Amerika Uji Coba Bom Cluster Generasi Terbaru BLU-136

Bom Cluster atau bom curah atau Bom Tanda adalah munisi yang dijatuhkan ke tanah dari udara dalam bentuk submunisi. Bom ini digunakan untuk membunuh personel musuh dan menghancurkan kendaraan dengan sasaran area yang luas.

Penggunaan Bom ini sendiri masih menjadi perdebatan dan dipertentangkan terutama oleh aktifis HAM karena efeknya yang tanpa ampun dan meninggalkan banyak sisa bom yang tidak meledak kemudian menjadi bom yg bisa meledak sewaktu-waktu.

Namun tak menghalangi Amerika Serikat untuk menciptakan generasi terbaru dari Bom ini yang diberi nama BLU-136 NGAAW (Next Generation Area Attack Weapon).

Tanggal 8-24 Juli 2020, Skuadron 28th Test and Evaluation telah melaksanakan Force Development Evaluation untuk menguji BLU-136 NGAAW (Next Generation Area Attack Weapon) secara operasional di Nellis Test and Training Range. FDE terdiri dari rangkaian tujuh misi yang dijalankan oleh 422nd Test and Evaluation Squadron.

Dalam FDE tersebut, sepuluh BLU-136 dijatuhkan dari F-16 Fighting Falcon dengan tujuan mengumpulkan data mengenai performa operasional munisi tersebut, terutama terkait area ledakan dan kerusakan dari fragmentasi. Data yang dikumpulkan akan berguna untuk menentukan apakah BLU-136 dapat menggantikan cluster bomb yang dimiliki USAF.

Pelaksanaan FDE membuktikan bahwa BLU-136 sangat efektif dalam peran area denial, serta efektif melawan kendaraan ringan, struktur ringan dan juga personnel. BLU-136 juga mampu menimbulkan kerusakan dari fragmentasi terhadap peralatan maupun personnel lawan dengan radius lebih dari 225 kaki. Rangkaian uji coba berjalan dengan lancar karena kesepuluh senjata berfungsi sebagaimana seharusnya, dan berhasil memenuhi ataupun melebihi semua ketentuan yang ditetapkan.

Baca Juga:  Amerika Coba Halangi Transaksi Sukhoi Su-30 Antara Myanmar dan Rusia

BLU-136 memiliki bomb body kelas 2,000 pon yang serupa dengan BLU-109, dan ketika dipasangkan dengan JDAM kit, designasi BLU-136 berubah menjadi GBU-31v11. Pemasangan senjata maupun pelepasan BLU-136/GBU-31v11 tidak berbeda dengan serial JDAM lainnya.

BLU-136 merupakan cast ductile iron bomb yang bersifat brittle, sehingga akan menyerpih secara seragam. Senjata ini menghujani lawan dengan serpihan metal, sehingga menjadi alternatif dengan resiko yang lebih kecil ketimbang cluster bomb. Pemakaian cluster bomb oleh militer sudah lama menjadi kontroversi karena adanya dud rate dari submunisi yang dicurahkan, dimana munisi yang tidak langsung meledak akan menjadi UXO (unexploded ordnance) di lokasi penjatuhan cluster bomb, yang menimbulkan resiko terhadap populasi sipil pasca konflik. Negara-negara yang berkeberatan atas pemakaian cluster bomb menyusun perjanjian internasional bernama Convention on Cluster Munitions yang membatasi produksi, transfer, serta penggunaan cluster bom.

US tidak ikut serta dalam perjanjian ini, namun menargetkan pada tahun 2008 bahwa cluster bomb yang mereka gunakan selepas tahun 2018 harus memiliki dud rate di medan perang sebesar kurang dari 1 %. Tahun 2017, US Department of Defense membatalkan kebijakan 2008 tersebut dengan kebijakan baru yang menegaskan bahwa tidak ada deadline yang ditetapkan, dan militer US masih akan menggunakan cluster bomb yang sekarang ada di inventori aktif hingga kapabilitas yang mereka sediakan dapat diganti oleh munisi-munisi baru yang lebih bisa diandalkan.

Baca Juga:  Pesawat Militer Rusia Terbang Rendah di Atas Kapal Perang AS

Sumber: Lighting II Chan-Hex

accafmil/News/Article-Display/Article/2328515/28-tes-conducts-successful-tests-of-blu-136-bomb/

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan