Filipina Selidiki Video Kekerasan Tentara Pada Tawanan ISIS

Militer Fiipina mengatakan akan melakukan penyelidikan atas video yang memperlihatkan sekelompok tentara memukuli dan menendangi seorang militan ISIS yang tertangkap.

Insiden itu diperkirakan berlangsung pada masa-masa akhir perang untuk merebut kembali kota Marawi, di Filipina Selatan, yang sempat dikuasai oleh para militan ISIS.

Video yang diterbitkan oleh stasiun TV GMA pada Kamis (26/10) malam memperlihatkan seorang pria yang bergelimang lumpur dengan celana pendek dikelilingi para tentara Filipina di Marawi.


Pada saat dia dibawa dengan tangan terikat di belakang punggungnya, beberapa tentara mendekatinya untuk memukul maupun menendang, dan salah seorang tentara terdengar berteriak, “Kau membunuh banyak orang, tolol’.

Dan juru bicara militer Filipina, Mayor Jenderal Restituto Padilla, menegaskan akan menemukan tentara yang terlibat saat menanggapi video tersebut, Jumat (27/10).

“Angkatan bersenjata amat tegas menyangkut perlakuan atas tahanan dalam situasi konflik. Mereka seharusnya diperlakukan sopan dan terhormat, yang tidak terjadi dalam kasus ini,” jelas Mayjen Padilla kepada para wartawan, seperti dikutip kantor berita AFP.


Pekan lalu, Selasa (17/10) Presiden Rodrigo Duterte menyatakan Marawi sudah dibebaskan dari para militan Islam lewat perang yang berlangsung sekitar lima bulan.

Pernyataan itu disampaikan sehari setelah pria yang diyakini sebagai pucuk pimpinan ISIS untuk kawasan Asia Tenggara, Isnilon Hapilon, dilaporkan tewas dalam operasi militer di Marawi.

Baca Juga:  USS Carl Vinson (CVN 70) Kunjungi Vietnam Kali Pertama Sejak Perang Vietnam

Sekitar 500 militan ISIS -beberapa berasal dari luar negeri, termasuk Indonesia- berhasil merebut sebagian kota Marawi pada tanggal 23 Mei dan sejak saat itu diperkirakan menyebabkan jatuhnya korban jiwa 1.000 orang sementara 400.000 warga mengungsi dalam perang untuk merebutnya kembali.

Korban jiwa termasuk Lebih 800 militan sementara di kubu pemerintah sedikitnya 150 tentara tewas.

Perang selama lima bulan untuk merebut kembali Marawi -ibu kota Provinsi Lanao del Sur di Pulau Mindanao- itu juga menyebabkan 50 warga sipil ikut terbunuh.

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan