F-35 Tampil Impressif di Red Flag Dengan Rasio Kill Rate Mencapai 15:1

F-35s Lightning II dalam sebuah Heritage Show. Foto: theavionist.com

Latihan tempur bagi pesawat terbang, Red Flag, di Pangkalan Nellis Nevada Amerika Serikat telah diakui sebagai yang paling realistik di dunia. Taun ini pesawat tempur JSF F-35 menjadi bintangnya dengan menjadi pemenang dominan di udara mengalahkan pesawat tempur lainya dari berbagai varian. Performa F-35 di Red Flag ini seakan menjadi jawaban bagi derasnya kritikan terkait harganya yang super mahal.

Red Flag digelar dari tanggal 23 Januari sampai 10 Februari 2017. Tahun ini ada berbagai tambahan tantangan bagi pesawat dan pilotnya dibanding sebelumnya, seperti ancaman dari rudal permukaan ke udara (SAM/Surface to Air Missile) dan Senjata pengacau radar (Radar Jamming Equipment). Yang terpenting adalah penambahan musuh atau pesawat mock milik musuh Amerika seperti Sukhoi dan MiG buatan Rusia.

F-35 Lightining II berhasil menjadi bintang dengan Kill Rate mencapai 15:1 artinya hanya 1 F-35 yang jatuh berbanding dengan 15 pesawat musuh yang berhasil dihancurkan dalam simulasi doghfight di udara. Angka yang sangat mengesankan untuk sebuah pesawat yang tidak dirancang sebagai pesawat air superiority, atau pesawat tempur udara-ke-udara.

F-35s Lightning II dalam sebuah Heritage Show. Foto: theavionist.com

Menurut situs berita PopularMechanics, meskipun dalam beberapa kali simulasi F-35 telah kehabisan amunisi, tapi para pilot F-22 dan pesawat generasi ke-4 lainya tetap meminta F-35 untuk tidak mendarat dan melanjutkan dogfight di udara untuk perekaman data dan mempelajari manuvernya.

Baca Juga:  China Berambisi Segera Gantikan Amerika Sebagai Negara Adidaya

Salah satu keunggulan dari F-35 adalah kemampuan melakukan simulasi gerak musuh dan segera menginformasikanya pada pilot. Sehingga pilot bisa mengambil keputusan lebih cepat dalam bermanuver untuk segera mengunci musuhnya dan melepaskan rudal udara ke udara untuk menghancurkanya.

Demikian halnya ketika F-35 mengintersep pertahanan musuh. Selain berasil menghindari radar dengan fitur Stealthnya. F-35 berhasil mengidentikasi blank spot dari SAM, masuk ke dalamnya lalu menghancurkan SAM untuk membuka jalan bagi rombongan tempur lainya untuk mengebom sasaran.

Bahkan ketika dihadapkan dengan tiga atau empat SAM canggih yang berbeda dalam satu skenario, pilot F-35 mengumpulkan dan menggabungkan data dari banyak radarnya. Lalu tetap berhasil menyelinap tanpa terdeteksi sampai masuk dalam jangkauan dan menghancurkan ancaman

Demikian halnya ketika F-35 dalam sebuah misi flight campuran, pilot dapat mendeteksi dan menentukan beberapa ancaman dalam sekali terbang sehingga memudahkan bagi pesawat lainya untuk menghancurkan target sesuai skenario serangan.

Dalam kondisi kehabisan amunisi sekalipun, F-35 tetap memberikan peran signifikan dalam misi terbang dengan pesawat F-22 dan generasi ke-4 macam F-15 dan F-16. Kemampuan radarnya sangat bermanfaat untuk memberikan informasi pada rombongan pesawatnya tentang target sasaran lalu dieksekusi oleh pesawat lainya.

Ajang Red Flag ini juga memberikan pengakuan bagi kemampuan multi peran F-35 dan ini bisa menjadi senjata mematikan ketika dirinya bersanding pesawat air superiorithy F-22 Raptor.

Baca Juga:  Senjata Baru untuk F-35 Agar Bisa Menembak Rudal Balistik Antar Benua

“Ketika Anda memasangkan F-22 dan F-35 sebagai striker dengan pesawat generasi keempat di belakangnya, kami benar-benar mampu mendominasi berbagai tes dan pelatihan di atas ruang udara Nellis,” kata Letnan Kolonel George Watkins, komandan Jet Tempur Skuadron 34 kepada Aviation Week.

Sumber: Aviation Week, Popular Mechanics.

 

2 Komentar

  1. Setahu saya kill ratio ini adalah paduan F35 dengan F22, artinya F35 sebagai otak, F22 sebagai eksekutornya. Entah kalau F35 tanpa F22 diadu dgn F15/16 bagaimana kill ratio nya.
    Ada yg punya info itu?

Tinggalkan Balasan