Angkat Senjata, Warga Rohingya Memilih Mati Sebagai Pejuang Daripada Pengungsi

Video deklarasi perang warga Rohingya, sayangnya video tersebut sudah dihapus dari twitter. Foto: dailymotion

Warga suku etnis Rohingya akhirnya memilih mengangkat senjata melawan pembersihan etnis yang dilakukan oleh pemerintah Myanmar. Ini adalah pilihan yang masuk akal daripada mati perlahan-lahan terapung di lautan dalam kapal pengungsi. Lebih baik mati dalam perjuangan di tanah air sendiri.

Pemimpin gerakan ini adalah Attaullah Abu Ammar Jununi, komandan gerakan Tentara Pembebasan Arakan, Harakah al-Yaqin. Tentu saja kelompok yang disebut teroris oleh pemerintah Myanmar.

“Assalamualaikum, saya Attaullah Abu Ammar Jununi, komandan gerakan Arakan Rohingya Salvation Army (ARSA), Tentara Pembebasan Arakan,” kata Attaulah melalui video dalam akun Twitter kelompok itu yang diterbitkan Senin (28/08).

Kelompok International Crisis Group menyebutkan  Attaullah lahir dari orang tua Rohingya di Karachi, Pakistan dan dibesarkan di Mekah, Arab Saudi. Dia meninggalkan segala kekayaanya di Saudi untuk membangkitkan semangat jihad warga Rohingya daripada mati sia-sia di lautan.

“75 tahun telah berlalu dan berbagai kejahatan dilakukan terhadap Rohingnya yang bertahan… karena itulah kami melakukan serangan pada 9 Oktober 2016 untuk menegaskan bahwa bila kekerasan tak dihentikan kami berhak untuk membela,” kata Attaullah dalam video yang sempat  beredar di Twitter tapi kemudian dihapus twitter.

ARSA memiliki senjata yang masih minimalis. Dalam tangkapan foto dan rekaman video ekan lalu menunjukkan mereka sebagian besar masih menggunakan pedang, panah dan bom rakitan sederana. Dengan kekuatan hanya 300-500 orang dan namun jumlah anggota ARSA pesat meningkat dalam beberapa bulan ini.

Baca Juga:  Israel Hampir Tembak Pesawat Tempur Rusia Dua Kali

Militer Myanmar sendiri sejak era Junta Militer sudah terbiasa meladeni perang gerilya melawan suku-suku minoritas. Di antaranya yang paling lama adalah melawan Suku Keken di perbatasan Laos.

Warga Rohingya sekarang punya pilihan, mati sebagai pengungsi atau mati sebagai pejuang. Foto: Reuters

Namun khusus untuk ARSA/Rohingya ini mereka patut waspada. Dengan simpati pada penderitaan Rohingya, bukan tidak mungkin uang dan senjata akan mengalir deras ke ARSA dari kekayaan orang-orang Islam di penjuru dunia.

Perang ini bisa sangat lama dan menguras ekonomi Myanmar yang mulai menggeliat. Indonesia saja waktu bertahun-tahun menumpas Gerakan Aceh Merdeka. Padahal wilayah Aceh terisolir tanpa perbatasan darat dengan negara lain. Sedangkan wilayah Arakan memiliki perbatasan langsung dengan Bangladesh dan India.

Dengan jumlah etnis Rohingya yang mencapai 1,1juta jiwa. Mereka berpotensi memiliki angkatan bersenjata mencapai 100.000jiwa pemuda. Apalagi dengan status “tanpa negara” jiwa siap mati mereka akan sama dengan orang-orang Kurdi di Timur Tengah yang akhirnya bisa “menang” melawan Irak, Turki dan Suriah.


Myanmar sendiri memiliki gunung emas yang selalu diincar Amerika Serikat sejak berakhirnya perang dunia ke-2. Apakah akan sama dengan Freeport jilid II. Entahlah.

Kebangkitan PAN Islamisme di ASEAN

Kebangkitan militer Rohingya ini bisa mengancam stabilitas keamanan negara-negara di ASEAN terutama di negara-negara yang Islam menjadi minoritas seperti Thailand dan Filipina. Semangat PAN Islamisme yang belum pernah muncul juga bisa bangkit di ASEAN.

Baca Juga:  KSAU AS Marsekal David L. Goldfein Jajal Jet Tempur Tejas Buatan India

 


 

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan