China Diambang Pailit Hutang 3 Trilliun Dollar, Invasi Adalah Solusinya

Statistik lembaga pemeringkat hutang, Fitch, memperkirakan bahwa China bakal menghadapi krisis ekonomi akibat bangkrut roda uang perbankan dalam skala besar, karena jumlah pinjaman macet di China mungkin sepuluh kali lebih tinggi dari klaim resmi Beijing.

Menurut laporan Fitch, 21 persen dari total pinjaman perbankan di China adalah “kredit macet,” (NPL) yang berarti debitur/penghutang sedang macet untuk membayar cicilan. Pada saat yang sama, otoritas perbankan China mengklaim kredit macet hanya 1,8 persen saja.

Selain itu, ketergantungan Beijing pada pertumbuhan kredit untuk memberikan peningkatan PDB jangka pendek bisa memperburuk masalah yang ada, Fitch menekankan, karena “akan meningkatkan masalah kualitas aset likuiditas dalam sistem keuangan.”

Sampai dengan akhir 2015, utang Cina sudah 243 persen dari PDB nasional dengan prospek mencapai 269 persen bila utang terus tumbuh. Bandingkan dengan Indonesia yang rasio hutangnya hanya 40% dari PDB.

PDB adalah nilai semua barang dan jasa yang diproduksi suatu negara. Hutang Indonesia hanya 40% dari total omset semua barang dan jasa yang diproduksinya. Sedangkan hutang China sudah 2,5kali lipat (243%) dari total produk yang dihasilkan China.

Data statistik terbaru juga mengungkapkan bahwa hutang China akan meningkat sebesar 13 persen per tahun, melebihi laju pertumbuhan PDB China yang hanya 6,5 persen seperti yang sekarang.

Total likuiditas yang dibutuhkan untuk mengatasi kredit macet ini menembus  $2,1 Trilliun Dollar, jika sektor keuangan negara ingin mencegah masalah ini segera mungkin. Namun jika dalam perspektif yang lebih panjang, akan menyebabkan pertumbuhan ekonomi tertekan dan akan mengharuskan pemerintah mengambil beberapa langkah-langkah drastis seperti mengemplang hutang atau memperluas persyaratan pembayaran kewajiban.

Baca Juga:  Cobham Pasok Antenna Suite untuk Jet Tempur KF-X

KOndisi ekonomi China ini mirip dengan Amerika saat ini tapi dalam level yang agak sedikit lebih rendah. Diantara cara untuk mencegah kebangkrutan adalah dengan mencari sumber daya alam (SDA) baru yang berarti menginvasi negara lain, seperti halnya Amerika menginvasi Afghanistan, Iraq dan Libya. Dengan adanya pemasukan SDA baru, ekonomi bisa ditopang dengan likuiditas berbentuk mineral alam (baca minyak bumi dan emas). Makanya wajar jika China terus berupaya menguasai Laut China Selatan yang kaya dengan SDA.


 

 

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan