Biaya Terbang Pesawat F-35 Capai 500 Juta Rupiah Per Jam

Lockheed Martin Corp (LMC), selaku Produsen F-35 berupaya menurunkan mahalnya biaya penerbangan per jam F-35 yang bisa mencapai US$ 35.000 atau Rp 500 juta.

Namun upaya ini bukan hal mudah, LMC memperkirakan akan memakan waktu sekitar 15 hingga 20 tahun untuk memangkas biaya penerbangan per jam F-35 di bawah jet tempur generasi keempat seperti F-16, kata kepala program F-35 pada hari Rabu, dikutip dari Reuters, 27 Februari 2019.

Rencana ini juga bagian dari tekanan Donald Trump. Mengingat Angkatan Udara AS adalah pengguna terbesar untuk F-35.

Wakil Presiden Lockheed Martin dan Manajer Umum Program F-35 Greg Ulmer mengatakan ada upaya untuk menurunkan biaya penerbangan menjadi US$ 25.000 (Rp 350 juta) pada tahun 2025 tetapi penghematan lebih lanjut akan memakan waktu lebih lama.

“Hari ini tiap pelanggan berbeda dengan pelanggan lain, tetapi saya pikir US$ 35.000 untuk per jam terbang adalah angka yang baik,” katanya ketika menghadiri Australian International Airshow.

“Jika kita memproyeksikannya berdasarkan inisiatif yang kita miliki, kita percaya pada 2035-2040 kita bisa mendapatkan biaya yang lebih rendah dari pesawat tempur generasi keempat hari ini,” tambahnya.

Saat ini biaya penerbangan per jam pesawat generasi keempat berada pada kisaran US$ 20.000-25.000 (Rp 280-350 juta).

Salah satu inisiatif untuk menurunkan biaya menjadi US$ 25.000 per jam termasuk mengurangi jumlah mekanik yang diperlukan untuk mendukung setiap pesawat, kata Ulmer.

Baca Juga:  Amerika Serikat Uji Terbang Dua Rudal Nuklir

Lockheed Martin juga mencari cara memperbaiki sistem sensor untuk mengurangi alarm palsu, serta memastikan ada suku cadang yang tepat tersedia untuk pemeliharaan dan perbaikan.

Wakil Presiden dan General Manager Pelatihan dan Layanan Logistik Lockheed Martin, Amy Gowder, mengatakan Amerika Serikat telah terlambat untuk menginstal kapasitas yang cukup untuk perbaikan F-35 karena keterlambatan persetujuan pendanaan.

Ini menambah masalah karena lebih banyak pesawat ditambahkan ke armada, kata Gowder.

“Ketika Anda memiliki 180 pesawat terbang, mungkin tidak apa-apa. Sekarang kita memiliki 300. Ini adalah skala peningkatan volume yang memicu kekhawatiran,” katanya.


Biaya operasional pesawat tempur F-35 adalah masalah yang dibahas saat para pejabat militer dari Amerika Serikat, Israel dan negara pengguna F-35 di Eropa seperti Inggris, Italia, Norwegia, Denmark, Turki, Belanda bertemu di Jerman pada bulan September tahun lalu.


Sumber: tempo.co/reuters.com

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan