Inggris Tawarkan Kapal Induk Queen Elizabeth ke India

India yang saat ini tengah membangun kapal Induk kedua, ditawari negeri penjajahnya, Inggris, untuk memakai desain kapal Induk Queen Elizabeth.

Dilansir oleh Australian Defense Magazine pada 4 April, tawaran dari BAE Systems tentanh desain kapal induk kelas Queen Elizabeth telah dilayangkan ke India.

Pada Juli 2015, pemerintah India telah mengirim permintaan untuk mencari proposal untuk proyek IAC-2 ke empat perusahaan: BAE Systems, DCNS Prancis (telah berganti nama menjadi Naval Group), Lockheed Martin di
AS dan Rosoboronexport Rusia.

HMS Queen Elizabeth adalah kapal induk Inggris terbaru dan terbesar Angkatan Laut Kerajaan Inggris dan dikatakan sebagai kapal induk paling kuat setelah kapal induk bertenaga nuklir Angkatan Laut AS.

India yang terobsesi menjadi negara adidaya, berencana untuk memiliki tiga kapal Induk. Saat ini negara tersebut memiliki 1 kapal induk aktif, yaitu INS Vikramaditya, bekas Uni Soviet.

Sedangkan yang kapal induk kedua INS Vikrant (kode produksi IAC 1), sedang dibangun dijadwalkan akan memulai uji coba laut pada awal tahun 2020 dengan bobot penuah muatan mencapai 60.000ton.


Sedangkan untuk kapal induk ketiga (IAC 2) masih mencari desain yang pas. Kelas Queen Elizabeth milik Inggris ini secara signifikan lebih besar daripada Vikramaditya dan IAC-1, memiliki displacement maksimum lebih dari 65.000 ton. Kapal induk ini dapat mengerahkan hingga 40 pesawat tempur F-35B Lightning II.

Baca Juga:  Amerika Serikat Tambah Armada Kapal Perang Untuk Hadapi Rusia, Iran dan China

Namun, hanya ada sedikit detail mengenai timeline pasti untuk pembuatan IAC-2 atau detail lainnya seperti jenis pesawat tempur yang akan dibawanya atau jenis sistem propulsi yang akan digunakan. Sebelumnya telah ada spekulasi Angkatan Laut India akan mempertimbangkan tenaga nuklir untuk IAC-2. Angkatan Laut India berencana untuk membeli 57 pesawat tempur untuk kapal induk masa depannya tersebut.

Pada Juli 2015, pemerintah India telah mengirim permintaan untuk mencari proposal untuk proyek IAC-2 ke empat perusahaan: BAE Systems, DCNS Prancis (telah berganti nama menjadi Naval Group), Lockheed Martin di
AS dan Rosoboronexport Rusia.

Naval Group kemudian mempresentasikan derivat dari kapal induk Charles de Gaulle AL Prancis, tetapi tanpa menggunakan tenaga nuklir untuk keperluan Angkatan Laut India. Pada bulan
Maret 2019, Angkatan Laut Kerajaan Inggris dan Angkatan Laut India membentuk ‘Carrier Capability Partnership’, yang bertujuan untuk berbagi “best practice” dari program kapal induk Inggris.

Sumber : navyrecognition.com, TSM Angga Saja

1 Komentar

Tinggalkan Balasan