Dua Kali Meledak, SpaceX Tetap Dapat Kontrak Falcon Heavy

Peluncuran Falcon Heavy (REUTERS/Thom Baur)

SpaceX akhirnya mengalahkan Lockheed Martin dan United Launch dalam tender peluncuran roket terbesar dan terkuat di dunia, Falcon Heavy untuk proyek satelit mata-mata AFSPC-52 milik Angkatan Udara Amerika Serikat.

Para pengamat militer beropini, bahwa kemenangan SpaceX ini karena AU Amerika sedang kekurangan dana sehingga memilih penawaran termurah. Padahal SpaceX sudah dua kali gagal menerbangkan roket dan meledak di angkasa sebelum mencapai orbit.

“SpaceX merasa terhormat telah terpilih oleh Angkatan Udara untuk menggunakan Falcon Heavy untuk peluncuran misi AFSPC-52,” jelas President and Chief Operating Officer SpaceX Gwynne Shotwell dalam pernyataan yang dikutip CNNMoney. Falcon Heavy rencananya akan terbang pada 2020

SpaceX memang menawarkan harga peluncuran yang sangat murah, hanya senilai Rp1,8 triliun (US$130 juta) padahal perusahaaan lainya dan perkiraan biaya menurut para pengamat,biaya peluncuran paling optimal di angkat 500juta dollar.

Sedangkan Lockheed Martin yang beraliansi dengan United Launch Alliance. Keduanya menawarkan biaya peluncuran menggunakan roket Delta 4 dengan biaya US$350 juta.

Harga yang kelewat murah inilah yang kemungkinan besar membuat Angkatan Udara AS luluh untuk akhirnya mengizinkan Falcon Heavy untuk membawa misi militer tersebut ke orbit.

Masalah izin tersebut terjadi lantaran SpaceX sempat gagal meluncurkan dua misi militer sebelumnya dengan Falcon 9. Satelit mata-mata Zuma milik Angkatan Udara yang bernilai miliaran dolar hilang. Selain itu, dua roket 9s juga meledak dalam uji coba peluncurannya.

Baca Juga:  Tank Leopard Jadi Juara Dalam Lomba Tank Eropa

Ini adalah misi kelima Falcon Heavy. Sebelumnya, roket ini sudah digunakan untuk mengangkut misi demonstrasi Air Force STP-2 dan satelit Arabsat yang rencananya akan dilakukan meluncur tahun ini.


Sementara itu, operator lain seperti Intelsat, Viasat and Inmarsat, juga memiliki jadwal peluncuran namun belum menentukan akan menggunakan roket mana untuk peluncuran tersebut.

Jadi sepertinya Falcon Heavy masih memiliki kesempatan untuk meluncurkan beberapa peluncuran lain sebelum menangani misi Angkatan Udara AS.


Sumber: CNN Indonesia

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan