Amerika Kembangkan Senjata Laser Pembuta Pesawat Musuh Seharga 13Triliun

Militer Amerika Serikat (AS) sedang mengembangkan senjata laser bertenaga tinggi untuk membuat pesawat mata-mata musuh menjadi buta. Raksasa pertahanan Lockheed Martin telah menyerahkan kontrak dengan total nilai hampir USD1 miliar (hampir Rp13,7 triliun) untuk proyek senjata ini.

Program HELIOS (High Energy Laser and Integrated Optical-dazzler with Surveillance) mengerjakan dua laser raksasa yang dibangun pada tahun 2020. Senjata laser ini dirancang untuk melawan pesawat pengintai tak berawak musuh dengan membutakan kamera target.

Satu senjata laser akan diuji coba di kapal perang jenis perusak Arley Burke-class Angkatan Laut AS. Satu senjata lainnya akan dipasang di White Sands Missile Range di New Mexico.

Sistem ini juga akan melacak kamera dan sensor untuk mendeteksi pesawat musuh, yang berpotensi menlumpuhkan teknologi radar stealth yang digunakan pada pesawat tempur generasi kelima seperti jet tempur F-35 Lightning II milik Lockheed Martin.

Menurut Lockheed Martin, nilai proyek dari program HELIOS mencapai USD942. Kesepakatan untuk pengembangan senjata eksperimental tersebut diumumkan pada hari Kamis.


Pada hari yang sama, Presiden Rusia Vladimir Putin mengungkapkan senjata baru revolusioner yang sedang dikembangkan di Rusia, termasuk senjata laser dan rudal hipersonik yang diklaim tak bisa dicegat sistem pertahanan udara manapun di dunia.


“Membangun senjata laser adalah momen arus balik untuk energi yang diarahkan,” kata senior fellow Lockheed Martin, Rob Afzal, seperti dikutip Bloomberg, Minggu (4/3/2018).

Baca Juga:  Tor-E2 Sistem Rudal Arhanud Buatan Rusia Tapi Pro Barat

”Sistem senjata laser telah dikehendaki selama puluhan tahun,” ujarnya.

Wakil Presiden Lockheed Martin Michele Evans, yang juga menjabat sebagai manajer umum divisi Integrated Warfare Systems and Sensors, mengatakan HELIOS menggabungkan kemampuan senjata, intelijen, pengawasan dan pengintaian (ISR) dan kemampuan melawan kendaraan tak berawak (UAS).

AS selama ini dipandang sebagai pemimpin dalam hal teknologi kendaraan tempur tak berawak (UCAV), dan secara kontroversial menggunakan pesawat tempur nirawak untuk mengeksekusi tersangka teroris, termasuk warga AS di negara lain, tanpa persetujuan pemerintah setempat. (sindonews.com)

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan