Ilmuwan Rusia Bantu Pengembangan Rudal Nuklir Korea Utara

Kim Jong Un memeriksa Rudal Hwasong-15. Foto: scmp.com

Hubungan Rusia dan Korea Utara ternyata sama akrabnya dengan hubungan Uni Soviet – Korea Utara. Sebagai pewaris kejayaan Soviet, Rusia mungkin masih mewarisi rasa solidiratas yang sama tinggi untuk Korea Utara.

Dalam sebuah laporan tentang pesatnya perkembangan kekuatan rudal nuklir Korea Utara yang semakin menakutkan. Ternyata ada ilmuwan Rusia yang turut membantu.

Klain tersebut dirilis dalam laporan dari sebuah dokumen yang dirilis oleh Washington Post dari salah satu produsen rudal era Soviet.

Pada awal 1990-an, setelah jatuhnya Uni Soviet, investor Amerika Serikat dilaporkan berusaha menggaet ilmuwan Rusia yang sebagian besar menganggur dan sangat membutuhkan uang untuk mendapatkan teknologi militer Soviet yang canggih.

Namun usaha tersebut gagal selain karena ketatnya penjagaan intelijen Rusia juga karena rasa nasionalisme yang tinggi dari para ilmuwan untuk tetap menolak faham kapitalisme.

Korea Utara mengambil kesempatan itu. Menggunakan jalur diplomasi sebagai saudara komunis marxisme. Mereka berhasil merekrut para ilmuwan tersebut.

Pyongyang rupanya bersedia membayar para ilmuwan tersebut yang sebelumnya bekerja untuk Makeyev Rocket Design Bureau, 200 kali lebih besar dari apa yang pernah mereka dapatkan.

Dalam beberapa kasus, beberapa ilmuwan Rusia itu berhasil dicegah pergi ke Korea Utara untuk memberikan Pyongyang teknologi militer Soviet.


Namun, perwira intelijen AS dan Korea Selatan telah memastikan bahwa sejumlah ilmuwan Makeyev pada akhirnya benar-benar memperoleh pekerjaan sebagai konsultan di Korea Utara, Washington Postmelaporkan.

Baca Juga:  MV-22 Osprey Korps Marinir AS Jatuh di Pantai Australia

Bukti terbesar dari kolaborasi Rusia-Korea Utara ini adalah kemiripan antara fitur rudal yang baru-baru ini diuji coba oleh Pyongyang dan disain era Soviet.

Rudal Hwasong 15. Foto: scmp.com

Pada bulan Juni 2016, misalnya, Korea Utara menguji Hwasong-10, atau Musudan, rudal balistik jarak menengah, yang tampaknya memiliki kemiripan dengan R-27 Zyb, atau Ripple, yang diproduksi oleh Biro Desain Roket Makeyev – termasuk menggunakan mesin yang sama. Kabarnya mampu memicu Perang Dunia III.

Selanjutnya, pada bulan Agustus 2016, Korea Utara menguji rudal yang diluncurkan di kapal selam yang juga memiliki ciri serupa pada Ripple – Pukguksong-1.

Joshua Pollack, seorang analis di Pusat Studi Nonproliferasi James Martin, mengatakan kepada The Washington Post bahwa kedua rudal Korea Utara ini “secara umum dianggap berasal dari rancangan R-27 Makeyev Bureau.”

 

Advertisements

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan