India Buka Penawaran Untuk Pembelian 114 Pesawat Tempur

Dassault Aviation Prancis, perusahaan Amerika Boeing dan Saab Swedia menjadi ungulan dalam kontrak multi-miliar dolar Angkatan Udara India untuk pengadaan 114 jet tempur. Namun, Rusia masih bersaing dengan menawarkan dua jenis pesawat, juga pabrikan AS Lockheed Martin.

Narasumber utama dalam lembaga pertahanan India mengatakan kepada ThePrint bahwa persaingan utama adalah antara Dassault Rafale, Boeing F/A-18 dan Saab Gripen, meskipun ada total tujuh pesawat yang bersaing untuk mega deal tersebut.

AU India telah menyelesaikan Air Staff Quality Requirements (ASQR) untuk program pesawat tempur tersebut dan telah memindahkan file untuk mendapatkan Acceptance of Necessity (AON) dari Kementerian Pertahanan India.


Setelah ini, AU India akan menerbitkan Expression of Interest (EOI) dan akhirnya Request for Proposal (RFP).

“Dengan pemilihan umum sudah dekat, AU India mengharapkan untuk mendapatkan AON segera setelah pemerintah baru dilantik. AU India mengharapkan EOI akan dikeluarkan pada kuartal kedua tahun ini dan RFP pada kuartal terakhir,” kata narasumber itu.


AU India tahun lalu telah mengeluarkan Request for Information (RFI) setelah tawaran sebelumnya untuk membeli 126 jet tempur dibatalkan, menyusul kesepakatan untuk 36 Rafale dalam kondisi siap terbang.

Sebanyak tujuh perusahaan telah menanggapi RFI, termasuk dua perusahaan dari AS dan Rusia.

RFI tersebut direspon oleh Boeing F/A-18E/F Super Hornet Block III, F-16 Fighting Falcon Lockheed Martin Block 70, Dassault Rafale F3R, Eurofighter Typhoon, Saab Gripen E, Russian United Aircraft Corporation MiG-35 dan Sukhoi Corporation Su-35.

Baca Juga:  Nyusul Rusia, Amerika Buka Bengkel Alutsista di Thailand

Narasumber mengatakan bahwa Rafale sangat mahal harganya tetapi karena pembayaran satu kali untuk peningkatan khusus India telah dilakukan, setiap pembelian Rafale di masa mendatang akan lebih murah.

AU India yang telah mengunggulkan Rafale pada tahun 2012 di bawah tender yang dibatalkan untuk 126 pesawat tempur, nampaknya masih tertarik pada jenis pesawat yang sama.

Pesaing serius lainnya adalah Saab Gripen, yang merupakan pesawat tempur bermesin tunggal. Menyusul keputusan untuk membeli 36 pesawat tempur Rafale, AU India telah memindahkan proposal untuk membeli pesawat tempur bermesin tunggal, dan Gripen menjadi yang terdepan. Namun, pemerintah India dengan tetap memperhatikan bahwa Light Combat Aircraft Tejas sudah dibuat, membuka kontrak untuk pesawat bermesin tunggal dan ganda.

Boeing F/A-18, sementara itu, juga mengikuti tender untuk proyek Angkatan Laut India. Narasumber mengatakan jika keputusan diambil untuk membeli pesawat tempur Amerika, maka itu adalah F/A-18, bukan F-16.

Kebetulan, Lockheed Martin, pembuat F-16, telah menawarkan apa yang disebutnya sebagai pesawat baru F-21. Namun, sumber-sumber AU India mengatakan pesawat itu tidak lain hanyalah rebranding F-16 dengan beberapa fitur tambahan.

Berbicara tentang dua pesawat Rusia, MiG-35 dan Su-35, narasumber mengatakan bahwa AU India sebenarnya mencari pesawat tempur barat karena Su-30MKI sudah digunakan oleh AU India.

Masalah dengan produk Rusia adalah rasio serviceability yang rendah dan ukurannya. AU India harus membuat hanggar khusus untuk Su-30MKI karena ukurannya yang lebih besar dari pesawat lain yang digunakan bersama AU India. Rasio serviceability Su-30MKI masih berada hanya 58 persen, yang berarti bahwa dari 100 pesawat, hanya 58 yang tersedia untuk diterbangkan pada waktu tertentu. Selebihnya ada dalam perawatan atau tidak dapat terbang karena kurangnya suku cadang.

Baca Juga:  Presiden Filipina: Selamat Tinggal Amerika, Kami Gak Butuh Duitmu

Hal-hal yang mendukung pada produk Rusia adalah termasuk fakta bahwa harga MiG-35 dan Su-35 akan lebih murah daripada yang lain, serta fakta bahwa Rusia tetap menjadi sekutu kuat India dan memiliki porsi yang
besar dalam sistem yang digunakan India. Yang terbesar dari semua faktor yang menguntungkan mereka adalah bahwa fasilitas produksi pesawat Rusia sudah ada di India, milik HAL, yang memproduksi Su-30MKI.

Sementara menyangkut Eurofighter Typhoon, faktor terbesar yang menghambatnya adalah sifat kepemilikannya yang multi-nasional – Eurofighter berada di bawah Airbus dan dimiliki bersama oleh Jerman, Italia, Inggris, Prancis, dan Spanyol. Narasumber mengatakan ini akan menjadi “masalah”.

Sumber : theprint.in, TSM Angga Saja

1 Komentar

Tinggalkan Balasan