Aliansi Rusia, China dan Turki Siap Bikin Pssawat Siluman Bersama

Apa jadinya jika 3 negara terkuat di dunia bersatu membentuk aliansi tandingan dari AS-NATO?

Seperti yang diketahui, setelah Pakta Warsawa bubar, Amerika Serikat bersama NATO menjadi aliansi militer terkuat di muka bumi. Aksi polisional di Irak, Afghanistan, Libya dan Suriah adalah bukti bahwa aksi AS-NATO tidak bisa dibendung oleh negara dan aliansi mana pun.

Salah satu produk dari aliansi tersebut adalah proyek pesawat siluman bersama Joint Strike Fighter / JSF F-35. Pesawat generasi kelima yang biaya riset dan produksi ditanggung bersama oleh negara-negara NATO dan Sekutu AS lainya. Salah satunya adalah Turki.

Saat ini status keanggotaan Turki di NATO sedang gamang. Setelah haknya untuk mendapat 100 unit F-35 dihalangi oleh Kongres AS karena dianggap melanggar HAM dan Pro Rusia.

Turki di bawah pemerintahan Presiden Recep Tayyip Erdogan, nampaknya juga sudah mulai bosan untuk bersekutu dengan NATO dan AS karena sering dirugikan. Ambisi untuk bergabung ke Uni Eropa juga udah lama pudar.

Salah satu ulah AS yang membuat Presiden Erdogan marah besar adalah keterlibatan AS yang menyokong pembrontak Kurdi dan melindungi pentolan tokoh kudeta dalam aksi untuk menggulingkan kekuasaan Erdogan pada tahun 2016. AS sendiri sampai saat ini memiliki pangkalan militer di Incirlik, Turki.

Setelah peristiwa itu kini Turki justru makin akrab dengan Rusia yang dalam konflik di Suriah sama-sama menggempur teroris ISIS.

Baca Juga:  Malaysia Lirik Pesawat Tempur Buatan India, HAL Tejas

Langkah Turki memutuskan membeli sejumlah rudal-rudal S-400 Rusia, tentu saja mengejutkan AS dan NATO karena manuver Erdogan itu mencerminkan tindakan yang ‘mbalelo’.

Pasalnya sebagai anggota NATO dan sekutu AS, Turki memang dilarang keras membeli persenjataan dari Rusia, negara yang justru sedang diembargo ekonomi oleh AS dan sekutunya.

Rusia diembargo ekonomi oleh AS dan sekutunya karena menguasai wilayah Krimea (2014) secara tidak sah menurut Barat dan Ukraina.

Turki yang berang terhadap ulah AS karena menghentikan pengiriman F-35, telah membuat Turki melangkah lebih jauh dalam hubungannya dengan pihak lain yakni Rusia.

Pada akhir bulan Juli 2018, Turki dan Rusia malah sudah sepakat untuk membangun kerja sama militer. Khususnya untuk memproduksi jet-jet tempur siluman secara bersama.

Langkah Presiden Erdogan untuk bekerja sama memproduksi pesawat siluman dengan Rusia tentu akan membuat AS dan NATO makin berang.

Pasalnya Presiden Erdogan seperti sudah tidak mau tergantung lagi dalam soal kepemilikan persenjataan dengan NATO dan AS.


Turki bahkan menekankan demi memperkuat pertahanan nasionalnya, program kerja sama untuk memproduksi pesawat siluman juga akan melibatkan China.


Sikap Presiden Erdogan itu jelas membuat hubungan dengan AS-NATO makin merenggang dan tinggal menunggu waktu saja kapan untuk ‘bercerai’ dari NATO. (AW)

Posted : HR/TSM/http://time.com/dan Sumber Lain

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan