Amerika Bikin Tiruan Pesawat J-20 Buatan China Untuk Latihan Perang

Sejumlah pengamat menyatakan bahwa pesawat tempur baru China, Chengdu J-20 Mighty Dragon, bakal menjadi pesaing berat pemain lama F-22 dan F-35 dari AS atau Sukhoi Su-57 Rusia.

“J-20 juga akan mengubah sejarah angkatan udara di kawasan Asia-Pasifik. Di masa lalu, hanya AS dan sekutunya seperti Jepang yang mampu mempersenjatai jet tempur siluman. Tapi sekarang, monopoli mereka di wilayah ini telah dipatahkan oleh J-20,” tulis Song Zongping, seorang pakar militer.

China telah lama menggambarkan J-20 sebagai pesaing bagi jet generasi kelima Amerika Serikat, F-22 dan F-35. Namun sebuah laporan baru meragukan klaim tersebut. Secara khusus, South China Morning Post (SCMP) yang berbasis di Hong Kong melaporkan bahwa “China meluncurkan jet tempur siluman canggih pertamanya lebih cepat dari jadwal tahun lalu, menggunakan mesin sementara, dalam menghadapi meningkatnya tantangan keamanan di wilayah tersebut.”

Menurut SCMP, kondisi ini membuat kemampuan J-20 akan sangat terbatas, termasuk dalam hal manuver dan efisiensi bahan bakar serta kemampuan silumannya pada kecepatan supersonik, demikian ditulis laman Nationalinterest.org, Mei 2019.


Namun bagi Amerika Serikat, kehadiran J-20 tetap jadi perhatian besar. Laman SCMP, Desember 2018, menulis Angkatan Udara AS membuat replika skala penuh dari jet tempur China untuk digunakan dalam pelatihan pasukan mereka.

Menurut sumber-sumber resmi militer AS, ada kekhawatiran Washington terhadap kekuatan tempur Asia yang semakin meningkat.

Baca Juga:  Inggris Tes Sistem Rudal Land Ceptor Senilai 4,6 Triliun Rupiah

Kolonel Emmanuel Haldopoulos, komandan ADC, mengatakan mock-up adalah replika skala penuh dan berada di Air Dominance Center untuk waktu yang singkat. “Dari 4-6 Desember. Korps Marinir AS yang mendanai dan mengarahkan tujuan pelatihan perangkat ini,” katanya, menambahkan bahwa replika akan digunakan untuk pelatihan darat.

Pelatihan dan Pendidikan Komando Korps Marinir (TECOM) dikutip dalam sebuah pernyataan yang diterbitkan oleh surat kabar militer Marine Corps Times, mengatakan bahwa replika itu diminta oleh Kantor Manajemen Sistem Ancaman Angkatan Darat untuk beberapa pangkalan Korps Marinir. Replika ini dibuat oleh kontraktor di LaGrange.

J-20 adalah pesawat siluman generasi kelima China yang pertama kali diluncurkan pada 2011. Pesawat ini dianggap sebagai pesaing langsung bagi pesawat tempur siluman F-35 Amerika Serikat.

TECOM mengatakan replika J-20 digunakan dalam berbagai percobaan dan pelatihan militer di pangkalan Savannah.

Namun, prototipe belum dirancang untuk pelatihan penerbangan, seperti pertempuran udara, katanya.

Mesin tempur siluman J-20 tidak muncul dalam pameran udara Zhuhai setelah gagal dalam uji coba. Di masa lalu, pelatih militer sering menggunakan pesawat dari armada mereka sendiri yang memiliki kemampuan serupa dengan model musuh untuk mensimulasikan pertempuran.

Di era Soviet, Sekolah Senjata Angkatan Laut AS menggunakan A-4 Skyhawk untuk mensimulasikan berbagai jet tempur Soviet, sementara F-5E sebagai pengganti untuk MiG-21.

Angkatan Udara China, dan khususnya J-20, dinila sebagai ancaman besar, kata para ahli. Sebuah laporan berjudul “Perkembangan Militer dan Keamanan yang Melibatkan Republik Rakyat China 2018” membahas kemampuan dan keunggulan teknis J-20.

Baca Juga:  Senat Amerika Larang Penjualan Pesawat F-35 ke Turki

“J-20 mungkin telah memulai layanan aktif dalam jumlah kecil, mungkin dengan unit uji dan pelatihan. Jangkauan rudal udara-ke-udara sejauh 300 km, ” tulis laporan itu, dan menambahkan bahwa peningkatan berkelanjutan China terhadap armada pembomnya akan memberikan kemampuan untuk membawa rudal jelajah jarak jauh

Sean King, mantan diplomat AS yang sekarang wakil presiden senior dari perusahaan strategi politik Park Strategies, mengatakan bukan lagi rahasia bahwa prioritas strategis Washington telah bergeser dari Moskow ke Beijing.


“Mock-up J-20 itu berbicara pada fakta bahwa daratan China adalah saingan strategis utama AS. Saya akan mengatakan Beijing sebagai saingan utama negara kita,” katanya. “Konflik sama sekali tidak bisa dihindari, tetapi selalu lebih baik untuk dipersiapkan.”

Sumber:tempo.co

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan