Anggaran TNI Paling Kecil di ASEAN

Sejak dibentuk tahun 1945, TNI selalu mendapat anggaran belanja yang kecil. Kurang dari 2% Produk Domestik Bruto. Demikian kata pengamat militer Universitas Pertahanan, Muradi.

“Anggaran TNI dari dulu memang tidak ideal. Saat ini masih 0,8 atau 0,9 persen dari PDB,” ujar Muradi kepada CNNIndonesia, kemarin.

Muradi mengatakan, minimnya anggaran mempengaruhi tugas TNI dalam menjaga kedaulatan dan wibawa negara di mata dunia.

Berdasarkan data yang dihimpun, proyeksi anggaran TNI untuk tahun 2017 hingga 2019 mengalami peningkatan, yakni Rp148,5 trilliun (2017), Rp169,8 triliun (2018), dan Rp193,3 triliun (2019). Namun dalam realisasinya tak pernah segitu, ambil contoh tahun 2017 ini, yang diproyeksikan 148T namun nyatanya hanya cair 108 Trilliun Rupiah.

Anggaran di TNI dialokasikan ke beberapa sektor, seperti untuk membeli kendaraan tempur, pesawat, senjata, membangun pengkalan, hingga gaji personel.

“Kalau mau bandingkan dengan negara lain kita masih kalah dari Malayasia dan Vietnam. Anggaran, selain pada kesiapan uang negara juga dipengaruhi persepsi ancaman. Sampai ini kita belum dapat memprediksi ancaman dalam bentuk lebih ril,” ujarnya.

Meski masih belum ideal, Muradi mengaku optimistis Presiden Joko Widodo secara bertahap akan merealisasikan janjinya memberi anggaran kepada TNI sebesar 1,5 persen dari PDB negara pada tahun 2019. 

“2 persen PDB bukan angka yang kecil. Mungkin Jokowi akan bertahap sesuai janjinya periode pertama akan memberi anggaran 1,5 persen PDB kepada TNI,” ujarnya.

Baca Juga:  Panglima TNI : Prajurit Harus Jaga Kepercayaan Rakyat

Berikut ininperbandingan anggaran militer negara ASEAN dengan rasio PDB, tampak Indonesia yang paling kecil.


Sumber: CNN Indonesia

Advertisements

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan