Diam-Diam Saudi Makin Akrab Dengan Rusia

Dalam visual kasat mata, Arab Saudi tampak sedang berseteru dengan Rusia dalam konflik Suriah. Arab Saudi yang sejak awal pro oposisi berseberangan dengan Rusia yang pro Pemerintahan Bashar Assad. 

Namun dibalik meja, hubungan ekonomi Arab Saudi dan Rusia makin akrab. Dilansir laman berita rbth, selama sebulan terakhir, dua delegasi pejabat Rusia mengunjungi Arab Saudi. Yang pertama adalah kunjungan pemerintah Republik Ingushetia (Negara Bagian Rusia), termasuk Yunus-Bek Yevkurov, kepala republik tersebut. Lalu disusul dengan kunjungan Pemimpin Chechnya Ramzan Kadyrov dengan sekelompok pejabat dari republiknya. Agenda pertemuan itu membahas sejumlah proyek investasi tertentu.

Roti dan Minyak

Pertama-tama, delegasi Chechnya berkesempatan bertemu dengan Amin Nasser, presiden perusahaan minyak terbesar di dunia Saudi Aramco, dan Menteri Energi, Industri, dan SDA Arab Saudi Khalid al-Falih untuk mendiskusikan rencana pembangunan kilang minyak. 

Selama beberapa tahun, Chechnya telah mencoba untuk mendapatkan perusahaan minyak negara Rusia Rosneft, yang memproduksi minyak di wilayah Chechen, untuk mengambil langkah nyata memperbaiki fasilitas kilang yang dihancurkan pada masa perang dengan Angkatan Bersenjata Rusia pada 1990-an. Menyerah terhadap Rosneft, Ramzan Kadyrov lebih dari sekali menyatakan bahwa ia akan mulai mencari investor alternatif, dan kini peran tersebut mungkin dimainkan Arab Saudi.


Proyek yang lebih berkesan adalah pembangunan terminal biji-bijian di Arab Saudi, yang dapat digunakan untuk pasokan biji-bijian dari Rusia. Dalam beberapa tahun terakhir, Arab Saudi secara praktis telah menghentikan penanaman biji-bijian mereka sendiri karena hal itu menyebabkan kerusakan serius terhadap cadangan air negara yang langka. Akibatnya, impor biji-bijian Saudi terus meningkat dan Rusia sudah menguasai pasar mereka secara signifikan.

Pemimpin Republik Ingushetia Yunus-Bek Yevkurov (kiri) dalam kunjungannya ke Saudi Arabia. Sumber: spa.gov.sa
Menurut data Badan Bea Cukai Federal, pada 2015, Rusia memasok biji-bijian senilai 547,6 juta dolar AS untuk Arab Saudi, membuat komoditas tersebut menjadi ekspor terbesar Rusia untuk Arab Saudi. Namun, sejauh ini Rusia hanya memasok jelai, sedangkan tepung, jagung, dan sereal lain secara praktis absen dari campuran ekspor. 

Baca Juga:  Uji Perdana Helikopter Ka-52 Alligator Untuk Pembeli Luar Negeri

Pada Juni tahun ini, seorang delegasi dari Badan Pengawas Produk Olahan Hewan dan Kesehatan Tanaman Rusia (Rosselkhoznadzor) mengunjungi Arab Saudi. Di sana, mereka mendapat jaminan bahwa tak ada lagi hambatan bagi eksportir biji-bijian Rusia. Selain itu, dengan kehadiran terminal biji-bijian, posisi mereka di pasar Saudi mungkin meningkat secara signifikan. 


Di sisi lain, kesepakatan dengan lembaga mandiri lain, Otoritas Investasi Umum Arab Saudi (SAGIA), tercapai melalui pencarian gabungan proyek investasi di Rusia dan kemungkinan pendampingan bagi perusahaan Rusia untuk memasuki pasar Arab.

Kemungkinan tercapainya semua kesepakatan ini muncul setelah Presiden Vladimir Putin bertemu langsung dengan Wakil Putra Mahkota Arab Sausi Mohammed bin Salman di Forum Ekonomi Sankt Peterburg pada 2015 lalu. Rencana untuk bekerja sama dengan Rusia kembali dikonfirmasi pada awal 2016 oleh Menteri Luar Negeri Saudi Adel al-Jubeir, yang menyampaikan bahwa volume perdagangan antara Arab Saudi dan Rusia tak bergantung dari ukuran perekonomian kedua negara.

Faktor Islam

“Rusia dan Arab Saudi telah bersaing di dunia perminyakan sejak 1970-an. Kompetisi tersebut akan meningkat dengan pengembangan sumber energi alternatif dan kemunculan sumber daya material baru, terutama di pasar seperti Eropa, subkontinen India, dan Tiongkok,” kata Ketua Dewan Direksi Lembaga Konsultasi Creon Energy Fares Kilzie. 

“Namun, dalam beberapa kesempatan, Saudi menjadi lebih fleksibel. Sinyal pertama ialah pembangunan jalur pipa minyak Rusia dari Siberia Timur ke Samudra Pasifik menuju Tiongkok, dan dengan kabar mengenai jalur pipa gas Power of Siberia, kelenturan mereka semakin terlihat.”

Baca Juga:  AU Thailand Rilis Detail Program Upgrade F-5 Tiger

Pemimpin Chechnya Ramzan Kadyrov berkunjung ke Arab Saudi, padahal di medan perang Suriah, Chechnya mendukung Pemerintahan Assad. Foto: arabnews.com
Menurut sang pakar, kedua proyek mungkin akan membuat Arab Saudi kehilangan pasar utama mereka di masa mendatang karena mereka akan mengirim sejumlah besar minyak dan gas yang dapat memenuhi kebutuhan Tiongkok. Masuknya Rusia ke pasar minyak dan gas India juga menciptakan kekhawatiran bagi Riyadh, yang mulai meninggalkan pasar AS dan sebagian pasar Eropa pada AS sendiri. Oleh karena itu, Saudi mulai menyusun kesepakatan dengan Rusia.

Sementara untuk titik masuknya investasi Saudi ke Rusia, Chechnya dan Ingushetia sepertinya cukup cocok untuk itu. Jelas bahwa faktor Islam memainkan peran di sini.

Namun, kita tak bisa berharap bahwa janji investasi Saudi akan mencapai Rusia, atau setidaknya Chechnya, dalam waktu dekat. Fares Kilzie menyebutkan bahwa Saudi pernah memiliki rencana besar bekerja sama dengan Tatarstan, tapi pada akhirnya tak ada satu pun proyek gabungan besar yang terimplementasi.

Kini Arab Saudi dan negara-negara Teluk penghasil minyak mengangkat isu untuk menarik investasi asing, yang belum pernah terjadi sebelumnya. 

“Ini adalah tanda yang sangat serius yang menunjukkan bahwa mereka menyadari bahwa mereka berada di situasi yang sulit karena harga minyak saat ini. Proyek investasi dan pengeluaran publik dipangkas, banyak proyek yang ditunda. Oleh karena itu, Saudi kini tertarik terhadap investasi asing, baik itu dari kita atau orang lain,” kata Kilzie menyimpulkan.

Pertama kali dipublikasikan dalam bahasa Rusia oleh Vzglyad dan dikutip dari laman rbth.com

Advertisements

Tinggalkan Balasan