Alasan HAM, Kanada Batal Jual 16 Helikopter Buat Filipina

Kanada membatalkan penjualan 16 helikopter Bell 412EPI senilai Rp 3,3 triliun sehari setelah penandatangan kesepakatan penjualan dengan pemerintah Filipina.

Menteri Perdagangan Internasional Kanada, Philippe Champagne menjelaskan, pihaknya perlu mengkaji kembali kesepakatan penjualan 16 helikopter ke Filipina karena khawatir akan digunakan untuk bertempur melawan pemberontak.

Champagne meneken perjanjian kesepakatan penjualan helikopter itu dengan pemerintah Filipina, Selasa, 7 Februari 2018.

“Hak asasi manusia merupakan elemen kunci kebijakan luar negeri kami dan kebijakan perdagangan kami,” kata Champagne.

Kepala militer perencanaan Filipina, Mayor Jenderal Restituto Padilla di hari yang sama dengan penandatangan kesepakatan pembelian 16 helikopter menjelaskan kepada Reuters, heli yang dibeli akan digunakan untuk operasi keamanan dalam negeri militer Filipina.

Selain itu, heli itu bisa juga dikerahkan untuk operasi penanganan bencana dan operasi pencarian dan penyelamatan.

Pernyataan Padilla tersebut sepertinya memicu Kanada mengkaji kembali kesepakatan penjualan 16 heli itu.

“Ketika kami melihat pernyataan itu.. kami secepatnya mengadakan pengkajian kembali dengan aparat terkait. Dan kami akan mengkaji fakta dan mengambil keputusan yang tepat,”kata Champagne kepada jurnalis tanpa merinci pernyataannya itu.

Perdana Menteri Kanada, Justin Trudeau menegaskan, dia sepenuhnya khawatir helikopter itu akan digunakan untuk menyerang warga Filipina.


Andai kesepakatan penjualan tidak dibatalkan, maka 16 heli Bell 4123EPI akan dikirim awal tahun ini untuk kebutuhan militer Filipina mempersiapkan operasi lanutan memberangus kelompok ekstrimis Islam dan pemberontak komunis.

Baca Juga:  Penuhi Target NATO, Prancis Naikkan Belanja Pertahanan 35% dalam 6 Tahun

Menanggapi Kanada membatalkan penjualan 16 helikopternya, Juru bicara presiden Filipina, Harry Roque menjelaskan, militer akan mempertimbangkan kemungkinan melakukan pengadaan dari sumber lain.


“Akan mempertimbangkan kemungkinan pengadaan dari sumber lain, jika Kanada tidak mau menjual, sementara Menteri Pertahanan Delfin Lorenzana menyatakan bingung atas berita Kanada mengkaji kembali kesepakatan itu,” kata Roque.

Lorenzana pun angkat bicara melalui pesan pendek kepada jurnalis tentang pembatalan kesepakatan penjualan 12 helikopter oleh pemerintah Kanada: “Saya bertemu orang Bell di Singapura dua malam lalu dan mereka tidak punya indikasi akan ada hambatan dalam proyek ini. (tempo)

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan