Amerika Serikat Menyerah Pada Turki dan Erdogan, Ini Penyebabnya

Biden membungkuk pada Erdogan. © Kayhan Ozer, AFP

Obama secara khusus mengutus Wakil Presiden AS Joe Biden untuk meredakan ketegangan antara Turki dan Amerika Serikat pasca upaya kudeta yang gagal.

Biden tiba di ibukota Ankara pada Rabu (24/8), menyatakan dukungan bagi pemerintah Turki yang terpilih secara demokratis, memuji tekad rakyat Turki dalam melindungi demokrasi dan menekankan bahwa AS akan terus bekerja sama dengan Turki mengenai ekstradisi Fetullah Gulen, dalang kudeta yang gagal pada 15 Juli.

Bukan hal aneh jika Amerika memilih menurut kepada Turki dan Erdogan. Turki adalah importir senjata nomer 3 di dunia setelah Arab Saudi dan India. India jelas lebih banyak berkiblat pada Rusia, walau dalam beberapa tahun terakhir mulai bertransaksi dengan Amerika dalam jumlah kecil.

Sedangkan Arab Saudi, sebagai pengimpor senjata terbesar di dunia dari Amerika, mulai melirik persenjataan Rusia untuk mengisi Arsenalnya. 

Walhasil tersisa Turki yang masih setia sebagai pelanggan senjata asal Amerika. Karena secara historis, hubungan Turki dan Rusia selalu bermusuhan.


Semua berubah saat upaya kudeta 15 Juli lalu. Erdogan menuding Abdullah Gul yang sekarang bersuaka di Amerika sebagai dalangnya. Dia dengan lantang mengancam siap memutus hubungan militer dengan Amerika Serikat. Obama sendiri sempat pongah menanggapi ancaman Turki.

Lalu tiba-tiba Presiden Rusia, Putin mengundang Erdogan ke Rusia untuk melupakan segala permusuhan, termasuk insiden penembakan Mig29 oleh AU Turki. Ada 3 hal penting yang dibicarakan


1. Rusia mengajak Turki membentuk aliansi pertahanan bersama guna menandingi NATO.

2. Rusia mengajak Turki membangun Syiria yang baru tanpa Bashar Assad. Isu ini didengar Iran yang langsung mengusir jet-jet temput Rusia dari Pangkalan Udara Iran.

3. Rusia siap menalangi kevakuman senjata dari Amerika dan melakukan Transfer teknologi dalam bidang teknologi militer tanpa batas.

Jika akhirnya aliansi Turki-Rusia terwujud, Uni Eropa yang baru saja kehilangan Inggris bisa runtuh. Ekonomi Turki yang nomer 2 di Eropa, bisa menyembuhkan krisis ekonomi Rusia akibat embargo. Gabungan keduanya bisa menarik negara-negara anggota UE yang lagi sakit untuk bergabung membentuk Pakta Warsawa baru.

Dengan pasokan energi minyak tanpa batas dari Syiria, Aliansi itu bisa melejit jadi adidaya baru di Eropa.  

Amerika jelas harus berhitung lagi melihat ancaman Turki yang disokong Rusia ini. Seorang Abdullah Gullen tak berarti apa-apa bagi Amerika daripada sekutu paling strategis berubah menjadi ancaman paling potensial.

“Kami bekerja sama dengan pihak berwenang Turki. Sekarang ahli hukum kami bekerja dengan rekan-rekan mereka di Turki dalam menghasilkan dan mengevaluasi bahan dan bukti yang perlu diberikan ke pengadilan AS, yang diwajibkan oleh hukum kami dalam perjanjian Ektradisi tersangka dalang kudeta,” kata Biden dalam konferensi persnya di Turki.

Advertisements

1 Komentar

  1. hoam, saudi beli senjata rusia hanya kepanjangan tangan amerika. dibeli setelah itu di beri keamerika supaya dipreteli. krn rusia punya senjata tangguh

Tinggalkan Balasan