Doktrin Kapal Selam Jepang Selama Perang Dunia II

Imperial Japanese Navy/IJN (AL Kaisar Jepang) memiliki armada kapal selam sebanyak 174 unit selama Perang Dunia II. Mereka memulai perang dengan 63 kapal selam ocean-going, dan menambah sebanyak 111 kapal saat perang berlangsung. Jepang mengoperasikan beragam jenis kapal selam mulai dari midget sub, hingga cruiser sub berukuran besar dengan beberapa varian khusus yang membawa pesawat.

Garis besar dari doktrin kapal selam IJN adalah, kapal selam berfungsi sebagai pengintai yang tugas utamanya adalah mendeteksi, membayangi, lalu menghancurkan kapal-kapal naval task force Sekutu. Konsekuensinya, tidak seperti kapal selam AL Amerika Kriegsmarine yang dioperasikan sebagai commerce raider terhadap perkapalan lawan yang menghancurkan merchant ship untuk memutus jalur laut dan suplai musuh, kapal selam IJN malah beroperasi melawan kombatan permukaan lawan.

Merchant ship adalah sasaran yang empuk karena lambat, mayoritas tidak memiliki senjata sendiri dan bergantung pada kapal pengawal. Akan tetapi, kombatan permukaan jelas adalah sasaran yang alot berhubung mampu melaju kencang dan dilengkapi dengan senjata sehingga mampu menggigit balik saat diincar.

Doktrin kapal selam IJN yang bersifat ofensif ini sempat membuahkan beberapa hasil di tahun 1942, dengan penenggelaman kapal induk USS Yorktown, USS Wasp, destroyer USS Hammann, cruiser USS Juneau, serta merusak USS North Carolina dan destroyer USS O’Brien. Namun kesuksesan doktrin ini makin menurun, terlebih lagi di atas tahun ’43 dimana kemampuan senjata anti kapal selam Sekutu telah berkembang jauh setelah belajar dari pengalaman di Samudra Pasifik.

Baca Juga:  Northrop YB-35, Proyek Pesawat Pengebom Intercontinental Amerika di Perang Dunia II

Alhasil, kekuatan kapal selam IJN selama PD II jarang menimbulkan ancaman terhadap merchant shipping Sekutu. Selama perang, Jepang menenggelamkan 184 merchant ship lawan dengan bobot total 907,000 GRT. Sebaliknya, Jerman menenggelamkan 2,840 kapal dengan bobot total 14.3 juta GRT, US 1,079 kapal dengan bobot total 4.65 juta ton, dan Inggris 493 kapal dengan bobot total 1.52 juta ton.

Memang ada kejadian dimana kapal selam IJN menenggelamkan merchant ship Sekutu, namun bisa dilihat dari angka diatas bahwa usaha mereka minor bila dibandingkan dengan angkatan-angkatan laut lain. Sisanya, kapal selam Jepang biasa menunggu armada masif musuh yang tidak pernah datang dan melakukan pengintaian yang super riskan di pintu masuk pangkalan laut lawan.

Doktrin laut Jepang secara keseluruhan menekankan harus diadakannya sebuah pertempuran laut habis-habisan (single decisive battle) yang melibatkan seluruh armada mereka melawan seluruh armada lawan (guerre d’escadre, fleet vs fleet warfare). Dari sini dapat dilihat bahwa pemikiran IJN berpusat pada perang singkat yang menentukan, bukan perang berdurasi lama. Hal ini sebetulnya sedikit bisa dipahami, karena lawan yang mereka tantang adalah sebuah calon superpower dengan potensi dan kapasitas industri yang jauh melebihi mereka. Perang dengan US harus diakhiri secepat mungkin, karena mereka akan kehabisan darah terlebih dahulu dalam konflik jangka panjang.

Namun akibatnya, mereka tidak mampu melihat vitalnya logistik bagi lawan dalam extended campaign. Produksi merchant ship total US berada di angka 33,993,230 ton, sedangkan Jepang di 4,152,361 ton. Jumlah produksi merchant ship AS dalam 4.5 bulan pertama di tahun 1943, berada jauh lebih banyak ketimbang produksi merchant ship Jepang selama 7 tahun. Ini karena AS harus membangun urat-urat nadi yang bisa dipakai untuk mengirim pasokan konstan melintasi Samudra Pasifik. Kekuatan AS bertempur jauh dari rumah, makanya mereka bergantung pada keberadaan jalur laut.

Baca Juga:  Aksi Kamekaze Pilot Jepang Yang Gagal, Malah Bikin Gambar Yang Bagus

Disini, terdapat tiga kegagalan IJN yang disebabkan oleh kurang sadarnya mereka akan pentingnya SLOC (sea lines of communication) :


(1) Gagal memanfaatkan potensi kapal selam sebagai commerce raider untuk memutus urat nadi AS dalam perang di Pasifik.

(2) Gagal menggenjot kemampuan Senjata Anti Kapal Selam sejak dini untuk melawan Silent Service USN yang berusaha memutus urat nadi mereka.


(3) Ya, gagal juga memikirkan bagaimana kekaisaran mereka yang nantinya terdiri dari Greater East Asia Co-Prosperity Sphere, juga benar-benar akan bergantung pada keberadaan SLOC dan aliran logistik. Dapat dilihat dari produksi merchant ship yang baru dipacu pada tahun 1943 bahwa hal ini tidak dipikirkan dengan serius.

-Hex

http://www.combinedfleet.com/ss.htm

https://en.wikipedia.org/wiki/Submarines_of_the_Imperial_Japanese_Navy#World_War_II

http://www.combinedfleet.com/economic.htm

1 Komentar

Tinggalkan Balasan