Amerika Sebut Serangan Cyber dari Korea Utara Lebih Berbahaya Daripada Dari Rusia

Korea Utara negara tertutup ini sering diidentikkan dengan negara tertinggal secara teknologi maupun alat utama sistem senjatanya. Namun faktanya, serangan siber dari Korea Utara telah merepotkan bagi Amerika Serikat (AS).

Hal itu diungkapkan oleh Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Mike Pompeo, bahwa warga Korea Utara secara konsisten mencoba meretas pusat data AS demi informasi rahasia. Pompeo menganggap Korea Utara lebih mengancam daripada Rusia dalam hal keamanan siber. Dalam wawancaranya dengan radio AS Breitbart News hari Senin (14/12).

“Ini adalah pertarungan yang berkelanjutan, perjuangan berkelanjutan untuk menjaga keamanan sistem kami,” ungkap Pompeo dalam wawancaranya

Selain militer, sasaran utama para peretas siber dari Korea Utara adalah dunia perbankan AS dengan tujuan pencurian uang.

Upaya peretasan dengan tujuan uang ini turut diamini oleh asisten jaksa agung keamanan nasional AS John Demers. Menurutnya, upaya Korea Utara untuk mendapatkan uang ini terbilang unik dan berbeda dari negara lain.

“Hal itu tidak dilakukan oleh peretas musuh AS dari China atau Rusia, atau bahkan Iran. Korea Utara agak unik dalam hal itu (peretasan),” ungkap Demers.

Media asal Korea, Yonhap melaporkan bahwa Korea Utara saat ini mengklaim memiliki lebih dari 6.000 peretas terlatih yang sebagian besar tinggal di negara lain, termasuk China dan Rusia.

Secara struktur militer, Korea Utara memiliki agen Biro 121 adalah agen khusus perang dunia maya Korea Utara, yang merupakan bagian dari Biro Umum Pengintaian militer Korea Utara yang disebut Reconnaissance General Bureau (RGB) berdiri tahun 1998.

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan