CN-235 AU Malaysia Jalani Program SLEP di Bandung

Menyusul penandatanganan kontrak antara Angkatan Udara Kerajaan Malaysia (RMAF) dan Dirgantara Indonesia (PTDI / Aerospace Indonesia) dalam pameran Langkawi International Maritime & Aerospace (LIMA) 2017, ketujuh pesawat angkut taktis CN-235-220M dan pesawat angkut VIP CN-235-100M AU Malaysia akan menjalani Service Life Extension Program (SLEP) yang akan memperpanjang umur pesawat buatan Indonesia itu hingga 15 tahun lagi.

Inti dari program life extension tersebut adalah pekerjaan rewiring dari pesawat batch pertama CN-235. Sejak 1999, RMAF memiliki enam CN-235-220M. Varian 220M berbeda sedikit dengan varian 100M terutama pada radome yang berbeda yang dipasangkan pada varian 220M.

Setelah 20 tahun, ada kebutuhan besar dalam hal keselamatan penerbangan untuk mengganti sistem wiring (perkabelan) serta untuk memastikan bahwa sistem kelistrikan pesawat selalu andal. Rewiring juga akan memastikan kesiapan armada yang tinggi karena downtime perbaikan telah dihilangkan.

Pekerjaan rewiring telah dimulai pada 22 Oktober 2018 yang melibatkan pesawat demonstrasi teknologi, sebuah CN-235-220M dari No 1 Skn dengan nomor seri M44-05. Serah terima pesawat selama LIMA 2019 menandai berakhirnya Tahap 1 dari pekerjaan rewiring yang melibatkan tim mobile dari PTDI dan tujuh belas teknisi pesawat On the Job dari No 1 Skn.

Fase 2 telah dimulai dengan M44-03 yang diperbaiki oleh teknisi dari Skn No. 1 di bawah pengawasan ketat oleh tim PTDI. Fase 3 hanya akan melibatkan personil dari No 1 Skn.

Baca Juga:  Terlalu Dominan, T-50 Ditolak Jadi Pesawat Latih AU AS

Sebagai hasilnya, pekerjaan SLEP di fasilitas PTDI di Bandung hanya akan mencakup Structure Inspection, Rewiring/Harnesses, dan Replacement of Obsolescence Equipment. Pekerjaan ini juga mencakup bahan bakar, mesin, dan sistem avionik pesawat.

Menurut rencana awal, tiga CN-235 akan menjalani SLEP pada 2019 dan empat pesawat lagi pada 2020. Dua pesawat yang direncanakan untuk terbang ke Bandung akhir tahun ini akan dilengkapi dengan sistem pengawasan maritim Merlin yang dikembangkan oleh Integrated Surveillance and Defense, Inc (ISD).

Peralatan misi Merlin mencakup radar pengawasan maritim, turret sensor elektro-optik (EO), dan sistem electronic support measures (ESM).

Namun tidak diketahui apakah wabah coronavirus telah mempengaruhi program SLEP CN-235 AU Malaysia, tetapi foto CN-235 AU Malaysia yang diidentifikasi bernomor register M45-03 telah beredar di Twitter pada 16 Juni lalu, terlihat tengah berada di fasilitas PTDI di Bandung.

Sumber : malaysiaflyingherald.wordpress.com via TSM Angga Saja

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan