China Protes Keras Latihan Militer Bersama Amerika dan ASEAN

Beijing mengutuk tindakan itu sebagai upaya ilegal oleh Washington pada “hegemoni maritim.”

Selasa lalu, AS juga mengirim dua pembom berat B-52 dan dua pesawat tempur F-15C dari Pangkalan Angkatan Udara Andersen di wilayah AS Guam untuk pelatihan di sekitar Laut China Selatan dan di lepas pantai Jepang, kata Juru bicara Pasukan Udara Pasifik AU-AS mengatakan kepada the Japan Times.

Collin Koh, pengamat hubungan internasional dari S. Rajaratnam School of International Studies, Singapura, menjelaskan bahwa latihan militer AS-ASEAN baru-baru ini adalah hal yang lumrah terjadi, terutama dari perspektif ASEAN.


“Kebijakan lama ASEAN terhadap keterlibatan kekuatan besar di wilayah mereka adalah inklusivitas, bukan eksklusivitas,” kata Koh dalam kolom opini untuk the South China Morning Post.

Ia juga menggarisbawahi bahwa ASEAN dan China juga memiliki platform latihan militer bersama, yang menguatkan argumentasinya tentang inklusivitas tersebut.

Selain itu, tidak ada yang istimewa dari AUMX, meski disebut-sebut sebagai latihan militer pertama AS-ASEAN di Asia Tenggara, terutama termasuk dekat dengan Laut China Selatan.

“Masing-masing negara anggota Asean memberlakukan kebijakan pertahanan dan keamanan berdasarkan kepentingan nasional mereka, dan itu juga berkaitan dengan keterlibatan mereka dengan pihak eksternal,” kata Koh.


“Terlihat dari sudut pandang ini, Latihan Maritim ASEAN-AS (AUMX) bukanlah latihan multilateral pertama antara Asia Tenggara dan AS seperti yang dilaporkan … AS telah lama melakukan latihan multilateral dengan negara-negara Asia Tenggara.”

Baca Juga:  Anggota NAVY SEAL Tewas Diserang Al-Qaeda di Yaman

Koh juga menilai bahwa lingkup latihan maritim tersebut –yang mungkin terbatas untuk tidak melakukan uji coba senjata atau manuver tempur– telah diantisipasi dan mungkin “tak lagi mengkhawatirkan bagi para perencana militer Cina, yang seharusnya sudah lama akrab dengan kehadiran dan keterlibatan militer AS dalam isu keamanan di Asia Tenggara.”

Latihan Maritim ASEAN-AS, serupa dengan yang dilakukan Tiongkok tahun lalu, menegaskan sentralitas blok dan menekankan gagasan inklusivitas daripada eksklusivitas dalam arsitektur keamanan regional, lanjut Koh.

“Dalam hal ini, ASEAN dapat diharapkan untuk mengadakan latihan multilateral serupa dengan kekuatan eksternal lain yang tertarik. Bahkan, semakin meriah, untuk menekankan perlunya tatanan keamanan yang inklusif, tidak eksklusif, di wilayah tersebut.”

“Lebih dari segalanya, ASEAN dapat muncul sebagai pemenang terbesar dari jenis-jenis latihan ini,” tutup pengamat dari Singapura itu.
Sumber : liputan6.com

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan