Amerika Ralat dan Rahasiakan Pihak Yang Merudal Kapal Perangnya di Yaman

Kantor pusat pertahanan Amerika Serikat (AS) Pentagon, secara mengejutkan menolak merilis investigasinya terkait insiden penembakan rudal kapal perang (AS) di Yaman. AS juga tak menyebutkan pihak mana yang menembakkan rudal dengan target kapal perang perusak Amerika Serikat (AS) USS Mason (DDG-87) yang ditembakkan dari wilayah Yaman. 

Masalahnya, AS sebelumnya telah dengan yakin menyebut pemberontak Houthi sebagai pelakunya dan telah mengambil tindakan hukuman dengan  menghancurkan tiga situs radar Houthi dengan rudal Tomahawk. Banyak pihak lalu menduga bahwa serangan rudal itu flase flag dari pasukan Koalisi Arab.
Pasukan Koalisi Arab memang sedang kehilangan simpati akibat menyerang pada target warga sipil Syiah Yaman dalam sebuah acara prosesi pemakanan. Akibatnya 105 warga sipil tewas.

Kapal USS Mason (DDG-87) yang berlayar di lepas Pantai Yaman, Laut Merah sudah dua kali jadi target serangan rudal dari arah Yaman. Serangan pertama terjadi pada Sabtu dua pekan lalu dan serangan kedua pada Kamis pekan lalu.

”Kami masih menilai situasi. Masih ada beberapa aspek bahwa kami mencoba untuk mengklarifikasi di mana kami diberikan ancaman. Potensi ancaman terhadap untuk orang-orang kami,” kata juru bicara Pentagon, Peter Cook, pada konferensi pers hari Senin, tanpa bersedia mengungkap pelaku penyerang kapal USS Mason, seperti dikutip Reuters, Selasa (18/10/2016).


Kelompok Houthi sudah berkali-kali membantah sebagai pelaku penembak rudal terhadap kapal USS Mason (DDG-87). Houthi sendiri masih marah setelah prosesi pemakaman kelompoknya diserang Koalisi Arab dengan korban tewas sekitar 140 orang.

Baca Juga:  SSV Pesanan Filipina Kedua, BRP Davao Del Sur Hampir Selesai Dibuat PT. PAL

Arab Saudi sebagai pemimpin Koalisi Arab semula menyangkal bahwa koalisi sebagai penyerang acara pemakaman kelompok Houthi di Sanaa. Namun, kemarin Saudi akhirnya mengakui bahwa koalisi yang melakukan serangan dengan klaim tidak sengaja.


AS telah mengecam serangan terhadap acara pemakaman kelompok Houthi dengan menyebutnya sebagai serangan “mengerikan”. AS juga berjanji untuk meninjau ulang bantuan militer AS kepada Koalisi Arab, meski realisasinya hingga kini belum jelas. (reuters).

Advertisements

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan