesia, Gripen di laut Bali bisa segera memberi bantuan tanpa komando dari pusat kendali di darat.

Kelebihan lainya, Gripen membutuhkan bisa mendarat dan terbang dengan landasan pacu yang lebih kecil. Untuk operasionalnya, Gripen juga membutuhkan kru di darat lebih sedikit. Ini membuka peluang bagi Indonesia untuk bisa menyembunyikan di pulau manapun dan dengan fasilitas fisik bandara yang minimalis. Saat ini, jika 3 bandara utama dilumpuhkan (Jakarta, Madiun dan Makassar) maka praktis TNI AU sudah tak berkutik.

Dengan transfer teknologi 100% dari SAAB, Indonesia berpeluang untuk memproduksi Gripen dengan biaya yang lebih murah dan membantu pengembangan IFX.

Jika tawaran di atas diabaikan oleh Indonesia, bisa dipastikan SAAB akan menyetujui transfer teknologi yang lebih besar ke Thailand, sejalan dengan rencana Thailand untuk menambah jumlah Gripen yang dimilikinya.

f-16-blok-70

3. Kesempatan Menjadi Basis Produksi F-16 Viper bisa Disabet India.
Lockheed Martin (LM) dan Pemerintah Amerika Serikat (AS) sedang getol menawarkan F-16 blok 70 (Viper). F-16 Viper dipercaya setara dengan Gripen dalam hal sistem avionik, karena bakal dicangkokan teknologi F-35.

LM dan AS membuat program untuk merakit F-16 Viper di luar negeri, dengan pertimbangan tingginya biaya operasional produksi di dalam negeri AS, kapasitas pabrik LM yang sudah penuh dan untuk kepentingan politik AS di kawasan.

India berada di garis depan untuk mendapatkan proyek Viper ini, sejalan dengan program mereka MII (Make in India). Tapi Washington masih menunda deal yang telah terjadi antara India dan LM selaku produsen.

Pihak Washinton malah getol menawarkan proyek Viper ini ke Indonesia, mungkin karena didasari geopolitik di kawasan Asia Pasifik dan Laut China Selatan yang lebih penting. Washington memproyeksikan Indonesia sebagai basis produksi F-16 untuk wilayah pemasaran Asia pasifik.

Yang jadi masalah, F-16 Viper masih dalam bentuk prototype dan belum teruji di lapangan. Tapi sepertinya itu tak jadi masalah bagi adaptasi TNI AU, karena mereka terbukti mampu menyiagakan F-16 walau sedang dalam posisi diembargo militer oleh Amerika Serikat (1999-2005).

Baca Juga:  Semangat Neo Ottoman Turki dan Erdogan Bisa Picu Perang Dunia

Tahun 2003, 2 unit F-16 TNI AU mampu menyergap dan meladeni dog fight dengan 6 jet tempur F-18 Hornet milik AS di atas laut Bawean. Tentu saja posisi-nya lock to lock karena kalah jumlah. Tapi situasi itu menggambarkan bahwa jika F-16 ditembak, maka tembakan balasan mereka juga pasti tidak meleset.  Dalam posisi diembargo, ternyata F-16 masih bisa dioptimalkan oleh TNI AU.

4. Malaysia Bisa Memproduksi Eurofighter-nya sendiri.
PT. DI sudah sangat akrab dengan industri aviasi asal Eropa dalam hal kerjasama produksi. BAE (Inggris) selaku pemegang hal jual Typhoon juga sudah mengkonfirmasi bahwa beberapa komponen Eurofighter Typhoon bisa dirakit di Bandung.

Saat bersamaan, Malaysia mengumumkan bahwa mereka hanya punya dua kandidat pesawat, Typhon dan Rafale (Prancis) untuk menggantikan Mig-29 buatan Rusia yang belum terlalu tua tapi sering jatuh. Dalam proposal yang ditawarkan oleh BAE ke TUDM (AU Malaysia) juga menjanjikan transfer teknologi hingga perakitan di dalam negeri jiran.

eurofighter-typhoon-di-hanggar-ptdi
eurofighter typhoon saat presentasi di hanggar PT. DI Foto: aviatren.com

5. Beban Biaya Operasional Su-35.
Berkaca dari kasus Su-27 (5 unit) dan Su-30 (9 unit) yang sekarang ini ada di arsenal TNI-AU. Biaya operasionalnya cukup mahal dengan suku cadang yang tidak selalu tersedia. Setiap 3 tahun (3.000jam) pesawat harus dipreteli untuk diterbangkan ke Belarusia guna menjalani overhaul. 

Jika terlalu banyak Sukhoi di arsenal TNI AU, selain mengganggu kesiapan terbang armada tempur juga bisa membebani biaya operasional. Berikut ini perbandingan biaya operasional pesawat generasi ke-4 per-jam:

Nama Pesawat Biaya Terbang Per-Jam
Su-27/30 $ 14,000
Gripen $   3,000
F-16 block 52 $   6,000
Eurofighter Typhoon $ 14,000
Rafale $ 14,000

Fokus pertahanan bisa habis untuk merawat pesawat buatan Rusia yang selain mahal juga susah suku cadangnya. Untuk perawatan Su-27 dan Su-30 TNI AU sudah kewalahan, dari total 16 unit Su27 (5unit)/Su30 (11unit) hanya 8 yang siap terbang.

Penutup:
Membeli Su-35 tidak serta merta meningkatkan daya gentar TNI di udara ASEAN. Malaysia dipastikan akan mendapat transfer teknologi Eurofighter Typhoon. Thailand selain akan menambah jumlah Gripen juga akan semakin maju dalam teknologi radar berkat transfer teknologi dari SAAB.

Saat dua negara di ASEAN mengalami kemajuan teknologi berkat ToT, kemampuan aviasi Indonesia seperti berhenti di tempat meski memiliki Su-35. Indonesia bisa bernasib seperti India, memiliki banyak varian pesawat hebat tapi tak mampu terbang. Sedangkan dua negara tetangga Thailand dan Malaysia akan mengalami peningkatan teknologi, sedangkan Singapura akan semakin meninggalkan dengan JSF F-35.

 

 

15 Komentar

  1. Pembelian su35 hanya akan membonsai industri pertahanan dalam negeri, Saab Gripen ataw thypon adalah pilihan yg sangat tepat untuk membantu pengembangan ifx, berkaca pada pengalaman India sebagai pengguna terbesar pespur Rusia jangan mimpi Indonesia dapat sesuatu yg berharga dari Rusia dh pembelian 8 sampai 10 pesawat, Krn Rusia sangat pelit dg TOT. Semoga pemerintah khususnya Kemenhan segera menyadari kerugian jika memaksakan diri membeli su35, ingat Indonesia tidak akan kiamat tanpa su35 jd knp harus dipaksakan pak menhan?

  2. apakah gak ingat dgn bayang bayang embargo???????? klau nekat lagi mnggunakan produk brat……. kita harus ingat mau pake pesawat dgunakan untuk operasi aceh saja tidak boleh padahal sudah dibeli….apakah pgn lagi yg seperti itu??? saya kira relevan saja pemerintah menginginkan SU 35, krna permintaan dari usernya… user lebih tahu kualitasnya …… masalh grippen masih bisa diisikan ntuk menggantikan hawk 100/200 yg sudah mndekati pensiun
    salam……..

    • iya ingat embargo yang dijatuhkan Rusia (uni sovyet), TNI AU dan TNI AL lumpuh total pada taun 1970-1980-an.
      Sejak diembargo itulah, Indonesia hanya punya uang untuk beli barang bekas

      • Embargo Rusia ke Indonesia,,,,Itu dulu….
        Sekarang roda telah berputar….Mereka (Rusia) menyebut kita dengan julukan “THE MASTER OF CASH….Lihat hubungan RI ketika jaman Pak SBY menjabat sebagai Presiden, begitu erat dengan Rusia. Bahkan SBY sangat akrab sekali dengan Vladimir Puttin.

        Apa yang Rusia miliki, Indonesia sudah ada.

      • Tambahan, Uni Soviet meng-embargo Indonesia karena keadaan politik..
        Dimana setelah bergantinya rezim Orla ke Orba Indonesia menjadi berkiblat ke barat, Indonesia sendiri yng memutus hubungan dengan Uni Soviet karena kondisi politik tadi yng telah berubah.

      • Yang doyan produk eropa barat maupun amerika serikat. adalah orang yang tidak tahu soal embargo yang diberlakukan oleh amerika maupun eropa barat terhadap Indonesia karena Indonesia dianggap melanggar HAM di Timor Timur. Wahai saudara sebangsa dan setanah air. negara kita masih membutuhkan pesawat tempur yang bebas dari segala syarat dalam mengamankan NKRI .

  3. Awalnya saya sangat mendukung Indonesia membeli SU 35 krn pespur tersebut memiliki daya getar yang sangat tinggi dan betul2 disegani oleh negara2 eropa dan amerika.Tp setelah membaca artikel2 dimana SAAB Grippen menjanjikan keuntungan “ini-itu” buat TNI membuat saya merasa TNI wajib untuk merespon tawaran dr SAAB. Jk memang benar apa yang dijanjikan SAAB persis seperti yang ada di artikel Militermeter ini kira2 keraguan apalagi yang dirasakan TNI untuk segera memutuskan membeli Grippen saja?

    Taruhlah Grippen tidak sehebat SU 35 atau F 15. Tapi Grippen tetap bukan Pespur abal-abalkan?Dia tetap Pespur yang sangat bagus dan super canggih. Buat apa kita pny pesawat dengan daya getar tinggi tapi cuma pny seuprit doang dan minim TOT? Toh kita tidak sedang dalam konflik tingkat tinggi yang nyata dengan negara lain bukan? Yang terdengar saat ini baru kemungkinan-kemungkinan ancaman saja, SU 27/30 yang dibelipun sampai saat ini belum pernah dipake perang beneran (jangan sampai juga sih). Berarti kondisi negara kita saat ini sedang dalam situasi yang kondusif. Nah menurut sy jadikanlah situasi ini sebagai ajang untuk mengembangkan teknologi canggih secara mandiri. Kita beli SAAB Grippen, kita ikut pembuatan IFX, kita dapetin ilmunya lalu kita godok dalam “Research & Development alutsista” untuk upgrade alutsista yang exist saat ini dikedepannya dengan sistem yang lebih canggih dan sukur-sukur kedepannya bisa buat sendiri 100%. Biarin aja tetangga punya pespur yang menakutkan (untuk saat ini). Toh juga kita ga akan perang dengan mereka dan mereka tetep sadar ga akan mudah menyerang kita. Kita tetep fokus aja pada pengembangan alutsista.

    Mungkin saat ini pesawat tempur kita ga sehebat pespurnya mereka tapi nextnya dengan pengembangan iptek pespur yg kita dapat dr TOT lalu kita godok dan kita teliti lebih lanjut,saya yakin kita bisa bikin pespur kita yang ada saat ini menjadi lbh hebat dari pespur mereka dengan rancangan dan rakitan di negara sendiri

    • Sy setuju dgn @Ajib, kalo tarik ulur trs terusan g jelas utk pembelian Sukhoi trs sampean kpn nunggunya, drpd buang wkt nego yg g jelas mending langsung saja terima tawaran Saab Gripen, jgn dr negara lain terutama Inggris, Perancis krn kuatir suatu saat kena embargo lg kaya kaus Timor timur kmrn ayo TNI lekas terima tawaran Saab Gripen jgn nunda2 lgi….ya bravo TNI…!

  4. Gua gak setuju banget jika di katakan indo sangat merugi jika pembelian sukhoi SU-35 benar2 terwujud.
    Gini min, indo sebagai negara kepulauan dan luar wilayah yg sangat besar membutuh kan fighter jet di tiap skuadron yang mampu mengimbangi kekuatan udara negara2 yang indo anggap bisa menjadi ancaman kelak(meskipun skrng masih mesra, semoga saja terus mesra)
    Saat ini hanya Sukhoi SU-35 dan FAK FA T50 yang mampu bahkan bisa mengangkangi fighter jet Paman Sam F-35, F -22 raptor yang kita tahu hanya boleh di konsumsi oleh Paman sam dan sekutu nya. Jangan lupa Aussie skrng SDH memodernisasi AU nya.
    Apakah Anda Lupa sejak 2010 hingga skrng ada 100 insinyur indo di negara ginseng yang terus bekerja sama membangun dan mengembangkan KFX/IFX yang nantinya akan pulang ke indo dan membuat IFX secara mandiri. fighter jet yang diclaim SDH Stealth dan mampu mengimbangi raptor Paman Sam. Kita seharusnya nya berbangga tentunya.
    Bukankah Menhan pernah berkata “Indonesia akan tetap membeli fighter jet generasi ke 4++ untuk menggantikan falcon yg SDH usang sampai fighter jet buatan anak bangsa I-FX itu bisa menyuplai kebutuhan AU Indonesia.
    So’ ini hanya masalah waktu tentu nya.
    Percuma menerima banyak tawaran TOT tapi tidak dikembangin scra berkelanjutan dan mubazzir. Terlebih lagi yg nawarin dari pihak sekutu yang dikenal licik dan jago embargo.
    Apalagi indo SDH menggunakan SU 27-30. Yang saya tahu mendapat respon positip dari para penerbang kita. Terlebih lagi dlm hal maintenance dan repair tentu nya merupakan keuntungan tersendiri karena indo SDH sangat berpengalaman. Bukan lantas dgn beragam macam brand dan merk yang sangat menyusahkan dan TDK ada kesinambungan dlm hal pemeliharaan.
    Pengalaman di embargo F16 oleh Paman Sam atas permintaan Aussie praktis menjadikan F16 hanya bisa menjadi penonton dari dlm kandang nya menyaksikan lepas nya Timles.
    Yang saya tahu, SAAB, EUROFIGHTER, LOCKHEED MARTIN Sangat gencar membujuk dan merayu Indonesia agar berpaling dari fighter jet Rusia yang terbukti sangat superior.
    Dan mereka pun melakukan rayuan itu pada media2 indo. Jadi saya gak heran lagi kalau ada artikel yg menyudutkan rencana pembelian SU35.
    Trims.

  5. Ini kerjaan sales gripen yg doyan ngoceh di blog2 tetangga. Merepet promosinya. Itukan analisa vau kencur ente saja. User aja maunya iru kok.
    Sudahlah stop jualan ala kampanye hitam. Memang Gripen itu pespur abal abal yg selalu ngabal kok dng muka tebalnya.

  6. Terima kasih untuk artikelnya Gripen pesawat yg bagus apalagi jika tranfer tekonologi mengikutsertakan radar AESA seperti di Typhoon, Rafale, etc (Su-35 saja masih pakai PESA).
    Teknolgi transfer 100% itu tuh yg luar biasa karena Gripen itu capable koq. Bangga jika Indonesia bisa buat 2 Skuadron atau 32 pesawat Gripen sendiri…

Tinggalkan Balasan