Amerika Kembangkan Peluru Dengan Kecerdasan Buatan Mampu Cari Sasaran Sendiri

Departemen Pertahanan Amerika Serikat (AS), Pentagon, dikabarkan sedang mengembangkan peluru yang dilengkapi dengan kecerdesan buatan (artifisial intelean) yang mampu mengejar dan mencari sasaranya sendiri.

Pentagon dikabarkan telah menghabiskan dana hingga puluhan juta dollar AS untuk mengembangkan senjata dengan sistem kecerdasan buatan (AI) itu.

Dikutip dari The Sun, amunisi yang dikendalikan AI akan dapat secara otomatis menemukan serta menghancurkan target, seperti tank atau kendaraan lapis baja milik musuh.

Sistem Meriam Peluncur Amunisi Efek Area (C-DAEM) itu disebut bakal menggantikan sistem persenjataan yang lawas yang kerap meninggalkan bom yang tidak meledak di medan perang.


Sistem canggih itu dirancang untuk dapat mencari target, bahkan dalam situasi di mana sinyal GPS terganggu dan menyebabkan lokasi musuh tidak diketahui.

Selain itu, sistem C-DAEM disebut mampu mencapai target bergerak, sesuatu yang belum pernah dapat dilakukan menggunakan peluru artileri saat ini.

“Senjata-senjata tersebut akan memiliki jangkauan hingga 60 kilometer dan akan dapat melakukan pencarian di area seluas lebih dari 28 kilometer persegi untuk target sasarannya,” tulis laporan New Scientist, dikutip The Sun, Jumat (16/8/2019).

“Sistem itu akan memiliki metode untuk memperlambat laju, seperti parasut atau sayap kecil, yang akan digunakan saat memindai dan mengklasifikasikan objek di bawahnya,” tambah laporan tersebut.


Juga dilaporkan bahwa sistem persenjataan mutakhir itu akan siap digunakan dalam medan perang pada 2020 mendatang.

Baca Juga:  MiG-35 Akan Bergabung di Garis Depan Rusia

Sementara untuk amunisi yang digunakan bakal jauh berbeda dengan amunisi artileri (DPICM) yang telah diperkenalkan oleh Angkatan Darat AS pada 1980-an.

Amunisi DPICM berwujud selongsong tunggal yang diisi dengan puluhan granat atau bom kecil seukuran bola tenis.

Amunisi tersebut dirancang untuk menyebarkan bom-bom kecil di area yang luas di medan perang, sebagai upaya mencapai target sebanyak mungkin.

Meski bom-bom kecil itu sangat efektif, di lain sisi juga bisa berubah berbahaya bagi warga sipil lama setelah perang usai.

Kini, pihak militer akan menggantikan bom yang ketinggalan zaman itu dengan amunisi artileri yang dilengkapi kemampuan mencari target musun sendiri

Sumber: kompas.com

1 Komentar

  1. waxaxaxaaaaaa….ironis… kita bahkan roket juga masih jadi roket belum bisa berkembang kepeluru kendali(rudal)…negara lain malah peluru jadi punya kendali sendiri….luar biasa….ketertingalan kita dari negara maju cukup jauh bukan dekade lagi tapi abad….harus cari jalan pintasan agar lompatan tehnologi setidaknya mendekati walau belum bisa bersaing…!!!
    percepatan butuh sumber daya…baik manusia maupun dana…kesuksesan cina jadi satu contohnya…diera 80an….siapa yang angap cina penting….apa lagi mampu bersaing dengan negara maju…bahkan kita melebihi cina dalam perkembangan dan pertumbuhan….baik dari ekonomi maupun tehnologi….tapi liat sekarang….jauh bila disandingkan….!!!
    langkah cina berkesinambungan baik dalam segala hal…terutama hukum dan pendidikan….jadi prioritas utama….selagi birokrasi masih dihingapi penyakit korupsi….maka selamanya jalan ditempat bahkan mundur seperti era 90an yang menghilangkan kita dari peta persaingan negara negara berkembang….karna pesaing sudah jauh didepan….contoh korsel.cina.india.brazilia.bahkan africa selatan…..!!!

Tinggalkan Balasan