Awak Kapal Selam TNI AL Latihan Penyelamatan Kondisi Darurat

Insiden hilangnya kapal selam Argentina ARA San Juan medio November 2017 menjadi warning bagi armada angkatan laut khususnya kapal bawah permukaan.

Demi meminimalisir risiko korban dalam operasi maupun latihan, Komando Armada Angkatan Timur (Kormatim) menggelar latihan penyelamatan terhadap kapal selam.

Latihan berlangsung mulai 27 November hingga 8 Desember mendatang.

”Tujuannya untuk meningkatkan kemampuan, kesiapan operasional dan keterpaduan unsur-unsur SAR kapal selam. Sekaligus doktrin dalam pelaksanaan operasi penyelamatan kapal selam,” terang Kadispenarmatim Letkol Laut (KH) Suratno kepada awak media.

Beberapa personel yang mengikuti pelatihan itu adalah pengawak dari beberapa alutsista. Di antaranya, KRI Nagapasa-403, satu KRI Kelas SIGMA, satu KRI Kelas Rengat, satu KRI Kelas Rigel, satu heli Panther, dan 1 pesawat udara Cassa. Selasa pagi pengawak tersebut dilatih tactical floor game (TFG) di Pusat Latihan Kapal Perang, Ujung, Surabaya.


Latihan dipimpin langsung oleh Komandan Kapal Selam KRI Nagapasa-403 Letkol Laut (P) Harry Setyawan. Suratno memaparkan, TFG merupakan materi utama sebelum mereka terjun pada latihan lapangan 6-7 Desember mendatang.

Operasi penyelamatan kapal selam ditandai dengan distressed submarine (Dissub). Di mana kapal selam yang mengalami kondisi darurat harus segera berupaya untuk menyelamatkan para awaknya. Penyelamatan harus dilakukan sendiri, untuk mengevakuasi awak kapal selam tanpa bantuan dari luar.


Selain itu, metode penyelamatan lainnya adalah dengan memindahkan awak kapal selam menuju kapal rescue atau recovery. Metode ini menggunakan sarana diving bell. Saat masuk ke kapal recovery, awak kapal selam harus segera mendapat perawatan medis.

Baca Juga:  Yonarmed 11 Kostrad Gelar Latihan Taktis Tingkat Seksi

Suratno melanjutkan, penyelamatan awak kapal selam saat kondisi darurat juga melibatkan escape gear ship (EGS). Kapal tersebut bertugas membawa perlengkapan pendukung SAR. Pada kondisi ini EGS harus sigap dan cepat. Gerak mereka dicatat dalam sebuah kesatuan waktu selama misi penyelamatan.

”Time to first rescue adalah total waktu yang dibutuhkan sejak zero time (dinyatakan dalam kondisi darurat) sampai dengan awak pertama awak pertama yang berhasil diselamatkan,” imbuh Suratno seperti dilansir jawapos.com

Advertisements

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan