Donald Trump Bakal Pangkas Biaya F-35

Donald Trump, Presiden Terpilih Amerika Serikat (AS) langsung berupaya memotong biaya produksi jet tempur generasi ke-5 F-35 buatan Lockheed Martin. Pria berusia 70 tahun itu mengatakan biaya produksi F-35 telah melebihi batas kewajaran.

“Biaya program produkai F-35 sudah di luar batas kewajaran. Miliaran dolar dapat disalurkan untuk kebutuhan militer dan kebutuhan lainnya setelah 20 Januari 2017,” kicau Donald Trump di Twitter, seperti dimuat Reuters, Selasa (13/12/2016). 20 Januari adalah tanggal dimana Trump akan mulai resmi berkantor di Gedung Putih.

Kepala Program Lockheed Martin F-35, Jeff Babione, mengatakan perusahaannya paham akan perhatian mengenai keterjangkauan harga dan telah menanamkan jutaan dolar untuk mengurangi biaya produksi pesawat. 


Saham Lockheed Martin sendiri langsung anjlok 4% setelah kicauan Trump tersebut. 

Satu pekan sebelum pemilihan presiden (Pilpres) 8 November 2016, Kementerian Pertahanan dan Lockheed Martin menyelesaikan negosiasi untuk kontrak kerjasama kesembilan kali untuk memproduksi 90 unit jet tempur F-35. Kesepakatan tercapai setelah negosiasi selama 14 bulan lamanya.

JSF F-35 dengan insigna para sekutu Amerika. Foto: airliner

Sejak diproduksi, F-35 tak sepi masalah. Mulai dari konstruksi pesawat yang mudah retak, kursi lontaar yang tak berfungsi hingga helm pilot yang bisa menyebabkan cedera. 


Lockheed Martin memenangkan kontrak senilai USD7,2 miliar (setara Rp95 ribu triliun) pada penghujung November 2016. Mereka juga sudah menerima pembayaran sementara dari pihak Kementerian Pertahanan. Donald Trump sendiri dalam kampanyenya menuju Gedung Putih berulang kali berjanji untuk memotong anggaran pemerintah pusat yang dianggap memberatkan.

Lockheed Martin bersama mitra kunci mereka, Northrop Grumman Corporation, Pratt & Whitney, dan BAE System tengah mengembangkan serta membangun tiga varian dari jet tempur F-35. Varian tersebut nantinya akan digunakan oleh militer AS serta 10 sekutunya, termasuk Inggris, Australia, Norwegia, Denmark, Belanda, Italia, Turki, Israel, Jepang, dan Korea Selatan. (reuters/okezone)

Baca Juga:  Pertemuan Bersejarah Pemimpin Korea Utara dan Selatan

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan