Don Kirlin, Pengusaha AS ini Membeli 46 Pesawat F/A-18 Hornet Bekas AU Australia

Pada tanggal 5 Maret 2020, Department of Defense Australia mengeluarkan pengumuman bahwa 46 unit F/A-18A/B Hornet milik Royal Australian Air Force (RAAF/AU Australia) akan dijual ke perusahaan kontraktor swasta asal Amerika Serikat (AS), Air USA.

Hornet pensiunkan oleh RAAF secara bertahap hingga 2021, untuk mengantisipasi kedatangan pesanan pesawat F-35A Lightning II yang berjumlah total 72 unit.

Pemilik Air USA Don Kirlin menjelaskan mengenai detil pembelian tersebut.
Pembelian yang dilakukan sudah mencakup semua spare part F/A-18 yang dimiliki RAAF beserta peralatan uji dengan nilai total lebih dari $1 milyar.

Dari 46 unit Hornet yang diakuisisi oleh Air USA, 36 berada dalam kondisi siap terbang. Kondisi 10 pesawat lainnya di-grounded karena rusak dan sebagainya.

RAAF yang dimiliki Hornet bukanlah Hornet yang tua banget, berhubung RAAF telah menerapkan beberapa peningkatan kapabilitas untuk menjamin relevansi fleet Classic Hornetnya hingga ada pengganti.

Semua Hornet A/B yang didapatkan Air USA memiliki radar AN/APG-73, sama dengan radar yang dimiliki F/A-18C/D maupun Super Hornet. Selain itu, Hornet RAAF juga dilengkapi dengan bolt-on EW pod Elta EL-L/8222. Terlebih lagi radar dan EW pod yang dmiliki Hornet tersebut terintegrasi sehingga pesawat memiliki kemampuan jam-and-shoot, yang menurut penuturan Kirlin, tidak disediakan perusahaan lain di pasar agresor. Kapabilitas ini penting untuk meniru ancaman pesawat tempur yang canggih.

Don Kirlin menjelaskan lebih lanjut bahwa semua pesawat memiliki konfigurasi yang hampir sama ketika masih beroperasi di bawah militer Australia. Jet-jet tersebut datang dengan targeting pod AN/AAQ-28 LITENING serta 68 Joint Helmet Mounted Cueing Systems (JHMCS). Sistem datalink Link 16 hingga kanon 20mm M61 Vulcan pun juga datang bersama pesawat. Akan tetapi Hornet-Hornet tersebut tidak akan datang dengan software Australia, maupun peralatan terlarang lainnya. Pesawat juga dijual sebagaimana aslinya tanpa garansi.

Baca Juga:  Siap Buka Bengkel di Indonesia, HAL India Ingin Dikenal Dunia

Semua pesawat berada dalam kondisi baik dengan korosi minimum karena telah dioperasikan di wilayah kering dan panas, bukan di laut seperti Hornet milik US Navy. Pesawat-pesawat RAAF tersebut juga tidak mengalami airframe stress yang selalu dialami pesawat yang dioperasikan dari kapal induk, sehingga masih akan dapat digunakan hingga tahun 2035 atau bahkan lebih. 10 pesawat telah menjalani upgrade struktural berupa penggantian center barrel section karena fatigue, namun pesawat-pesawat yang lain tidak perlu.

Untuk dibawa ke AS, sayap luar dan bagian ekor pesawat akan dilepas. Pesawat yang tidak bisa terbang akan dibawa dengan ocean freighter dan setelah sampai, akan perlu waktu pengerjaan 60 hari hingga pesawat siap diterbangkan. Pesawat-pesawat ini akan dikirimkan belakangan. 36 pesawat lainnya akan diterbangkan langsung ke US, melintasi Samudra Pasifik dengan bantuan pesawat tanker. Kirlin belum yakin mengenai paint scheme yang akan digunakan Hornet Air USA, namun ia menyukai paint scheme yang dipakai MiG-29 mereka. Paint scheme loreng tri-color (putih-biru-abu abu muda) yang digunakan MiG-29 Air USA dapat digunakan kembali di Hornet, namun Kirlin juga menyebutkan bahwa ia senang-senang saja apabila Hornet perusahaannya mendapat paint scheme jet black.

Ada tiga faktor utama yang dipertimbangkan Kirlin ketika akan mengakuisisi pesawat agresor. Pertama, ia lebih menyukai pembelian pesawat yang siap terbang dan bukan pesawat yang telah di-mothball sekian tahun apabila memang memungkinkan. Kedua, ia menginginkan pesawat yang lebih canggih dari pesaingnya, misal Mirage F-1 dan Atlas Cheetah milik Draken serta ATAC. Ketiga, ia mempertimbangkan bahwa kerjasama dengan beberapa original equipment manufacturers (OEM) luar US adalah hal yang tidak mudah. Itulah mengapa Hornet dari RAAF akhirnya diakuisisi, terutama mengingat ketersediaan OEM domestik (Boeing) serta opsi support and maintenance outsourcing ke kontraktor yang biasa mengerjakan Hornet USMC maupun US Navy.

Baca Juga:  Takut Diserbu Rusia, Amerika Kirim Ratusan Tank ke Jerman

Salah satu hal menarik yang juga dijelaskan oleh Kirlin adalah strategi Air USA di pasar agresor. Air USA tidak hanya menawarkan jet tempur dengan kapabilitas terbaik, namun memiliki menu yang besar bagi pelanggan, dan membuka opsi bagi mereka untuk memesan pesawat sesuai kebutuhan. Pelanggan hanya perlu membayar sesuai keperluan. Itulah mengapa Air USA memiliki fleet pesawat yang sangat beragam, terdiri dari 10 Hawk, 4 L-39ZA, 2 L-39, 5 turboprop PC-9, 17 Cessna T337 Turbo Skymaster dan 10 F-5E Tiger II. Misi air-to-air dasar seperti radar intercept training dapat menggunakan PC-9 atau L-39. Dynamic fighter training dapat dilakukan dengan Hawk atau Tiger II. Latihan air-to-air paling canggih dapat dilakukan dengan Hornet yang telah didapatkan dari RAAF. Latihan JTAC kering tanpa senjata dapat menggunakan Cessna dan apabila harus memakai senjata, dapat menggunakan PC-9 maupun Hawk dan L-39.