8 Cara Mendeteksi Kapal Selam

Kapal selam yang berada di bawah permukaan laut adalah ancaman yang cukup serius bagi musuh. Karena keberadaanya yanh kasat mata, susah dideteksi dengan mata telanjang. Berikut ini 8 cara mendeteksi keberadaan Kapal Selam di dalam air.

1. Perangkat Sonar

Sonar adalah adalah alat utama yang dipakai oleh kapal permukaan untuk menemukan kapal selam di bawah air. Sonar dapat digunakan secara aktif maupun pasif.

Secara aktif, sonar memanfaatkan gelombang suara yang dikirim ke objek di bawah permukaan (ping). Pantulan gelombang suara dari objek di bawah akan terbaca oleh sonar, dan dari ini informasi mengenai jarak serta arah objek dapat diketahui. Secara pasif, sonar dapat dipakai untuk mendengarkan transient noise yang dibuat kapal selam di bawah air –mulai dari suara propeller maupun segala macam pergerakan yang terjadi di interiornya.

Ada beberapa jenis sonar yang dapat dipakai, yaitu hull-mounted sonar yang terintegrasi dengan kapal permukaan maupun kapal selam, towed array sonar yang ditarik di belakang kapal permukaan maupun kapal selam, dipping sonar yang dibawa oleh helikopter, sonobuoy yang dibawa oleh pesawat, serta underwater fixed array di chokepoint lautan seperti sistem SOSUS.

2. Radar

Radar memancarkan gelombang radio. Gelombang radio ini dipantulkan oleh objek dan pantulannya ditangkap kembali oleh radar, sehingga keberadaan objek tersebut diketahui.

Radar dapat digunakan untuk mendeteksi bagian kapal selam yang berada di atas air, baik periskop, snorkel, conning tower, atau jika kapal selam tersebut memang sedang melaju di permukaan. Kapal selam nuklir dapat menghabiskan waktu berbulan-bulan tanpa harus timbul ke permukaan, namun kapal selam non-nuklir harus naik ke permukaan atau kedalaman periskop untuk memakai snorkel, dan menyalakan propulsi diesel ketika mengambil udara saat bergerak ke medan operasi.

3. MAD

MAD (Magnetic Anomaly Detector) adalah alat deteksi kapal selam dari udara yang membaca perubahan berkala dalam medan magnet untuk mendeteksi kapal selam yang berada di bawah air. Deteksi magnetik terhadap kapal selam dapat dilakukan karena ketika suatu massa berukuran besar yang bersifat ferromagnetik bergerak di bawah air (seperti kapal selam), pasti akan terjadi gangguan/anomali dalam medan magnet Bumi yang dapat terdeteksi.

Baca Juga:  F-35A Lighthing II, Uji Coba Tembakan Rudal AIM-9X Sidewinder dengan Cara Terbalik

MAD dibawa oleh aset-aset udara pencari kapal selam dan digunakan di ketinggian rendah. MAD dipasang di MPA, helikopter ASW, maupun blimp ASW era Perang Dingin.

4. Direction finding

Bila kapal selam memancarkan sinyal untuk berkomunikasi dengan aset-aset lain maupun markasnya, sinyal tersebut dapat ditangkap dan dilacak balik ke posisi kapal selam tersebut.

Hal ini dimanfaatkan dalam WWII, dimana Sekutu menggunakan HF/DF (High Frequency/Direction Finding) untuk menemukan arah dari suatu sinyal radio. HF/DF dapat memberikan perkiraan kasar tentang lokasi kapal selam sehingga konvoi Sekutu dapat menghindari ambush dari wolfpack U-Boat, tetapi kontak HF/DF dari beberapa aset sekaligus dapat memberikan fix yang cukup akurat untuk menindak kapal selam lawan.

5. Intelijen

Di Perang Dunia II, ada program ULTRA, yakni kumpulan usaha yang melibatkan SIGINT (signals intelligence), yaitu pencegatan sinyal komunikasi lawan yang berisi informasi penting, baik dari Jerman, Italia, maupun Jepang. Usaha intelijen Allied ini juga melibatkan pemecahan kode rahasia lawan karena pesan-pesan ini telah di-enkripsi oleh mekanisme tertentu, misal kode yang digunakan mesin Enigma oleh Jerman. Pesan-pesan yang dicegat dari kapal selam yang mengirimkan laporan dapat dipakai untuk menentukan general area dimana kapal selam tersebut berada. Informasi ini dapat digunakan secara defensif (merubah rute konvoi antar samudra) maupun ofensif (memulai operasi ASW dan mengirimkan aset untuk penindakan di lapangan).

Pengumpulan intelijen masih dapat dipakai juga sekarang, dengan beragam teknologi yang lebih luas. Misal pengawasan satelit atas pelabuhan lawan untuk mendeteksi apakah kapal selam berada di pelabuhan atau sedang keluar. Di era Perang Dingin, Soviet memanfaatkan kapal-kapal survei oseanografi dan kapal-kapal intelijen (AGI) untuk mengawasi daerah sekitar pangkalan kapal selam US, dengan mengumpulkan informasi visual, elektronik, radar, maupun akustik.

Baca Juga:  AT200 Pesawat Angkut dan Patroli Tanpa Awak Buatan China

6. Mark 1 Eyeball


Iya, pakai mata, cara lama di era Perang Dunia II dan era Perang Dingin awal-awal. Kapal selam yang mendekat ke kapal permukaan mungkin bisa tidak terlalu terlihat dari permukaan dengan kedalaman periskop…tetapi mereka akan terlihat dengan sangat jelas dari udara. Kapal selam masih dapat terlihat hingga sekitar 100 kaki di bawah air dari udara, apalagi bila dasar laut dangkal dan berpasir.

7. Wake detection

Di kala Perang Dingin, baik Soviet maupun Barat juga berusaha untuk mendeteksi kapal selam lewat aliran air (wake) yang ditinggalkan di belakang kapal tersebut . Turbulensi bawah air dari wake kapal dapat diikuti menggunakan SOKS yang dimiliki oleh kapal selam Soviet seperti Akula-class, maupun kemungkinan HMS Trafalgar Inggris yang terlihat memiliki alat serupa. Thermal signature dari wake kapal selam juga dapat terdeteksi menggunakan sensor inframerah, misalnya AN/AAD-2 milik US yang dipasang di pesawat.

8. Metode-metode lainnya

Kapal selam juga dapat dideteksi lewat jejak kimia maupun radiasi yang ditinggalkan. Tidak hanya satu alat wake detection, SOKS juga termasuk alat deteksi radionuklida dan spektrometer sinar gamma yang mendeteksi elemen radiasi dari kapal selam nuklir, serta alat deteksi seng, nikel maupun hidrogen yang ditinggalkan kapal selam. Namun hanya ada sedikit sekali yang diketahui dari SOKS. Masih banyak juga kemungkinan lain yang menjadi tanda tanya, misal penggunaan satelit untuk mendeteksi periskop, snorkel dan wake kapal selam.

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan