Diancam Korea Utara, Penduduk Guam Minta Donald Trump Untuk Melihat Peta

Rudal Hwasong-14 milik Korea Utara. Sumber: KRT AP Video

Hubungan Amerika Serikat (AS) dan Korea Utara (Korut) kembali memanas seiring dengan jatuhnya sanksi terbaru PBB yang memangkas kuota ekspor impor Korut. Pemimpin Korut, Kim Jong Un pun mengancam siap menyerang kepulauan Guam milik AS.

Presiden AS, Donald Trump tak kalah garang. Dia malah balik menantang Korut untuk menunjukkan nyalinya jika berani menyerang. Setiap serangan akan dibalas AS dengan “amarah yang tak pernah terbayangkan” sebelumnya.

Respon keras Donald Trump ini malah menimbulkan kepanikan warga negara AS di kepulauan Guam. Guam adalah pulau teritori AS di Pasifik. Selain basis militer juga banyak warga sipil asli Guam yang bermukim di pulau seluas 550 hektar tersebut.

Dengan jumlah populasi 160.000 orang, Guam adalah rumah bagi 6.000 tentara AS di Naval Base Guam dan Andersen Air Force Base. Pulau itu memiliki cuaca tropis yang populer di kalangan turis.

Salah satu pulau Mikronesia itu terletak kurang dari 3.000 km utara Australia dan hanya sekitar 3.400 km dari tenggara Pyongyang, merupakan teritori AS paling barat. Kawasan itu dikuasai AS dari Spanyol pada 1898 saat perang Amerika-Spanyol.

Dikutip dari News.com.au pada Rabu (9/8/2017) warga AS di Guam malah ketakutan,

“Kami bisa hancur berkeping-keping,” kata mantan guru bernama Eileen Benavente-Blas dalam komentarnya di laman komunitas Facebook.

“Jangan-jangan, Trump tidak tahu di mana Guam berada sementara dia berkicau dalam Twitter bahwa pulau kami berada dalam ancaman nuklir Korea Utara,” lanjutnya.

Baca Juga:  Pesawat Militer Amerika Mendarat Darurat di Aceh

Sementara penduduk dengan akun Milan Strong InFaith menulis dengan kekhawatiran sama.


“Bilang pada dunia, kami– Guam– adalah pion dari perang. Ancaman kerusakan beruntun di depan mata, seperti korban yang akan berjatuhan gara-gara dua pemimpin manja dan busuk Trump dan Kim,” tulisnya.

“Kim ingin membunuh kami dengan ICBM (rudal antar benua) miliknya karena kami merupakan bagian dari AS… sementara AS ingin menghancurkan kehidupan kami semua dengan cara militerisasi untuk memporak-porandakan ekosistem kami,” tulis akun Milan.

“Para pribumi Chamorro, tak memiliki suara terhadap para tiran. Benarkah ini kebebasan kami? Bahkan saya tidak pernah memilih presiden AS yang menjadikan rumah kami sebagai tameng dengan menjadi target di kawasan Asia-Pasifik. Di mana suara kami?” lanjut Milan.

Komentar pedas Trump kepada uji coba rudal Korut dinilai banyak ahli justru menjerumuskan AS.

Padahal sejauh ini jajaran menteri Trump mengatakan bahwa aksi militer terhadap Korea Utara adalah opsi terakhir.

Namun, Trump yang tak bisa menjaga mulutnya itu membuat Pyongyang naik pintam.

Jika benar Korut menyerang AS, Washington DC akan menyiagakan kekuatan penuh. Dilaporkan mereka memiliki 60 hulu ledak nuklir.

“Mengancam Korea Utara sama saja meminta doa lewat Paus — yang berarti akan segera didoakan. Dengan kata lain, Korut akan melayani ancaman itu,” kata John Delury dari Yonsei University di Seoul.

Baca Juga:  Mundur Beli F-35, Kanada Ganti Pilih F/A-18 Super Hornet

Sementara itu komentator keamanan Ankit Panda mengatakan, pernyataan Trump adalah ‘berbahaya dan tak biasa’. Adapun anggota Kongres, Eliot Engel dari Partai Demokrat di Urusan Luar Negeri, mengkritik Trump yang membuat Kim Jong-un tersinggung.

“Korea Utara itu ancaman nyata, tapi Presiden bereaksi luar biasa. AS tidak perlu merespons omongan tidak penting Korea Utara,” kata Engel.

 

Ancaman Pyongyang kepada Guam datang dua hari setelah Dewan Keamanan PBB menyetujui sanksi baru bagi Korea Utara.

Ini bukan kali pertama Korea Utara mengancam Guam.

Pada bulan lalu, Pyongyang sukses menguji coba dua ICBM. Uji coba pertama disebut Kim sebagai hadiah bagi ‘si brengsek AS’ — memperlihatkan senjata itu mampu mencapai Alaska.


Uji coba kedua bahkan mencapai jarak lebih jauh lagi. Beberapa ahli mengatakan Australia berada dalam jangkauannya.

Delegasi Guam di Kongres AS, Madeleine Bordallo mengatakan ancaman itu merepotkan namun, dia ‘percaya diri bahwa Guam akan aman dan terlindungi’.

Advertisements

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan