Begini Kisah Nyata Perang Torpedo Antar Kapal Selam

Youtuber Aaron Amick yang merupakan mantan sonarman US Navy, atau lebih dikenal dengan nama “Jive Turkey” di komunitas pegiat militer telah bergabung sebagai kontributor bagi The War Zone. Dengan pengalamannya menjadi awak di kapal selam Los Angeles-class serta Ohio-class, ia memiliki pengetahuan yang mendalam di bidang submarine warfare. Artikel pertamanya untuk The War Zone, yang diterbitkan pada tanggal 14 April 2020, menceritakan tentang seperti apa jalannya serangan torpedo kapal selam modern.

Ada dua varian umum torpedo kapal selam modern, yaitu torpedo thermal dan elektrik. Torpedo thermal memakai bahan bakar dengan proses pembakaran tanpa sumber oksigen eksternal, seperti OTTO Fuel II. Sebuah gas turbine atau axial piston engine menggerakan counter-rotating propeller yang bisa mendorong torpedo dengan kecepatan hingga 60 knot. Untuk menambah kecepatan, injeksi Hydroxylammonium Perchlorate (HAP) dapat dilakukan saat proses pembakaran. Torpedo thermal memiliki keunggulan jarak jangkau serta kecepatan di atas torpedo elektrik dan memakai gas turbine modern dengan pembakaran yang efisien, torpedo thermal dapat menghantam sasaran di luar jarak deteksi. Karena gas turbine memiliki RPM tinggi serta modifikasi silencing ke chassis torpedo maupun exhaustnya, kesenyapan torpedo thermal dapat dijamin.

Torpedo elektrik lebih banyak ditemui karena lebih mudah dibuat, dirawat, dan tidak terlalu riskan. Torpedo elektrik memiliki kemampuan untuk mencapai kecepatan maksimum secara instan (~50 knot) dari posisi diam berhubung tidak terhambat isu mechanical lag/inertia yang dihadapi torpedo thermal. Desain torpedo elektrik dapat bersifat modular, dimana baterai torpedo tersambung sehingga torpedo dapat mempunyai 2,3, hingga 4 baterai. Disini pengguna dapat menukar kelincahan torpedo dengan jarak jangkau sesuai keadaan. Misal apabila perlu menghantam sasaran lincah, baterai torpedo tidak usah diisi penuh untuk meminimalkan berat.

Film-film kapal selam seperti Crimson Tide dan Hunter Killer memanfaatkan adegan kejar-kejaran torpedo untuk dramatisasi. Namun kenyataannya, skenario seperti itu memiliki kemungkinan yang sangat kecil untuk terjadi. Dalam serangan torpedo modern, sasaran kemungkinan tidak akan mengetahui bahwa mereka sedang diincar apalagi mengingat torpedo memiliki teknologi silencing. Yang sering terjadi dalam latihan-latihan tempur laut adalah dua kapal selam melewati satu sama lain dalam jarak beberapa ratus meter, mendeteksi pada saat yang bersamaan, dan balapan untuk melepaskan tembakan terlebih dahulu. Satu skenario lagi adalah ketika sebuah kapal selam berhasil mendeteksi kapal selam lain dari jauh -first shot, first kill. Pertempuran bawah laut terjadi dengan reaction time yang sedikit untuk menghindari serangan, bukan dogfight bawah air seperti di film-film.

Baca Juga:  XF-103 Thunderwarrior Pesawat Tempur Canggih Amerika Yang Tidak Jadi Diproduksi

Ada tiga hal yang harus menjadi pertimbangan saat melakukan serangan torpedo:

1. Course dan depth torpedo setelah peluncuran
2. Kapan torpedo mulai mencari sasaran
3. Batasan kill box torpedo

Banyak torpedo modern yang memiliki command wire/kabel fiber optik yang berfungsi sebagai data link ke sistem fire control kapal selam. Dengan adanya command wire dan arahan dari fire control operator, torpedo dapat mengubah geometri serangnya atau bahkan dimatikan. Sasaran yang terdeteksi dapat diubah, kedalaman serta jarak torpedo dapat dibatasi, dan countermeasure lawan dapat diidentifikasi serta dihiraukan dengan menggunakan data sonar kapal selam. Apabila data link putus, torpedo akan mengikuti perintah terakhir dan melaksanakan profil anti-countermeasure yang telah terprogram.

Setelah torpedo meluncur, torpedo akan sedikit menyelam lebih rendah dari kapal selam agar kapal selam tidak terbelit command wire. Command wire dapat diulur dari dispenser di tabung torpedo atau dari torpedo sendiri, namun dalam beberapa kasus command wire diulur dari keduanya secara bersamaan untuk mengurangi kemungkinan wire stretch atau bahkan putus.

Torpedo kemudian akan melaju dengan arah yang ditentukan ke sebuah kill box. Kill box adalah pembatas digital daerah serang torpedo yang ditetapkan oleh sistem fire control kapal selam. Kill box berguna untuk mencegah torpedo menyerang sasaran di luar area, ataupun menyerang kapal selam peluncur. Seperti namanya, pembatas digital tersebut berbentuk ruang kubus tiga dimensi di air yang bisa berukuran besar atau kecil, tergantung keinginan Weapons Officer.

Saat melaju menuju kill box, torpedo akan mengukur ambient background noise dan memposisikan diri ke kedalaman pencarian sasaran jika memang diperintahkan. Torpedo akan menghitung seberapa kuat transmisi sonar aktif yang dapat dikirimkan tanpa terjadinya reverberasi, distorsi, maupun saturasi dengan background echo.

Begitu sampai ke kill box, torpedo mengaktifkan sensornya dan mulai mencari sasaran sendiri. Saat mencari sasaran, torpedo mengurangi kecepatan serta tingkat kekuatan transmisi sonar untuk memaksimalkan kapabilitas deteksi. Apabila data link antara kapal selam dan torpedo bertahan, dimensi kill box masih dapat diganti oleh operator kapanpun. Operatir juga dapat mengendalikan atau mematikan torpedo. Jika torpedo meninggalkan kill box, secara otomatis mesin torpedo akan mati dan hulu ledaknya akan di-inert. Torpedo kemudian akan tenggelam ke dasar laut. Torpedo tidak memiliki kemampuan command detonation seperti yang ditunjukkan di film Hunt For Red October.

Kapal selam peluncur harus berhati-hati untuk tidak memasuki kill box torpedonya sendiri saat melakukan serangan. Apabila torpedo tidak dimatikan, kapal selam peluncur pun akan dianggap sebagai sasaran valid. Dalam latihan tempur laut, kapal selam pernah memasuki kill boxnya sendiri ketika menghindari torpedo balasan. Untuk mencegah hal seperti ini, diperlukan situational awareness dalam serangan torpedo.

Baca Juga:  Rusia Cari Pertahanan Udara Pengganto Pantsir

Terdapat tiga metode deteksi target dasar bagi torpedo:

-Sonar pasif: Mendengarkan kebisingan spesifik yang dihasilkan lawan, atau mengincar sumber suara terbising. Ada ambang batas tingkat kebisingan yang harus dilewati sebelum homing logic torpedo bisa diaktifkan, namun sonar pasif merupakan metode deteksi yang efektif untuk memberikan unsur kejutan kepada sasaran. Torpedo yang lebih tua melakukan pencarian sonar dengan membelokkan rudder ke kiri dan ke kanan sehingga jalur pencarian akan mengular. Area pencarian torpedo meningkat dengan berkurangnya jarak jangkau dan kecepatan. Torpedo modern dapat melakukan beamforming digital dengan search arch yang besar, sehingga efisiensi pencarian meningkat berhubung torpedo tidak lagi harus mengurangi kecepatan dan berbelok-belok.

-Sonar aktif: Memancarkan pulse energi sonar dengan frekuensi tinggi. Tingkat kekuatannya ditentukan dengan referensi ke ambient background noise yang telah diukur sebelum memasuki kill box. Dalam serangan dengan sonar aktif, sasaran dapat berupaya menghindar dengan memakai sonar masker dan jammer. Torpedo dapat memfilter jamming dengan countermeasure logic, namun saat ini detilnya masih dirahasiakan.

-Wake homing: Torpedo mengincar kapal dengan mengikuti wake atau ombak di belakang kapal.

Tahap terakhir dalam serangan torpedo adalah terminal homing. Setelah sasaran terdeteksi, torpedo akan menyampaikan lokasi, kedalaman, kecepatan serta arah sasaran ke sistem fire control kapal selam. Data tersebut kemudian dibandingkan dengan fire control solution. Torpedo kemudian memasuki terminal homing dimana ping sonar aktif akan terdengar makin cepat ketika jarak ke sasaran mengecil. Interval transmisi sonar aktif yang semakin kecil juga akan menjadi indikasi kepada lawan bahwa mereka sedang diserang, namun sudah terlambat. Torpedo sudah terlalu dekat dan mendekat terlalu cepat untuk melepas countermeasure.

Untuk meledakkan diri di sasaran , torpedo modern banyak yang memakai combined fusing. Combined fusing terdiri dari proximity fuze serta contact fuze. Proximity fuze memakai referensi magnetik serta jarak, dan contact fuze memakai perkenaan fisik. Bagus apabila torpedo bisa diledakkan satu meter dari hull, akan tetapi contact detonation dapat menimbulkan kerusakan besar bahkan bagi kapal perang berukuran besar.

Sumber: Hex / FB. Lighting II Chan

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan