Belajar Menghormati dan Melayani Veteran Dari Rakyat Amerika Serikat 

Di Amerika Serikat, jika seseorang mengaku sebagai veteran mereka akan langsung mendapat fasilitas khusus. Di manapun di berlaga, Perang Dunia II sampai perang di Suriah pun, tetap diakui sebagai Veteran, sang Pahlawan yang harus dimuliakan. 

Tidak memandang usia, berapa pun umurnya. Tua ataupun muda, gagah ataupun mengalami cacat karena terluka. Yang penting dia veteran adalah pahlawan. 

Sudah tertanam sikap untuk melayani dan memulyakan Veteran. Seorang pelayan swalayan misalnya, meski tidak ada promo dari perusahaan, tapi jika yang membeli mengaku veteran perang, makan sang pelayan akan memberinya diskon spesial. 

Ambil contoh video yang pernah menjadi viral di Facebook berikut ini. Tentang eksperimen sosial ketika seseorang membeli makan restoran cepat saji dan menanyakan apakah ada diskon Veteran atau personel militer.  Sang pelayan resto cepat saji langsung memberinya diskon. Tapi saat ada yang mengejeknya, karena masih muda kok minta diskon, si pengejek langsung dibully.



Atau saat ada sosial ekspiremen tentang bagaimana sikap warga AS ketika ada veteran yang kesulitan bayar di sebuah swalayan. Warga dengan heroik mau membayar untuk sang veteran.

 Bagaimana dengan nasib Veteran perang di Indonesia?

Saat ada Veteran yg kesusahan, biasanya hanya menjadi model foto di media sosial untuk jadi bahan pencari like atau ketika amin saja. 

Belum pernah ada gerakan kesadaran sosial untuk memulyakan Veteran perang, para pahlawan tersebut. Hari Veteran yang jatuh pada setiap tanggal 10 Agustus pun juga sepi dari gegap gempita gerakan sosial membantu para pahlawan. Hanya sekedar perayaan saja. 

Baca Juga:  Gak Betah Jadi Tentara Amerika, Putri Indonesia Pengen Hengkang

Semoga ada gerakan yang lebih kongkrit lagi untuk menumbuhkan jiwa sosial rakyat Indonesia untuk membantu dan melayani para Veteran.

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan