Indonesia Jadi Alternatif, Jika India Gagal Jadi Anak Emas Amerika Untuk Membendung China

Berita Internasional >> Setelah Kalah dari Pakistan, Muncul Keraguan pada Militer Kuno India Sumberwww.nytimes.comPosted on March 4, 2019 FacebookTwitterGoogle+WhatsAppLineTelegramFacebook MessengerEmail Militer India tengah berada di bawah sorotan setelah seorang pilot mereka sempat menjadi tahanan Pakistan setelah pertempuran singkat di perbatasan. Sebagian besar perangkat perang militer India sangatlah ketinggalan zaman sehingga bisa dianggap kuno. Apa pun masalahnya, Amerika Serikat bertekad untuk menjadikan negara itu sekutu kunci di tahun-tahun mendatang untuk membendung ambisi regional China yang sedang berkembang. Baca juga: Jika India Menyerang, Militer Pakistan Akan Respons Kuat Oleh: Maria Abi-Habib (The New York Times) Itu adalah momen yang tidak menguntungkan bagi militer India yang sedang didambakan Amerika Serikat untuk membantu membendung pengaruh China. Seorang pilot Angkatan Udara India minggu lalu bertempur dengan sebuah pesawat perang dari Angkatan Udara Pakistan, dan akhirnya menjadi tahanan di belakang garis musuh untuk waktu yang singkat. ADVERTISEMENT Pilot itu berhasil pulang dalam keadaan utuh, walau memar, tetapi nasib pesawat tua itu, MiG-21 dari era Soviet, kurang beruntung. Pertempuran udara itu, pertempuran pertama yang dilakukan oleh saingan-saingan Asia Selatan dalam hampir lima dekade, adalah ujian yang jarang diterima oleh militer India―dan itu membuat para pengamat sedikit tercengang. Walaupun tantangan yang dihadapi oleh angkatan bersenjata India bukanlah rahasia, kalahnya sebuah pesawat minggu lalu dari Pakistan, yang ukuran militernya sekitar setengah ukuran militer India dan hanya menerima seperempat dari pendanaannya merupakan suatu hal yang mencengangkan. Angkatan bersenjata India sedang dalam kondisi yang mengkhawatirkan. Jika peperangan pecah besok, India hanya bisa memasok pasukannya dengan amunisi dalam 10 hari, menurut perkiraan pemerintah. Dan 68 persen dari peralatan militer sudah sangat tua, peralatan itu secara resmi dianggap “kuno.” “Pasukan kami tidak memiliki peralatan modern, tetapi mereka harus melakukan operasi militer abad ke-21,” kata Gaurav Gogoi, seorang anggota parlemen dan anggota Komite Tetap Parlemen untuk Pertahanan. Para pejabat Amerika yang bertugas memperkuat aliansi berbicara tentang misi mereka dengan frustrasi: birokrasi yang membengkak membuat penjualan senjata dan latihan bersama menjadi sulit; Pasukan India sangat kekurangan dana; dan angkatan laut, tentara dan angkatan udara negara itu cenderung bersaing daripada bekerja sama. Seorang tentara Pakistan berjaga di dekat reruntuhan pesawat militer India yang ditembak jatuh oleh militer Pakistan pekan lalu. (Foto: Associated Press/Abdul Razzaq)

Konflik udara antara India dan Pakistan menyisakan PR yang cukup berat bagi Amerika Serikat (AS) dalam upayanya menjadikan negeri bollywood itu sebagai “boneka” di asia dalam membendung China.

Dalam perang kemarin, terlihat jelas bahwa armada udara India kalah kelas dengan pesawat tempur Pakistan. AU India masih mengandalkan pesawat tempur tua warisan Uni Soviet, MiG-21, yang pernah diupgrade dalam program Bison dan diklaim setara F-16. Namun nyatanya, 2 pesawat jenis itu rontok di
udara.

Jika peperangan pecah besok, India hanya bisa memasok pasukannya dengan amunisi dalam 10 hari, menurut perkiraan pemerintah. Dan 68 persen dari peralatan militer sudah sangat tua, peralatan itu secara resmi dianggap “kuno.”

“Pasukan kami tidak memiliki peralatan modern, tetapi mereka harus melakukan operasi militer abad ke-21,” kritik Gaurav Gogoi, seorang anggota parlemen dan anggota Komite Tetap Parlemen untuk Pertahanan.

Rapuhnya India menjadi PR berat bagi AS, karena anak emasnya ini menghadapi dua musuh bebuyutan yang sekarang ini sedang bermesraan yaitu, China dan Pakistan. Hubungan India dengan dua negara tetangganya itu tidak pernah akrab. Dan China adalah musuh besar bagi AS.

Karena makin mesra dengan China, Pakistan mulai dijauhi AS. Dengan menambah tuduhan soal terorisme, Islamabad mulai dikurangi bantuan militernya dari Pentagon.

Sedangkan India-AS. Hanya dalam satu dekade, penjualan senjata AS ke India telah berubah dari hampir nol menjadi $15 miliar.

Baca Juga:  F-22 Raptor Akan Dilabur Cat Anti Radar Terbaru

Kalah di udara, India memainkan drama agar hubungan Pakistan dan AS makin buruk, jika perlu sampai bercerai. Berbekal debrish roket, India terus melakukan propaganda bahwa musuhnya itu menggunakan pesawat F-16 dalam konflik kemarin. Hal yang dilarang dalam kontrak pembelian, bahwa F-16 dilarang untuk dipakai menyerang negara tetangga.

Militer India selama ini selalu dikadali oleh para politisi. Di Pakistan, militer memegang kendali atas politisi. Gambar: sandeep

India akan segera menjadi negara terpadat di dunia, dengan potensi akan mengungguli China pada tahun 2024. India berbagi perbatasan yang panjang dengan China selatan dan barat dan mengendalikan perairan penting yang dibutuhkan China untuk rute perdagangan maritimnya.

India bisa jadi negara remot bagi AS untuk membendung China

“Demografi India, potensi militer jangka panjangnya, bentangan geografisnya―membuat India layak ditunggu,” kata Jeff Smith, seorang peneliti Asia Selatan di Heritage Foundation di Washington dan penulis “Cold Peace: China-India Rivalry in the 21st Century.”

“Ketika China bangkit dan AS kesulitan untuk mempertahankan dominasinya, Amerika akan membutuhkan negara yang akan membantunya mencapai keseimbangan kekuatan di abad ke-21,” kata Smith. “Dan negara itu adalah India. Amerika Serikat mengetahui hal ini dan harus bersabar.”

Kuncinya, AS harus bersabar dalam mendonorkan uangnya ke India. Pada tahun 2018, anggaran militer India sekitar $45 miliar.Mayoritas uang itu digunakan untuk membayar 1,2 juta pasukan tugas aktifnya, serta yang pensiun. Hanya $14 miliar yang akan digunakan untuk membeli perangkat keras baru.

Baca Juga:  Jepang Tawarkan Senjata Militer Ke Malaysia

Seorang pejabat pemerintah India mengatakan mereka kesulitan untuk meningkatkan kebutuhan dasar warganya di tangah angka pengangguran yang tinggi, itu membuat India sulit untuk menyalurkan lebih banyak uang ke militer di saat koalisi China dan Pakistan dari dua arah, dari halaman depan dan belakang, melalui darat dan laut.

Jika bukan India, siapa lagi yang bisa dijadikan “anak emas” Amerika untuk membendung China? alternatifnya adalah Indonesia. Tapi sayangnya, di sini lebih banyak fans berat Sukhoi dibanding Fighting Falcon.

5 Komentar

  1. Wah, parah….
    Media sekelas Militermeter memuat berita tendensius seperti ini… padahal untuk Indonesia jelas2 bahwa hubungan Indonesia – USA secara militer pernah membuat sayap tempur Indonesia carut marut… itulah alasan mengapa akirnya hadir Sukhoi di Indonesia…
    Jika Sukhoi dibeli karena kekangan dari embargo militer USA ke Indonesia kenapa pula fans sukhoi yang dijadikan kambing hitam??? belum lagi F-16 hibah yang jelas2 sama sekali tidak membuat Indonesia menjadi gahar dan mungkin malah ditertawakan oleh tetangga sekitar… bukanya selama ini Indonesia mulai di perhitungkan karena kepemilikan Sukhoi???

    • Setuju banget bosss… yuli hantoro, lebih baik berteman biasa aja dan kita mesti belajar masa lalu untuk bisa move on dengan pertimbangan yang bijak…

  2. Eit jangan salah,mungkin penyuka flanker lebih banyak daripada penyuka falcon tapi pembenci china masih mayoritas di Indonesia ketimbang yg ga suka sama amrik,arab atau india

  3. Artikel yang panjang …. hanya ditutup dengan perbandingan banyaknya antara yang menyenangi Sukhoi dan Fighting Falcon saja? Mengapa tidak dibahas potensi menerima bantuan untuk militer Indonesia khususnya penguatan pangkalan militer gabungan di Ranai, Kepulauan Natuna. Bisa saja Indonesia minta “kemudahan” dalam memperoleh kapal-kapal produk Amerika Serikat untuk digelar di Natuna. Tentunya ini juga akan menjadi perhatian pihak Rusia, untuk menawarkan juga potensi kerjasama dibidang militer dengan Indonesia. Tinggal kejelian dari Petinggi Pertahanan dan Militer Indonesia untuk memanfaatkan peluang yang ada, baik dari Amerika maupun dari Rusia.

Tinggalkan Balasan ke Pejuang Kardus dikardusin Batalkan balasan