Dubes Amerika Minta Maaf dan Siap Fasilitasi Panglima TNI Berangkat Lagi

Kedutaan Besar Amerika Serikat (AS) telah meminta maaf kepada Menteri Luar Negeri Retno Marsudi dan menyatakan “siap memfasilitasi” kepergian Panglima TNI Gatot Nurmantyo ke AS. Namun Dubes AS tidak menjawab mengapa pemerintah AS mengeluarkan pencekalan terhadap panglima.

Dalam pernyataan tertulis, Kedutaan Besar AS di Jakarta mengungkapkan bahwa “Duta Besar Joseph Donovan telah meminta maaf kepada Menteri Luar Negeri Retno Marsudi atas ketidaknyamanan yang dialami Jenderal Gatot.”

“Kedutaan AS telah, dan tetap, siap memfasilitasi perjalanan Jenderal (Gatot Nurmantyo) ke Amerika Serikat. Kami tetap berkomitmen pada Kemitraan Strategis dengan Indonesia sebagai cara menyampaikan keamanan dan kesejahteraan kepada kedua negara dan rakyatnya,” sebut pernyataan Kedubes AS seperti dirilis oleh BBC.

Bagaimanapun, pihak Kedutaan AS tidak menjelaskan mengapa pemerintahan Presiden Donald Trump mengeluarkan pencekalan terhadap Panglima TNI Gatot Nurmantyo.

Panglima TNI, Jenderal Gatot Nurmantyo, gagal bepergian ke Amerika Serikat sesaat sebelum menumpang pesawat di Bandara Internasional Soekarno-Hatta Cengkareng lantaran adanya penolakan dari pemerintah AS.

Menurut Kepala Pusat Penerangan TNI, Mayjen Wuryanto, beberapa saat sebelum keberangkatan ada pemberitahuan dari maskapai penerbangan Emirates bahwa Panglima TNI beserta istri tidak boleh memasuki wilayah AS oleh US Custom and Border Protection.

“Pihak TNI masih menunggu penjelasan atas insiden ini, mengingat kepergian ke AS melalui undangan Pangab (AS, Jenderal Joseph F Durford, Jr). Dengan demikian, Panglima TNI dan istri memutuskan tidak akan memenuhi undangan sampai ada penjelasan resmi dari AS,” tutur Wuryanto kepada wartawan, Minggu (22/10).

Baca Juga:  TNI AL Menutup Resmi Latihan Armada Jaya 2016

Saat ditanya apakah Panglima TNI tetap akan berangkat, Mayjen Wuryanto mengingatkan risikonya.

“Kalau langsung berangkat, tahu-tahu di sana tidak boleh, bahkan ditangkap, itu bagaimana?”

sumber : BBC.com
Editor : A. Ziyadi

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan