Brimob, Pasukan Elite Kesayangan Soekarno Dilatih Amerika Dikebiri Soeharto

Menjelang tahun 1960-an, borok CIA yang mendalangi berbagai pemberontakan di Indonesia ketahuan. Takut dan malu serta untuk menyelamatkan muka Amerika Serikat di mata dunia, negara itu terpaksa menerima permintaan Soekarno sebagai kompensasi ganti rugi. Mulai dari bantuan beras, hibah pesawat Hercules sampai pelatihan militer.

Salau bantuan militer adalah pelatihan pasukan Ranger. Bukannya memilih tentara, Sukarno malah meminta kepolisian untuk berangkat ke pelatihan itu pada 1959 di Filipina. Ini sejalan dengan keinginan polisi untuk membentuk Mobile Brigade (Mobrig) dengan kualifikasi Ranger dan kemampuan light infantery.

Polisi juga baru saja mendirikan Sekolah Pendidikan Mobile Brigade (SPMB) di Watukosek, Porong, Jawa Timur pada 10 Juni 1955. Seluruh instruktur SPMB dikirim ke Filipina untuk mempelajari pembentukan pasukan ranger. Pada 16 Agustus 1961, Presiden Soekarno mengubah sebutan Mobrig menjadi Brigade Mobil atau Brimob.


“Pada pertengahan 1959 beberapa calon instruktur yang lolos seleksi dikirim ke Okinawa (pangkalan militer AS di Asia),” tulis Anton Agus Setiawan dan Andi Darlis dalam buku Resimen Pelopor: Pasukan Elite yang Terlupakan.

Pelatihan lanjutan dilakukan pada 1959 dan 1960. Pemerintah AS menugaskan US Army First Special Group Airborne dengan komandan Kapten Wilson untuk melatih.

Hasilnya, Kompi 5994 Ranger Mobile Brigade dengan kekuatan 80 personil. Jumlah ini terus bertambah hingga pada 1960 nama kompi ini diubah menjadi Resimen Pelopor. Senjata modern bikinan AS kala itu menjadi senjata operasional resimen ini. Awalnya mereka mendapatkan senapan serbu US Carabine, dan pada 1961 diganti dengan AR 15, cikal bakal senapan M16A1.

Resimen ini terlibat operasi penumpasan dan pembersihan berbagai pemberontakan, dari DI/TII Kartosuwiryo, DI/TII Daud Beureuh, PRRI, sampai operasi penumpasan DI/TII Kahar Muzakar. Saat pembebasan Irian Barat atau Operasi Tritura-pun mereka terlibat dalam penyusupan melalui Pulau Gorom, dekat dengan Fak Fak.

Satu-satunya noda merah Resimen Pelopor adalah saat melakukan Penyusupan ke Malaysia dalam Operasi Dwikora. Mereka berhadapan dengan SAS (Special Air Service) Inggris, Pasukan Gurkha, dan Tentara Diraja Malaysia yang jumlahnya terlalu besar sehingga banyak anggota Resimen yang gugur.

Loyalitas Resimen Pelopor kepada Sukarno tak perlu ditanyakan. Pada 1962, anggota Resimen Pelopor Brigadir Polisi Daryat berhasil menyelamatkan Presiden Sukarno dalam sebuah penembakan langsung.

Tapi pasca 1965, kedekatan Resimen ini dengan Sukarno berimbas buruk. Soeharto sebagai penguasa Orde Baru yang baru melantik Kapolri Jenderal Hoegeng Iman Santoso sebagai Panglima Kepolisian (sekarang Polri) memberikan perintah untuk mengkhususkan polisi pada penegakan hukum. Restrukurisasi kepolisian-pun dilakukan, Resimen Pelopor dibubarkan. Hoegeng mengirim seluruh anggotanya ke Papua untuk membentuk Polda Irian Jaya dan embrio Brimob Daerah Papua.

Gaung keperkasaan resimen Pelopor ini masih terasa saat perebutan Timor-Timur. Mantan Resimen Pelopor dikumpulkan dengan TNI dan membentuk Densus Alap-Alap dalam Komando Tugas Operasi Gabungan (Kogasga) Seroja.

Hingga 1983, menurut akademisi dari Unviersitas Padjadjaran Dr Muradi Clark, posisi Brimob secara langsung menjadi ‘kaki tangan’ dari ABRI, yang secara organisasi melakukan sub ordinat kepada Polri, dan Brimob. Hal ini mempengaruhi psikologis anggota Brimob khususnya di kemudian hari. Di masyarakat berkembang anekdot Brimob, “polisi bukan, tentara belum”.

Karena sekitar 30 tahun, lebih banyak menjadi alat kekuasaan bukan alat negara, menjelang kejatuhan Orde Baru, Brimob ikut menjadi sasaran kecaman masyarakat karena praktik kekerasan yang dilakukan.


“Hingga kejatuhan Soeharto, Brimob masih mewartakan diri sebagai polisi paramiliter yang memiliki kekhasan dan warna militeristik yang kental,” tulis Muradi dalam makalahnya, Reformasi Brimob Polri Antara Tradisi Militer-dan Kultur Polisi Sipil.

Tapi sejak 2010, penulis buku Quo Vadis Brimob Polri? itu melanjutkan, warna Brimob sudah mengarah kepada polisi sipil seperti diamanatkan undang undang.

Sumber: detik.com

Advertisements

1 Komentar

  1. Di masyarakat berkembang anekdot Brimob, “polisi bukan, tentara belum”. Seharusnya Soekarno berbesar hati untuk memaksimalkan potensi TNI AD, bukan memberikan keamanan sipil pelatihan yang menyerupai tentara, namun apalah daya, semua sudah menjadi takdir dari sejarah Indonesia.

Tinggalkan Balasan