HMS Prince of Wales, Kapal Induk Baru Inggris Siap Lakukan Uji Laut Perdana

Kapal induk terbaru Inggris, HMS Prince of Wales, dijadwalkan berlayar untuk pertama kalinya dalam uji coba di laut luas. Saudara dari kapal induk HMS Queen Elizabeth itu telah keluar dari galangan kapal Rosyth pada Kamis petang.

HMS Prince of Wales dibangun dengan dana sekitar 3 miliar poundsterling (lebih dari Rp52,9 triliun). Kapal telah memasuki Firth of Forth pada Kamis sore menjelang uji coba di laut luas di timur laut Skotlandia.

Kapal induk terbaru Inggris ini panjangnya 280 meter (919 kaki) dan berat 65.000 ton.

HMS Prince of Wales dan HMS Queen Elizabeth menjadi dua kapal induk terbesar yang dibangun untuk Angkatan Laut Kerajaan Inggris dari yang pernah ada sebelumnya.

Kedua kapal itu lebih panjang dari gedung Parlemen. Keduanya bisa memuat tiga lapangan sepakbola di setiap geladak penerbangan yang besar.

HMS Prince of Wales dan HMS Queen Elizabeth dibangun untuk membawa hingga 36 jet tempur siluman F-35 serta helikopter. Namun, pada kenyataannya mereka akan secara rutin berlayar dengan kurang dari setengah jumlah jet tempur tersebut.


Angkatan Laut dan pemerintah Inggris percaya bahwa kedua kapal itu sebagai perwujudan ambisi global maritim negara tersebut. Namun, para pengkritik mengklaim bahwa kedua kapal tidak akan cocok dengan kebutuhan dan kemampuan Inggris.

Setelah keluar dari galangan kapal, HMS Prince of Wales akan “duduk” di jangkar, sebelum mengajukan uji coba pada minggu ini.

Baca Juga:  Deal, India Beli Rudal Barak 8 Dari Israel Senilai 11 Triliun Rupiah

HMS Prince of Wales, yang akan berbasis di Portsmouth, dirakit di Rosyth dari 52 blok yang dibangun oleh enam galangan kapal di seluruh Inggris, dengan konstruksi dimulai pada 2011.

Menteri pemerintah Inggris untuk pengadaan pertahanan, Anne-Marie Trevelyan, mengatakan operator baru itu memberi Inggris “kemampuan terkemuka dunia”.


“Kapal induk baru itu secara efektif merupakan lapangan terbang terapung yang dapat memberikan kekuatan tempur yang kredibel di mana saja di dunia serta mendukung operasi diplomatik dan kemanusiaan,” katanya, dikutip BBC, Jumat (20/9/2019).

Trevelyan menambahkan, begitu kedua kapal induk itu beroperasi penuh, salah satu operator akan berada dalam kondisi siap setiap saat.

Sumber: sindonews.com

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan