Beli Gripen, Brazil Dapat Limpahan ToT dari SAAB Swedia, Indonesia Kapan?

Gripen awalnya adalah kuda hitam yang tak diperhitungkan ketika Brazil mengumumkan membuka tender pesawat tempur baru generasi ke-4. Namun adanya Transfer of technology alias ToT membuat Brazil tak berfikir lama menyambut Gripen. Ini bukan tentang masa saat ini, tapi demi pembangunan pertahanan Brazil di masa mendatang, demikian klaim Menhan Brazil saat itu.

Secara kasat mata, Gripen mungkin lebih inferior dibanding Su-35 dan F/A-15 pesaingnya. Tapi Brazil butuh lebih dari sekedar fisik pesawat, mereka membutuhkan pasokan pengetahuan mengenai sistem aviasi dan radar pada pesawat tempur. Dan untuk hal ini, SAAB si produsen Gripen adalah jagonya.

Dengan membeli sebanyak 36 jet tempur JAS 39 Gripen E/F pada tahun 2014 dari SAAB yang bermarkas di Swedia. Dengan kontrak senilai 5 miliar dolar AS, Brazil berhasil memaksa SAAB untuk membangun fasilitas produksi pesawat di Brazil. Dengan kerjasama ini, diharapkan Brazil memiliki kemampuan development, production, dan maintenance.


“Kami sudah berkomitmen dalam hal teknologi pesawat tempur yang di dalamnya termasuk development, production, dan maintenance,” ujar Goran Almquist, wakil program manajer Gripen di Brazil.

Fasilitas SAAB bergandengan dengan Embraer di Sao Paulo. Tujuan utamanya adalah melatih industri Brazil sehingga kelak mereka memiliki kemampuan untuk memelihara armada Gripen yang dipunyai dan bahkan mengembangkan teknologi masa depan Gripen untuk Brazil sendiri. “Namun itu masih jauh memang, ada banyak kesempatan bagi SAAB (untuk membantu),” tambah Almquist seperti dilansir angkasa.co.id

Baca Juga:  Hawk 100/200 TNI AU latihan tempur gunakan peluru kendali AGM-65 Maverick
SAAB Embraer. Foto: Embraer

Aplikasi kerjasama antara SAAB dan Brazil dimulai dengan dikirimnya 150 tenaga ahli penerbangan Brazil ke fasilitas SAAB di Linkoping, Swedia. Mereka belajar dan on the job training, dimana mereka bekerja bersamaan dalam proyek-proyek yang berbeda.

Tahap pengiriman 150 ahli ini dimulai pada musim gugur 2015 dan berlangsung selama beberapa tahun. Kemudian secara bertahap, mereka akan dipulangkan sesuai ke Brazil yang tentu saja sudah membawa pengetahun terbaru tentang pengembangan dan produksi pesawat tempur. Dari SAAB akan melakukan pendampingan saat Brazil membangun kemampuan industri pesawat tempurnya sendiri.

SAAB juga menyatakan bahwa, apa yang tengah mereka lakukan saat ini di Brazil terkait pengembangan dan produksi berakhir dengan sukses, tentu akan menjadi cara yang akan mereka terapkan ke pembeli produk SAAB di negara lainnya seperti India atau Indonesia.

Dalam materi presentasi SAAB di hadapan wartawan di Bangalore, diperlihatkan fasilitas yang dibangun dengan memanfaatkan industri pesawat terbang Embraer milik Brazil. Kerjasama SAAB dengan Embraer dikukuhkan pada 22 November 2016 di Sao Paulo, Brazil.


Saat itu, SAAB dan Embraer meresmikan Gripen Design and Development Network (GDDN) di Gavião Peixoto, São Paulo. GDDN akan menjadi hub bagi pengembangan teknologi Gripen NG di Brazil, dimana SAAB dan Embraer akan bekerja sama dengan industri lokal Brazil seperti AEL Sistemas, Atech, Akaer dan angkatan udara Brazil melalui departemen riset DCTA.

Baca Juga:  Perbandingan Kekuatan Arab Saudi dan Iran

Jika ToT Sukhoi Su-35 masih tarik ulur alot dengan Rusia. Tawaran dari SAAB Swedia sangat menggiurkan. Dengan pendampingan SAAB pada PT Dirgantara Indonesia, di masa mendatang Indonesia bisa membangun pesawat sendiri dengan penuh kepastian dibandingkan mengharapkan pesawat IF-X kerjasama dengan Korea Selatan.

1 Komentar

Tinggalkan Balasan