Apakah Kapal Perang Bisa Bertempur Saat Badai Di Laut

Apakah kapal perang masih bisa bertempur di laut saat terjadi badai? Jawabannya dapat berbeda untuk kapal perang di permukaan laut dan kapal perang selam.

Kapal permukaan tidak akan mampu bertempur dan harus menghindar dari siklon. Ini karena kapal permukaan benar-benar terpengaruh oleh siklon. Sejarah mencatat beberapa kejadian dimana angkatan-angkatan laut menjadi korban dari siklon, misalnya The Fourth Fleet incident tahun 1935 dimana 4th Fleet IJN terjebak dalam taifun saat menjalankan latihan dan bagian haluan dua Special Type destroyer yaitu Yugiri dan Hatsuyuki, terlepas dari kapal.

Sembilan tahun kemudian, Typhoon Cobra menghajar 3rd Fleet US Navy dan menyebabkan karamnya 3 destroyer serta rusaknya kapal-kapal lain termasuk destroyer escort, battleship, escort carrier, light carrier dan cruiser. Jaman sekarang, terdapat jaringan pengumpulan informasi meteorologi dan ramalan cuaca yang dapat dimanfaatkan oleh militer untuk membantu kapal-kapal mereka menghindari cuaca buruk.

Bagaimana keadaan di atas kapal dalam kondisi cuaca buruk? Lebih kecil kapalnya, lebih sengsara awaknya, namun yang jelas seisi kapal harus fokus bertempur melawan kondisi alam ketimbang bertempur melawan kapal musuh. Bahkan kapal induk yang berukuran besar pun masih dapat diombang-ambing seperti di video ini:

Untuk berjalan di kapal dalam kondisi cuaca buruk saja, awak harus berhati-hati agar tidak terluka. Awak dapat terlempar oleh goyangan kapal dan akan ada yang mengalami mabuk laut. Kapal induk tidak akan mampu melakukan operasi penerbangan. Semua aset udara di atas kapal harus diamankan dan palka-palka harus ditutup. Kapal induk yang tingginya bisa mencapai 60 kaki pun dapat membelah ombak, sedangkan ombak dalam sebuah topan dapat mencapai 90 kaki
(https://www.livescience.com/364-hurricane-waves-soared-100-feet.html).

Baca Juga:  Rusia Kembangkan Panser Khusus Bagi Pasukan Lintas Udara

Sebuah misil anti-kapal sea-skimming tidak akan bisa bekerja dalam kondisi yang seperti itu, ditambah melawan angin berkecepatan 100-200an km/jam.

Namun berbeda dengan kapal selam yang berada di bawah permukaan air. Kapal Selam masih bisa bertempur di walau ada badai. Ini dikarenakan efek gejolak badai di atas permukaan laut akan terasa sedalam hingga sekitar 400 kaki. Selebihnya efek gejolak dari atas tidak akan terasa lagi, kapal selam tidak akan terombang-ambing dengan keras seperti kapal permukaan.


Fenomena ini disebut ‘wave base’ yaitu kedalaman maksimum dimana lewatnya gelombang di permukaan laut menyebabkan gerakan di bawah air. Wave base berukuran setengah dari panjang gelombang dan lebih dari itu, gelombang di permukaan tidak akan lagi terasa (hanya 4% dari nilai di gelombang permukaan.

Tentu, karena kondisi cuaca buruk di permukaan kapal selam akan mengalami kesusahan mendeteksi objek di permukaan karena surface duct yang lebih berisik. Akan tetapi pertempuran kapal selam lawan kapal selam masih dapat dilakukan di kedalaman, tepat di bawah sebuah siklon. Layaknya pertempuran antar kapal selam di bawah es-es Kutub Utara, siklon dapat menjadi ring tinju kapal selam tanpa campur tangan dari MPA maupun kapal permukaan.

SUMBER: -Hex/Lighting Ii Chan

https://en.wikipedia.org/wiki/Typhoon_Cobra


https://en.wikipedia.org/wiki/4th_Fleet_(Imperial_Japanese_Navy)#The_Fourth_Fleet_incident

https://www.quora.com/Is-it-difficult-to-move-about-a-Navy-ship-during-a-storm-Is-it-noticeably-more-challenging-to-perform-duties

https://worldbuilding.stackexchange.com/questions/83139/how-deep-must-a-submarine-dive-to-avoid-megastorms

https://en.wikipedia.org/wiki/Wave_base

1 Komentar

Tinggalkan Balasan