Delapan Ancaman Negara Nirmiliter Menurut Menteri Pertahanan

12140697_895126160567070_7354101440697965597_n

Jakarta (ANTARA News) – Menteri Pertahanan Ryamizard
Ryacudu memiliki daftar ancaman bagi Indonesia secara
nonmiliter yang harus diwaspadai karena bisa
menghancurkan bangsa ini, baik secara cepat atau lambat.
“Ada dua jenis ancaman bagi negara ini, sebagaimana
sering saya katakan di dalam negeri ataupun luar negeri.

Pertama yang sifatnya nyata secara militer dan kedua, tidak
nyata atau belum nyata atau nirmiliter,” kata dia, kepada
pers, di Kantor Kementerian Pertahanan, di Jakarta, Senin.

Dia katakan itu kepada pers terkait program kerja
Kementerian Pertahanan tentang pembentukan 4.500 kader
bela negara di 45 kabupaten dan kota di seluruh Indonesia
dalam waktu dekat ini.
Secara resmi, pendadaran kader bela negara ini
dilaksanakan secara serentak pada 19 Oktober nanti.

Dia tegaskan, pendadaran ini bukan wajib militer; apakah
itu meniru atau mengacu pada negara-negara lain. “Ini
implementasi dari hak dan kewajiban warga negara kepada
bangsa dan negaranya. Kita sadarkan secara lebih nyata
kecintaan pada Tanah Air, itu juga bentuk bela negara,” kata
dia.


Menurut dia, ancaman nirmiliter itu diklasifikasikan menjadi
delapan kategori:

Dia memulai dari terorisme yang menjadi musuh
bersama semua bangsa. Indonesia telah berkali-kali
menjadi sasaran jaringan teroris.

Bencana alam juga menjadi potensi ancaman tersendiri,
terkhusus Indonesia berada di lingkar Cincin Api yang bisa
dipastikan menjadi negara yang harus bisa menanggulangi
bencana alam.

Baca Juga:  PBB Beri Penghargaan Kepada Personel Pasukan Perdamaian Yang Gugur

“Juga mencegah dampak lebih buruk. Itu sebabnya, dalam
mengakusisi persenjataan dan sistem persenjataan harus
bisa dikerahkan secara terintegrasi untuk keperluan itu,”
kata dia.

Dia mencontohkan rencana pembelian pesawat angkut
berat dan wahana amfibi yang bisa dikerahkan untuk
memobilisasi personel penanggulangan bencana atau
logistik terkait. “Termasuk pesawat terbang amfibi,” kata
dia.

Berikutnya adalah pelanggaran perbatasan negara:
“Lihat saja yang terjadi di antara kedua Korea, kalau ada
sedikit saja pelanggaran perbatasan negara, perang bisa
terjadi. Jadi perbatasan negara ini masalah sangat serius,”
katanya.

Setelah itu adalah potensi ancaman dari gerakan
separatisme, yang dia katakan, “Walau telah semakin
mengecil, namun tetap ada dan harus diwaspadai secara
seksama sekaligus mencari cara untuk merangkul mereka.”

Penyebaran penyakit juga menjadi hal yang dia catat
sebagai potensi ancaman bangsa ini, di antara yang paling
terkenal adalah virus MERS dan ebola ataupun flu burung.


Sebagai negara terbuka, kata dia, Indonesia sangat rawan
atas potensi serangan siber dari mancanegara. “Itu
sebabnya akan dibentuk pasukan siber yang terdiri dari
warga negara potensial. Anak-anak muda yang berbakat
dan ingin mengabdikan dirinya akan direkrut,” kata dia.

Selanjutnya adalah narkoba, yang menurut dia telah
menciptakan angka pecandu sampai 4,5 juta orang dengan
1,5 di antaranya sudah sangat sukar direhabilitasi. “Itu
angka dua bulan lalu, sekarang mungkin sudah lebih banyak
lagi,” kata dia.

Baca Juga:  Dandenmatra 2 Paskhas Buka Latihan Nagapasa Agra 2017

Yang terakhir adalah infiltasi budaya dan nilai-nilai, yang
dia bilang telah masuk secara perlahan, sistematis, dan
“terprogram”. “Mereka masuk sedikit dulu, lalu menyebar.
Targetnya jelas, bangsa ini hancur atau paling tidak menjadi
lebih lemah,” kata dia.

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan