Hasil Investigasi, Penyebab Kecelekaan Pertama F-35 Karena Cacat Produksi

Kecelakaan pertama pesawat tempur generasi ke-5 F-35B di South Carolina pada 28/09/2019 milik AU Amerika Serikat telah selesai diinvetigasi.

Hasil investigasi itu yang dilakukan oleh Kantor Akuntansi Pemerintah (GAO) menyebutkan bahwa penyebabnya adalah cacat produksi. Cacat produksi itu terjadi pada tabung bahan bakar yang dibuat oleh subkontraktor United Technologies.

“Cacat itu menyebabkan tabung bahan bakar mesin pecah selama penerbangan, mengakibatkan hilangnya daya ke mesin,” bunyi laporan GAO, sebagaiman dikutip dari Bloomberg, Senin (13/5/2019).

Akibat dari kecelakaan itu, Inggris, Osrael dan Australisa sempat mengandangkan pesawat sejenis.


Kementrian Pertahanan AS mengatakan bahwa pihaknya mengidentifikasi 117 pesawat sekitar 40 persen dari armada F-35 di seluruh dunia pada saat itu dengan jenis tabung bahan bakar yang sama yang harus diganti.

Pengungkapan itu adalah informasi resmi pertama tentang kecelakaan itu sejak kantor program Pentagon untuk F-35 pada akhir Oktober mengeluarkan pernyataan status sementara Korps Marinir masih melakukan penyelidikan. “Pratt & Whitney dari United Technologies Corporation bertanggung jawab penuh untuk sistem propulsi,” kata kantor program saat itu.

Seorang juru bicara kantor program Pentagon untuk F-35 menunda berkomentar atas kesalahan dari Pratt & Whitney. Sedangkan juru bicara Pratt & Whitney, John Thomas, mengatakan perusahaan tidak memiliki komentar.

Juru bicara Korps Marinir Kapten Chris Harrison mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa penyelidikan kecelakaan terus berlanjut, dan hasilnya akan dirilis setelah selesai. Korps Marinir telah mengganti semua tabung pasokan bahan bakar yang relevan.”Dan kami terus berusaha setiap hari untuk memastikan keamanan dan kesiapan pesawat kami,” katanya.

Baca Juga:  Qatar Beli Tank MBT Altay Buatan Turki

F-35 adalah program senjata Pentagon yang paling mahal, dengan biaya yang diproyeksikan lebih dari USD428 miliar.


Dalam kecelakaan F-35B 28 September 2018 di dekat Beaufort, South Carolina, pilot terlontar dengan selamat.

Kecelakaan kedua dialami jet tempur F-35A Jepang pada bulan lalu di lepas pantai Jepang, Samudra Pasifik. Sebagian dari puing jet tempur siluman tersebut telah ditemukan, namun penyebab kecelakaan belum diketahui. Pilot Jepang yang menerbangkan jet tempur tersebut juga belum ditemukan.

Kantor program Pentagon untuk F-35 mengatakan pada tahun lalu bahwa lebih dari 1.500 pemasok berada di program F-35. “Dan ini adalah insiden terisolasi yang dengan cepat ditangani dan diperbaiki. Keselamatan adalah tujuan utama kami,” kata kantor tersebut.

Bagian yang rusak yang diidentifikasi dalam laporan yang memberikan tekanan pengoperasian ke mesin dan bahan bakar ke ruang bakar mesin.

Selain cacat, rekam jejak Pratt & Whitney baru-baru ini dalam mengantarkan mesin secara tepat waktu juga tidak jelas. Menurut GAO, pengiriman mesin meningkat menjadi 81 pada 2018 dari 48 pada 2012, namun 86 persen pengiriman terlambat. Jumlah pengiriman mesin tahun 2018 itu juga naik 48 persen pada akhir 2017.

Pratt & Whitney mengatakan kepada GAO bahwa pengiriman mesin yang terlambat meningkat pada tahun 2018 sebagian karena subkontraktor yang tidak memiliki semua perkakas yang diperlukan untuk menghasilkan lebih banyak mesin F-35B.
Sumber: sindonews.com

Baca Juga:  Lockheed Martin Dapat Kontrak Kedua untuk Pengembangan Senjata Hipersonik Amerika

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan