Aung San Suu Kyi Kunjungi Daerah Konflik Rohingya

Aung San Suu Kyi tiba di Sittwe dikawal pasukan keamanan bersenjata. Foto: AFP

Pemimpin de facto Myanmar Aung San Suu Kyi yang juga pernah menerima penghargaan Nobel Perdamaian, dikabarkan tiba di Rakhine untuk pertama kalinya sejak kekerasan meletus di negara bagian itu pada akhir Agustus.

Suu Kyi dikabarkan mengunjungi ibukota Rakhine, Sittwe dan kota-kota lain di negara bagian itu selama satu hari dengan diam-diam tanpa ada pemberitahuan resmi dari pemerintah ataupun upacara khusus menyambutnya.

Aksi Suu Kyi dinilai sebagai jawaban setelah dirinya dikecam di seluruh dunia karena tidak menghentikan aksi militer terhadap Muslim Rohingya, yang dituduh melakukan pembersihan etnis. Padahal dia pernah menerima Nobel Perdamaian.

Sampai saat ini ada sekitar 600.000 orang Rohingya telah melarikan diri dari negara bagian Rakhine ke Bangladesh sejak 25 Agustus.


Kerusuhan terbaru di Rakhine dipicu oleh serangan di kantor-kantor polisi di beberapa lokasi di negara bagian iutu, yang dituduhkan dilakukan oleh kelompok militan yang baru muncul, Tentara Pembebasan Rohingya Arakan (Arsa).

Banyak orang terbunuh dalam aksi militer, dan ada tuduhan luas bahwa desa-desa dibakar dan warga Rohingya terusir.

Militer Myanmar mengatakan operasinya ditujukan untuk membasmi militan, dan berulang kali menyangkal menargetkan warga sipil. Saksi, pengungsi dan wartawan telah memperdebatkan hal ini.

Pada hari Kamis, juru bicara pemerintah Zaw Htay mengatakan kepada AFP bahwa Suu Kyi “sekarang berada di Sittwe dan akan pergi ke Maungdaw dan juga Buthiduang”.

Baca Juga:  Beli Jet Latih Yak-130, Persiapan Laos Membeli Sukhoi Su-30

“Itu merupakan kunjungan sehari saja,” tambahnya.

Tidak jelas apakah Suu Kyi juga akan mengunjungi desa-desa Rohingya, atau hanya desa-desa Hindu dan Budha. saja.

Seorang wartawan Reuters melihat Suu Kyi naik helikopter militer di Sittwe pada Kamis pagi waktu setempat. Dia didampingi sekitar 20 orang.

Suu Kyi baru-baru ini menguraikan sebuah rencana baru untuk mengakhiri konflik dan membangun lebih banyak di Rakhine.

Dia mengatakan hal ini akan dilakukan oleh pemerintah sipil, bekerja sama dengan kelompok bisnis lokal dan donor asing.

Namun, badan bantuan internasional masih belum diizinkan mengakses secara penuh ke daerah-daerah yang terkena kekerasan, kata wartawan BBC Jonathan Head.

Dan belum ada kesepakatan dengan pemerintah Bangladesh mengenai bagaimana cara memulangkan pengungsi Rohingya.

Dalam sebuah pidato pada bulan September, Suu Kyi mengutuk pelanggaran hak asasi – tapi tidak menyalahkan tentara atau mengutarakan tuduhan pembersihan etnis.

Sumber: BBC Indonesia

 

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan