Donald Trump Akan Bawa Amerika Jadi Apatis


Donald Trump akhirnya terpilih menjadi Presiden Amerika Serikat (AS) dalam pemilihan presiden kemarin, 09/11/2016. Terpilihnya Trump cukup mengejutkan karena pada masa kampanye, popularitasnya kalah menurut media massa di AS. Di luar negeri, citra Trump juga digambarkan sangat buruk.

“Make America Great Again” demikian slogan kampanye Trump. Yang paling diminati rakyat AS dari Trump adalah janjinya yang akan mengutamakan perubahan kebijakan di dalam negeri daripada ngurusin negara orang. 

Sumber daya ekonomi AS hampir terkuras habis untuk membiayai aksi sebagai polisi dunia. Krisis ekonomi sejak 2008 meningkatkan jumlah pengangguran, tunawisma.  Kota-kota pusat Industri menjadi kota mati. Dan pelan tapi pasti, China terus menggerogoti satu per satu bisnis strategis AS untuk dibawa ke daratan Tiongkok. 

Sebagian masyarakat AS menyadari, bahwa mereka tak lagi “Great” tapi hanya sekedar “big”. Mirip orang obesitas, badan besar tapi penuh ancaman serangan penyakit yang harus dicegah.

Trump ingin masyarakat AS melupakan konflik di timur-tengah. Biarkan saja mereka berperang satu sama lain, toh cadangan minyak AS yang disedot dari Arab lalu ditimbun di Texas sudah lebih dari cukup untuk 200tahun ke depan. 


Perketat semua pintu masuk orang asing ke AS. Bila perlu tak boleh lagi ada pengungsi masuk. Orang Suriah, Irak, Meksiko dan dari negara konflik mana pun tak seharusnya lari dari masalahnya ke AS. Mereka harus menyelesaikan masalahnya sendiri di dalam negaranya meskipun harus mati. Apa urusanya dengan AS? , kata Trump dalam salah satu kampanye.

Baca Juga:  Tolak Wahabi, Qatar Diembargo Arab Saudi dan Negara Teluk Lainya

Trump boleh saja dibenci dan tidak popular bagi masyarakat luar negeri tapi warga kulit putih AS yang merasa lebih dulu datang ke tanah Indian, yang sekarang mulai tersingkir dengan warga kulit lain yang datang belakangan, Trump adalah harapan.

Bukan bermaksud rasis, orang-orang kulit putih memang berhak merasa sebagai “pribumi” di tanah Indian. Mereka yang membuka lahan, berperang melawan suku Indian, berjuang mati-matian bertransmigrasi demi penyebaran penduduk pada tahun 1800-an. Berperang melawan Inggris untuk kemerdekaan. Saling bunuh dalam perang saudara demi konstitusi negara. Hingga akhirnya AS mulai berjaya selepas Perang Dunia ke-2.

Lalu datanglah gelombang imigran dari tanah Arab, Amerika Selatan dan Asia Selatan. Mereka kemudian tiba-tiba, ujug-ujug, mendapat hak yang setara dengan kulit putih. Siapa yang gak sakit hatinya? kurang lebih rasa yang mereka alami sama persis dengan yang mengaku-ngaku penduduk pribumi Indonesia.

Apakah AS tak takut disalip China dan Rusia?

Butuh waktu 200tahun bagi China dan Rusia untuk menyamai kekuatan militer AS. Paman Sam masih negara dengan armada tempur paling digdaya. Dengan formasi serang 3 kapal induk, itu sudah setara dengan kekuatan militer China 100%. 

Trump tak perlu khawatir soal kekuatan militer. Justru dengan bersikap apatis (membiarkan) pada konflik di Timur Tengah, jutaan dollar dari pesanan senjata kan mengalir masuk tanpa perlu keluar sepeser pun.

Baca Juga:  Perang Suriah Jilid II Turki vs Kurdi

Sekali lagi masalahnya adalah ekonomi. Gara-gara krisis yang terus berkepanjangan. Banyak proyek alutsista yang terpaksa dipangkas atau bahkan dihentikan seperti kapal perang LCS.

Yang ditunggu soal kebijakan Trump untuk Israel, beranikah dia membiarkan saja Israel tanpa bantuan dari pemeritahanya?

Patut ditunggu atau sama saja dengan Presiden sebelumnya.

2 Komentar

  1. Tidak satupun jurnalis yg saya temui di Indonesia benar2 seorg jurnalis sejati. Mulai dr bahasa penulisan sampai isi pokok berita selalu saja tidak menarik, tidak objektif dan selalu memihak satu sisi, dan yang paling penting tujuan berita ini dan dampaknya untuk masyarakat apa? Apa ya? Nol

Tinggalkan Balasan