Apa Yang Ditakuti Rusia Dari Sistem Anti Rudal Amerika RIM-161 SM-3

Kenapa Rusia begitu panik​ dengan Sistem Pertahanan Rudal RIM-161 (SM-3) milik Amerika Serikat (AS) yang diparkir di Polandia? Seberapa hebatkah rudal pertahanan ini.

Ternyata sistem pertahanan rudal Aegis RIM-161 (SM-3) ditempatkan di area stasiun peluncuran universal, yang memungkinkan pemasangan dan peluncuran rudal jelajah AS Tomahawk dengan hulu ledak biasa.

“Anda tak perlu menjadi pakar untuk membedakan RIM-161 (SM-3) dari Tomahawk,” kata narasumber dari industri militer Rusia.


Kedua, seberapa hebat sistem pertahanan udara tersebut  dalam melumpuhkan Rudal Balistik Rusia?
Kementerian Pertahanan Rusia menyatakan bahwa sistem pertahanan anti-rudal AS di Eropa mampu menembak jatuh rudal balistik milik Rusia di area awal lintasan mereka.

Perisai rudal pertahanan Aegis RIM-161 (SM-3) AS di Polandia dan Rumania mampu mencegat rudal balistik antar benua (ICBM) dan rudal balistik kapal selam tak hanya di tengah lintasan, seperti yang diklaim AS, tapi juga di wilayah awal lintasan penerbangan. 

Perwakilan Staf Jenderal Kementerian Pertahanan Rusia menyatakan hal tersebut pada 11 Oktober lalu setelah melakukan pemodelan ulang mengenai kemungkinan tempur sistem pertahanan rudal AS di Eropa.

Militer China menyimpulkan hal senada terkait sistem pertahanan rudal RIM-161 (SM-3) AS. Wakil Direktur Departemen Staf Gabungan Komisi Militer Tengah China Mayor Jenderal Cai Jun menyatakan bahwa sistem pertahanan rudal Amerika di Eropa adalah ancaman langsung bagi keamanan Rusia.

Menurut Kementerian Pertahanan Rusia dan China, kemungkinan dan potensi sistem pertahanan anti-rudal AS yang ditempatkan secara global dan komponen Eropa mereka melebihi kebutuhan pertahanan Washington.

Wakil I Direktur Operasi Utama Staf Jenderal Rusia Letjen Victor Poznikhir menyebutkan bahwa Korea Utara baru mulai menciptakan rudal balistik, sedangkan Iran, yang menurut Washington menjadi alasan penempatan sistem pertahanan mereka di Eropa, tak bisa lagi mengancam Amerika setelah tercapainya kesepakatan baru-baru ini terkait program nuklir Teheran.

“Dengan alasan melawan ‘ancaman rudal’ Korea Utara dan Iran, AS menempatkan sistem yang sesunguhnya hendak menangkis rudal Rusia dan China,” terang Poznikhir.


Namun, beberapa pakar militer Rusia tak berpandangan sama dengan Kementerian pertahanan  Rusia. Secara khusus, akademikus dari Akademi Ilmu Pengetahuan Rusia (RAN) sekaligus Direktur Pusat Keamanan Internasional di Institut Ekonomi Dunia dan Hubungan Internasional Alexei Arbatov yakin bahwa proses pemodelan ulang tak pernah terjadi.


“Ini adalah aksi saling tuduh lain secara politis antara Rusia dan Barat,” katanya pada penulis. Menurut Arbatov, sistem pertahanan rudal AS di Polandia dan Rumania tak membatasi potensi nuklir Rusia.

“Sistem yang ditempatkan bukan sistem pertahanan paling canggih. Jika terjadi konflik, mereka tak akan bisa mencegat rudal balistik antar benua Rusia, yang bisa terbang hingga ke Kutub Utara baik dengan kecepatan maupun jangkauan pencegatan mereka,” tambah Arbatov.
Pakar militer dari surat kabar Izvestia Dmitri Litovkin sepakat dengan Arbatov.

 “Di tahap teknologi ini, sistem pertahanan rudal Amerika di Eropa tak secara khusus menjadi ancaman bagi armada nuklir Rusia. Fase aktif (utama) penerbangan rudal Topol-M dan Yars kurang dari lima menit. Saat ini, sangat mustahil (bagi rudal AS) untuk menghantam target terdekatnya, yaitu markas ICBM di Saratov Oblast (835 km di selatan Moskow), dengan sebuah rudal anti-rudal dari Polandia dalam rentang waktu ini,” kata Litovkin menjelaskan.

Tuduhan dari militer Rusia muncul beberapa hari setelah NATO menyebut Moskow meningkatkan ketegangan dengan aliansi pada 9 Oktober lalu. Secara khusus, tuduhan NATO berkaitan dengan penempatan sistem rudal Iskander-M Rusia, yang dapat meluncurkan hulu ledak nuklir, di Kaliningrad Oblast. Alexei Arbatov menilai bahwa pernyataan Staf Jenderal Rusia merupakan respons politik atas kritik NATO. (TSM/ruskarec.ru)

Advertisements

4 Komentar

  1. Mudah2an perang segera dimulai, karena tanpa perang dunia tak akan pernah damai.
    istilah jawanya Perang brontoyudo Joyo binangun. “”Kejayaan akan dibangun sesudah perang besar””

Tinggalkan Balasan