Coba Kuasai Kutub Bumi, Trump Perintahkan Pembuatan Kapal Ice Breaker Bertenaga Nuklir

Kutub Utara dan Kutub Selatan Bumi adalah wilayah yang masih menjadi misteri dan diyakini punya banyak simpanan sumber daya alam. Makanya banyak negara negara maju yang berlomba untuk mengeksploasi dan menguasainya.

Pada tanggal 9 Juni 2020, Presiden US Donald Trump menerbitkan sebuah memorandum presidensial yang berjudul “Memorandum on Safeguarding U.S. National Interests in the Arctic and Antarctic Regions”.

Dalam memorandum tersebut Presiden Trump mengatakan bahwa demi melindungi kepentingan nasional di kawasan Arktik maupun Antartika, dan untuk kehadiran keamanan di Arktik bersama sekutu dan mitra US, ia memerintahkan pengembangan serta pelaksanaan program akuisisi armada polar security icebreaker.

Department of Homeland Security, lewat Komandan Coast Guard dan berkoordinasi dengan Secretary of Energy, serta Secretary of Defense lewat Secretary of the Navy, akan melaksanakan studi komparatif mengenai keuntungan operasional-fiskal serta resiko pengadaan armada polar security icebreaker yang terdiri dari setidaknya 3 unit heavy polar security cutter (PSC). Studi yang akan diserahkan ke presiden dalam waktu 60 hari tersebut berisi setidaknya empat topik, yaitu

-Penggunaan PSC di Arktik yang terkait misi keamanan nasional dan keamanan ekonomi, termasuk fasilitasi eksplorasi sumber daya serta penempatan maupun perawatan kabel bawah laut. Lalu apakah misi-misi ini juga dapat dijalankan dengan medium PSC, untuk mengetahui angka dan tipe PSC yang optimal untuk mempertahankan keberadaan di Arktik maupun Atlantik.

-Penilaian ekspansi kapabilitas operasional serta perkiraan biaya untuk heavy dan medium PSC. Kapabilitas PSC yang akan distudi yaitu terkait penggunaan UAV, UUV (Unmanned Underwater Vehicle) serta USV (Unmanned Surface Vessel), sistem luar angkasa, sensor dan sistem maritim lainnya, sistem komando dan kontrol, sistem komunikasi dan transfer data yang aman, serta sistem pengumpulan intelijen. Penilaian ini juga akan mengevaluasi persenjataan defensif untuk bertahan dari ancaman kompetitor near-peer serta potensi pemakaian propulsi nuklir.

Baca Juga:  Amerika Siap Serang Iran, Austrlia Siap Bantu

-Identifikasi dan penilaian setidaknya dua lokasi optimal di US serta dua lokasi internasional untuk dijadikan pangkalan PSC. Termasuk juga analisa keuntungan, biaya, resiko, tantangan infrastruktur, logistik serta dukungan perawatan. Harus dianalisa juga potensi bagi beban untuk pangkalan dalam Department of Defense maupun ke sekutu dan mitra.

-Karena USCGC Polar Star diantisipasi akan mengalami degradasi operasional dari tahun fiskal 2022-2029, harus ada analisa mengenai opsi yang bisa diambil dengan biayanya, untuk mengisi kekosongan kapal mulai dari FY 2022 hingga PSC baru bisa operasional. Bisa jadi kapal dapat dibeli atau harus menyewa (lease) dari sumber domestik maupun asing, sehingga analisa resiko operasional harus dilakukan juga. Ketiga unit icebreaker, apabila akuisisi berjalan sesuai rencana, akan tersedia pada tahun 2026.

Urgensi pengadaan PSC baru ini terkait dengan perkembangan lingkungan strategis dan tidak memadainya cutter milik USCG sekarang. Saat ini lingkungan Arktik makin menjadi area kompetisi geopolitik karena resesi polar ice cap memunculkan rute-rute baru dan meningkatkan eksploitasi sumber daya. Akan tetapi di tengah perkembangan ini, US Coast Guard hanya memiliki satu heavy icebreaker yang operasional yaitu USCGC Polar Star, bersama satu medium icebreaker USCGC Healy. Keduanya kapal yang sudah berusia beberapa dekade, dan Polar Star sudah sering mengalami breakdown di tengah misi.

Hal pertama yang menarik dari memorandum ini adalah potensi PSC baru milik USCG ini untuk menggunakan propulsi nuklir. USCG dan US Navy belum pernah mengoperasikan icebreaker nuklir sebelumnya. Satu-satunya negara yang pernah mengoperasikan icebreaker nuklir adalah Rusia dengan kapal Arktika-class dan Taymyr-class yang memiliki displacement 21,000 ton. Kapal bertenaga nuklir memiliki keuntungan yaitu tidak bergantung pada isi ulang bahan bakar berkala seperti kapal konvensional, sehingga dapat beroperasi dalam waktu lama dengan dukungan replenishment-at-sea dan onboard freshwater generation. Namun kapal bertenaga nuklir memang mahal dan kompleks, serta pemakaian di icebreaker memiliki resiko operasional maupun lingkungan tersendiri. Taymyr sendiri beberapa kali mengalami kebocoran radiasi skala kecil.

Baca Juga:  Roketsan Turki Pamerkan Rudal Balistik Khan di IDEX 2017

Hal kedua yang menarik adalah PSC yang baru akan membawa persenjataan defensif. Ini karena icebreaker USCG di masa depan dapat terlibat konfrontasi agresif dengan kapal Rusia maupun kapal-kapal negara lain. Persenjataan defensif ini belum diperjelas dalam memorandum Trump, namun tahun 2017 Komandan USCG Admiral Paul Zukunft pernah mengatakan kepada Kongres US bahwa icebreaker masa depan harus memiliki beragam persenjataan, termasuk misil jelajah anti-kapal. Di era 1980an, Hamilton-class cutter pernah dilengkapi dengan misil anti-kapal RGM-84 Harpoon. Kapal jenis itu juga dilengkapi Phalanx CIWS dan autocannon 25mm Mk 38.

Sumber: Lighting Ii Chan

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan