Amerika Coba Halangi Transaksi Sukhoi Su-30 Antara Myanmar dan Rusia

Sukhoi Su-30MK2 milik Uganda. Foto: Wikipedia

Rencana transaki pembelian 6 pesawat tempur Sukhpi Su-30 oleh Myanmar dari Rusia, sedang diganggun oleh Amerika Serikat. AS meminta Rusia bepikir ulang soal kesepakatan untuk memasok enam pesawat jet tempur Su-30 kepada Myanmar.

Dengan alasan, Myanmar sedang melakukan kejahatan HAM terhadap minoritas Rohingya.

Seperti yang diberitakan kemarin, setelah kunjungan diplomatik Menteri Pertahanan Rusia ke Myanmar, negeri Aung San Suu Kyi tersebut berencana untuk membeli enam pesawat jet tempur Su-30 dan alutsista lainya dari Rusia untuk angkatan darat dan angkatan lautnya.


”Kami telah melihat beberapa laporan media yang mengganggu bahwa Rusia bermaksud untuk menjual jet tempur Su-30 ke angkatan bersenjata Burma,” kata juru bicara Departemen Luar Negeri AS Heather Nauert dalam sebuah konferensi pers.

”Laporan tersebut, jika dikonfirmasi, menjadi pengingat lain upaya terus-menerus Rusia untuk mempersenjatai militer yang secara mencolok melanggar hak asasi manusia,” ujar Nauert, yang dikutip dari Reuters, Sabtu (27/1/2018).

Nauert merujuk pada perlakuan militer Myanmar terhadap minoritas Muslim Rohingya di negara bagian Rakhine. Kekerasan oleh tentara Myanmar itu telah mendorong sekitar 680.000 warga Rohingya eksodus ke Bangladesh.

”Sementara Federasi Rusia mengatakan bahwa mereka mendukung dialog yang konstruktif untuk menyelesaikan krisis di Burma, laporan rencana untuk menjual teknologi militer yang canggih, jika benar, menunjukkan sebaliknya,” kata Nauert.


”Kami mendesak pemerintah Rusia dan Burma untuk mempertimbangkan kembali penumpukan senjata lebih lanjut dan sepenuhnya berusaha keras untuk menemukan solusi yang damai dan stabil terhadap krisis tersebut,” imbuh diplomat AS itu.

Baca Juga:  Amerika Jual Rudal Javelin ke Ukraina, Tensi Rusia Bisa Meningkat

Tentara Myanmar melakukan operasi militer di bagian utara Negara Bagian Rakhine pada tahun lalu sebagai respons atas serangan militan terhadap pasukan keamanan.

AS sebelumnya mendesak negara-negara lain untuk menunda penjualan senjata ke Myanmar sebagai tanggapan atas tindakan keras militer negara itu terhadap minoritas Rohingya.

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan