Ingat Akhirat, Jenderal Gatot Nurmantyo Tolak Jadi Presiden

Presiden RI Joko Widodo didampingi Panglima TNI Jenderal Moeldoko (kiri) dan KSAD TNI AD Jenderal Gatot Nurmanto (kanan) saat menuju tempat pemberian arahan kepada para prajurit TNI AD dengan menaiki tank anoa di Pusat Latihan Tempur (Puslatpur) Baturaja, Sumsel, Selasa (16/6). Demonstrasi latihan tempur TNI AD disaksikan langsung oleh Presiden RI Joko Widodo didampingi Panglima TNI Jenderal Moeldoko, Kasat TNI AD Jenderal Gatot Nurmanto dan Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu. Foto: ANTARA FOTO/Nova Wahyudi/Asf/foc/15.

4 November 2016, Jakarta dan kota-kota besar di Indonesia diguncang aksi massa terbesar yang pernah ada di dalam sejarah Negara Kesatuan Republik Indonesia, utamanya di Jakarta. Massa umat muslim yang menuntut agar Basuki Tjahja Purnama (Ahok) diproses hukum karena telah menghina Al-Quran dalam rekaman video yang beredar di sosial media.

Istana Merdeka, pusat pemerintahan dikepung massa. Sesuai prosedur keamanan presiden, Bapak Jokowi diskenarionakan meninjau proyek di Bandara Soekarno Hatta Cengkareng, beliau di sana sampai malam. Di dalam istana ada Wakil Presiden, Menkopolhukam, Panglima TNI dan Kapolri.

Berkaca pada kasus di Thailand, diawali dari gerakan protes demonstrasi anti Perdana Menteri lalu militer melaju mulus melakukan kudeta melengserkan Perdana Menteri Thaksin Shinawatra. Tentu saja kudeta itu disambut gembira sebagian besar rakyat Thailand.


4 November 2016 adalah kesempatan yang sama seperti kasus di atas bagi seorang Panglima TNI, Jenderal Gatot Nurmantyo bila ingin melakukan kudeta, melengserkan Jokowi, mengambil alih jabatan Presiden Indonesia. Ada 4 indikator bahwa jika terjadi kudeta militer akan diamini dan dirayakan secara suka cita oleh masyarakat Indonesia:

1. Popularitas TNI sebagai lembaga negara yang paling dicintai publik saat ini.
2. Tingkat kepercayaan rakyat pada partai politik sudah pada titik terlemah.
3. Popularitas Jokowi melemah di mata umat Islam terkait kasus Ahok.
4. Momentun aksi massa di sekitar istana bisa menjadi alat bukti pengesahan kudeta.

4 faktor di atas mirip sekali dengan yang terjadi pada tahun 1965, saat Soeharto melakukan kudeta atas kekuasaan Presiden Soekarno, yaitu sebagai berikut:
1. TNI sangat populer dan diharapkan terjun ke politik.
2. Popularitas Soekarno turun karena harga barang melambung tinggi
3. Sebagian besar masyarakat sudah muak dengan partai politik yang saling berkelahi
4. Demonstrasi massa yang menuntut Soekarno lengser.

Momentum situasi dan kondisi pada 4-11-2016 juga sangat pas jika dilakukan kudeta oleh Panglima TNI bila melihat kejadian sebagai berikut ini,

  • Presiden Jokowi telah terisolasi di kawasan Bandara, sekali aksi bisa segera dibawa ke tempat pengasingan.
  • Personel Brimob posisinya telah terjeping di antara pasukan TNI dan Massa Demonstran, tak akan ada aksi perlawanan jika kudeta berlangsung.
  • Ribuan prajurit Kostrad dalam kondisi siaga tempur penuh setelah pembaretan Cakra, siap beraksi menguasai bangunan vital pemerintahan.
  • Selain pernah menjabat Pangkostrad, Jenderal Gatot adalah prajurit Kopassus aktif. Belum pernah ada panglima TNI yang punya hubungan psikologis langsung pada dua kekuatan strategis TNI tersebut.
  • Amerika Serikat sedang diguncang pemilihan presiden, cukup disogok kontrak pembelian F16-Viper juga langsung oke.
  • Kota-kota besar di luar Jakarta juga diguncang aksi demo damai, peralihan kekuasaan bisa cepat berlangsung dengan komando pasukan raider di daerah.
  • Citra aparat kepolisian juga sedang berada dalam titik terendah, jika melawan kudeta bisa menjadi musuh bersama TNI dan Rakyat yang pro kudeta.

Lalu kenapa Jenderal Gatot Nurmantyo melewatkan kesempatan emas untuk menjadi Presiden Indonesia dengan jalan kudeta?

Dalam acara Indonesia Lawyer Club yang disiarkan langsung di TV One pada 8 November 2016, Jenderal bintang 4 kelahiran Tegal tersebut menjawab dengan tegas pertanyaan Bung Karni (Presenter ILC) sebagai berikut ini:

“… demi Allah saya bersumpah taat kepada atasan dengan tidak membantah perintah atau putusan. Apabila saya berkeinginan jadi presiden maka saya melanggar sumpah saya. Umur saya sudah 56 Pak Karni, kata ustaz bilang, kehidupan dunia hanya sekejap saja. Kehidupan abadi ada disana,” kata Gatot.

“Maka beliau (Presiden Jokowi) adalah atasan saya. Saya sebagai umat muslim pernah bersumpah pada 15 Maret 1982, antara lain. Demi Allah saya bersumpah, diatas Alquran nih Pak Karni. Setia kepada Pancasila dan UUD 1945, itu poin pertama,” tambahnya.

Panglima TNI saat memberi sambutan pada puncak Hari Santri. Foto: NU TV
Panglima TNI saat memberi sambutan pada puncak Hari Santri. Foto: NU TV

Jenderal Gatot Nurmantyo bukanlah Jenderal Asisi di Mesir yang memilih menggulingkan Presiden Mursi karena popularitas Mursi turun ke angka 40% dan popularitas Militer Mesir naik jadi 50%. Sebagai muslim dia tahu benar, bahwa melakukan tindakan inkonstiusional tidak dibenarkan di dalam agama, karena sumpah jabatan yang dipegangnya diucapkan atas nama Tuhan di bawah kitab Suci.

Salut bapak Jenderal, semoga panjang umur dan dikarunia ridlo ilahi menjaga NKRI.

 

Advertisements

6 Komentar

  1. tidak ada alasan untuk kudeta..
    saat ini indonesia di atas angin.. masa paling indah dan damai.. hanya segelintir orang2 bodoh yg ingin indonesia porak poranda spt 98 lagi.. masarakat sudah muak dg politik binatang.. masyarakat sudah pandai dan mampu menilai mana yg baik dan mana yg buruk.. TNI tdk pernah melakukan hal gila spt jaman si mbah dulu.. 98 pun tdk membuat tni kudeta.. karena tni tdk akan berbuat bodoh spt keledei yg akan jatuh ke lubang yg sama ke dua kali.. hanya orang2 yg berkedok agama yg membuat agamaku terhina.. sungguh orang2 yg nista sungguh sungguh nista.. mengatasnamakan agama demi kepentingan pribadi.. karena sesungguhnya agamaku tdk akan hina karena telah di hina manusia.. tp karena kelakuan kalian lah yg membuat agamaku jd hina..
    dr kejadian kemarin bisa kita nilai.. kalau masih ada 250 jt lebih orang pandai di indonesia di banding ribuan orang kurang pandai..

    • saya yakin pak gatot akan berpikir 2x, karena di dalam pemerintah ada senior2nya dari TNI dulu sebut saja pak luhut, pak wiranto, pak ryamizard ryacudu, pak hendropriono. mereka semua sudah bintang 4. apalgi pak luhut yg keras dan loyal sama presiden, pngin dijewer apa klo mau kudeta.. klo mau berhasil harus meniru spt pak h*rto dulu dengan strategi membantai semua jenderal yang akan menentangnya, baru deh bisa berkuasa karena sudah g ada yang menghalangi. mungkin cara spt itu yang akan berhasil…

Tinggalkan Balasan