Bedanya Perang Gerilya Indonesia dan Vietnam

Vietnam dan Indonesia selalu menjadi “tokoh” saat membicarakan tentang Perang Gerilya. Dua negara ini dalam proses kemerdekaanya memang diwarnai perang gerilya dahysat.

Indonesia dalam kurun 1945-1949, mengobarkan perang gerilya untuk mengusir tentara Inggris dan mencegah Belanda berkuasa lagi di Nusantara. Konseptor strateginya asalah Jenderal Soedirman dan Jenderal Abdul Haris Nasution.

Perang Vietnam yang meletus pada 1957 sampai 1970an berlangsung lebih dahsyat. Kubu Vietnam Utara yang disokong Uni Sovyet dan China berhasil menang dengan strategi Gerilya.

Ada pendapat, bahwa Vietnam Utara meniru strategi Gerilya Bangsa Indonesia. Namun itu tidak tepat. Karena meskipun sama-sama Gerilya, strategi keduanya sangat jauh perbedaanya.

Vietnam Utara telah melancarkan perang gerilya jauh sebelum pemikiran Pak Nasution diterbitkan dalam buku, wujud perang gerilya yang dilancarkan oleh Indonesia dan Vietnam Utara memang berbeda karena dari acuan pun juga sudah berbeda. Indonesia mengadopsi perang gerilya model Wingate, sedangkan Vietnam Utara mengadopsi perang gerilya model Mao.

Perang gerilya model Wingate berakar dari pengalaman perang yang dilancarkan oleh Brigadier General Orde Charles Wingate, seorang perwira Inggris. Wingate terkenal karena menciptakan misi-misi infilitrasi dalam pasukan Chindit ke wilayah Jepang, dalam teater Burma di Perang Dunia II. Chindit atau yang dikenal secara resmi dengan Long Range Penetration Groups adalah pasukan khusus India Inggris yang dilatih untuk melakukan penetrasi berjalan kaki jarak jauh lewat hutan ke wilayah lawan, menggunakan unsur kejutan lewat mobilitas dan dibantu CAS dan air-dropped supply untuk menarget jalur komunikasi Jepang.

Baca Juga:  Perang Jawa II : Campur Tangan Turki Tentukan Kemenangan Demak

Pak Nasution kemudian memakai pengalaman Wingate sebagai acuan untuk mengembangkan taktik gerilya. Salah satu letak persamaan asumsi Nasution dengan Wingate adalah bahwa sebagai perang kekuatan besar melawan kekuatan kecil, perang gerilya tidak dapat secara sendiri membawa kemenangan terakhir, melainkan hanya untuk memeras darah musuh. Atau dalam perkataan Wingate, memaksa musuh mengubah rencana:


“Small forces cannot prevent large forces from carrying out their plan. They can, if properly used…compel the larger force to alter its plan by creating an important diversion, i.e. by positive and not negative action. Forces which have the role of penetration should never, therefore be told to prevent the enemy from carrying out some operation, but should be given the task of surprising and destroying some important enemy installation or force, which will have the effect of changing the enemy’s plan.”

Dengan inspirasi perang gerilya yang dilakukan Chindit, Nasution mendirikan pangkalan-pangkalan gerilya yang tidak mudah dijangkau pihak Belanda. Kekuatan militer Indonesia menghindari pertemuan skala besar dengan musuh, dan fokus mengadakan serangan-serangan kejutan ke pos militer dan jalur komunikasi Belanda. Karena kentalnya pengaruh gerilya model Wingate pada saat itu, TNI tidak menggunakan istilah “gerilya”. Istilah yang digunakan untuk mengacu ke model perang yang mereka lakoni saat itu adalah “Wingate”.

Perang gerilya model Mao berakar dari pemikiran Mao Zedong, dan tidak seperti Indonesia yang melancarkan perang gerilya karena tidak mampu menyusun kekuatan simetris untuk mengimbangi lawan, Vietnam Utara melancarkan perang gerilya sebagai sesuatu yang doktrinal. Model Mao yang digunakan oleh Vietnam Utara membagi peperangan menjadi tiga fase, dan ini dikenal juga dengan istilah Dau Tranh Strategy. Fase pertama adalah penyebaran propaganda, perekrutan, infiltrasi organisasi, dan pengadaan senjata. Fase kedua adalah perang gerilya yang melibatkan sabotase, penyergapan, dan tindakan militer lain terhadap militer lawan maupun institusi vital. Fase ketiga adalah perang konvensional untuk merebut kota, menggulingkan pemerintah dan mengontrol negara.

Baca Juga:  Rambahadur Limbu, Momok Menakutkan Prajurit TNI di Perang Indonesia-Malaysia

Tidak hanya perang gerilya, Vietnam Utara sudah mampu mengerahkan organisasi setingkat resimen-resimen dan divisi-divisi yang berangsur-angsur dapat jadi tenaga serangan utama yang akhirnya merebut kota, sambil semakin mengusir musuh. Gerilya yang dilancarkan Indonesia jelas berbeda dengan Mao karena ditujukan hanya untuk melemahkan lawan, sedangkan model gerilya Mao memiliki tujuan akhir menghancurkan lawan.

Indonesia pun pada akhirnya tidak mempercayakan penyelesaian sepenuhnya kepada cara militer, melainkan senantiasa memilih cara politik. Duduk di meja perundingan, menggalang dukungan untuk menekan lawan secara internasional.

Perang yang dilancarkan Vietnam Utara tidak mengenal kompromi, melainkan berperang untuk tujuan mengalahkan musuh, dengan divisi-divisi berangsur-angsur tersusun untuk setaraf demi setaraf mengusir musuhnya. Ya, setidaknya sampai terjadinya Easter Offensive dan Operation Linebacker.


Sumber: Hex/Lihting II Chan.

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan