China Siap Mendukung Rusia Melawan Amerika Serikat, Babak Baru Perang Dingin II

Menhan China dan Menhan Rusia bertemu membahas kerjasama militer. Foto: reuters

Perang Dingin II mungkin sudah resmi meletus. Ini setelah China memilih bersatu dan mendukung Rusia siap melawan Amerika Serikat (AS) dan semua sekutunya.

Seperti diketahui, hubungan Rusia dengan Amerika Serikat dan Negara-negara NATO sedang memanas. Mulai dari konflik Crimea, Ukraina, Suriah sampai yang terbaru perang terbuka saling usir diplomat dengan Inggris.

Dukungan China tersebut disampaikan menteri pertahanan China, Wei Feng, dalam Konferensi Keamanan Internasional Moskow yang ke-7. Kedatangan Wei didampingi para pejabat senior militer China lainnya.

Wei Feng menegaskan bahwa sikapnya mewakili Presiden Xi Jinping dan semua rakyat China.


“Saya mengunjungi Rusia sebagai menteri pertahanan China yang baru dan untuk menunjukkan kepada dunia tingkat perkembangan yang tinggi dari hubungan bilateral kami dan tekad yang kuat dari angkatan bersenjata kami berdua untuk memperkuat kerja sama strategis,” kata Wei dalam pertemuan dengan Menteri Pertahanan Rusia Sergey Shoigu, seperti dilansir kantor berita Itar-TASS.


“Kedua, untuk mendukung pihak Rusia dalam menyelenggarakan Konferensi Keamanan Internasional Moskow, pihak China telah datang untuk menunjukkan kepada Amerika hubungan dekat antara angkatan bersenjata China dan Rusia, terutama dalam situasi ini,” ujarnya.

“Kami datang untuk mendukung Anda,” kata Wei.”Pihak China siap untuk mengekspresikan keprihatinan bersama dan posisi bersama kami dengan Rusia pada masalah-masalah internasional yang penting di tempat-tempat internasional juga.”

Baca Juga:  China Protes Keras Latihan Militer Bersama Amerika dan ASEAN

Rusia dan China selama ini sering dianggap sebagai angkatan bersenjata terkuat kedua dan ketiga di dunia, di belakang AS. Di saat Pentagon mempertahankan keunggulan militernya, Moskow dan Beijing telah berkoordinasi dengan erat untuk mengejar dominasi Washington.

Selain meningkatkan kekuatan militernya sendiri di Eropa dan Asia, AS telah menggambarkan pengaruh Rusia dan Cina yang tumbuh di luar negeri sebagai serangan terhadap demokrasi. Barat telah menuduh Rusia ikut campur dalam pemilihan presiden AS tahun 2016 dan pemilu asing lainnya.

Washington juga membela Inggris dengan menuduh Moskow sebagai dalang serangan racun saraf terhadap mantan agen ganda Rusia Sergei Skripal di Salisbury, Inggris selatan pada 4 Maret 2018. Namun, Kremlin telah berulang kali membantah dan menuntut bukti atas tuduhan tersebut.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri China Geng Shuang mendesak AS dan sekutu Barat-nya menghindari mentalitas Perang Dingin dalam kasus Skripal.

“Pihak-pihak terkait harus menyerahkan fakta-fakta di balik insiden (terhadap) Skripal dan menyelesaikan sengketa dengan benar berdasarkan sikap saling menghormati,” kata Geng.

“Komunitas internasional ditantang di banyak bidang hari ini. Mentalitas Perang Dingin dan konfrontasi kelompok adalah hal terakhir yang kita butuhkan. Kita semua harus bekerja sama untuk menjaga perdamaian dunia, stabilitas, keamanan dan membangun jenis hubungan internasional baru yang menunjukkan rasa saling menghormati,” imbuh dia. (reuters/sindonews/nationalinterest)

Baca Juga:  Proyek Pemeliharaan Sukhoi Su-30MKM Malaysia Bermasalah

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan