Israel Akui Membantu Pemberontak Suriah Untuk Gulingkan Presiden Bashar

Pasukan militer Israel berpatroli di Golan. Foto: AFP

Selama ini sudah menjadi rahasia umum soal Israel memasok senjata ke kelompok pemberontak Suriah di Golan untuk menggulingkan Presiden Basyar al-Assad.

Israel sendiri memberi sandi operasinya di Suriah dengan sandi “Operasi Tetangga yang baik”. Tujuanya adalah mengganti penguasa di Suriah, sampai saat ini, Suriah adalah satu-satunya yang tidak memiliki hubungan diplomatik dengan israel dan secara de jure masih terus berperang dengan Israel rebutan dataran tinggi Golan.

Israel mulai ketahuan setelah sejumlah laporan menyebut Israel pernah merawat anggota militan Al Nusra, cabang Al Qaidah di Suriah, memicu spekulasi adanya hubungan lebih jauh antara kelompok pemberontak yang menguasai Dataran Tinggi Golan dengan Israel.

Pada 2015 sebelum militer Israel melancarkan apa yang disebut Operasi Tetangga yang Baik, Menteri Pertahanan sebelumnya, Moshe Ya’alon, menyebut dukungan mereka kepada kelompok Islamis di Golan adalah bantuan kemanusiaan dan bahan posisi tawar untuk mencegah kaum minoritas Druze dibantai oleh militan.


Tapi kemarin pejabat Israel mengakui Operasi Tetangga Yang Baik lebih dari sekadar misi kemanusiaan karena faktanya mereka menyokong sekitar tujuh kelompok pemberontak di Golan dengan pasokan senjata dan amunisi. Kabar itu muncul di laman The Jerusalem Post yang kemudian sudah dihapus.

Pejabat senior di Kementerian Pertahanan Israel menyampaikan pengakuan itu lewat jumpa pers kemarin. Tapi Jerusalem Post tidak mengatakan mengapa mereka menghapus laman berita itu meski sejumlah pengguna Twitter mempertanyakan. Media Israel yang lain belum melaporkan soal berita ini.

Baca Juga:  Pakistan Pesan 4 Kapal Perang Korvet dari Turki

Suriah pun selama ini menuding Negeri Bintang Daud menyokong kelompok pemberontak.


“Selain memberi dukungan senjata, Israel juga memberi pasokan makanan, pakaian, bagi kelompok kecil militan dengan bantuan 1524 ton makanan, 250 ton pakaian, 947 liter bahan bakar, 21 genset listrik, dan 24.900 perlengkapan medis dan obat-obatan,” kata Jerusalem Post, seperti dilansir laman Sputnik News, Rabu (5/9).

Sementara itu kelompok Fursan al-Julan, pemberontak yang mendapat bantuan senjata dari Amerika Serikat dan Arab Saudi juga diberi pelatihan, didanai, dan dipersenjatai oleh Qatar, serta mendapat gaji dari Israel. Menurut Jerusalem Post, sekitar 400 militan mendapat upah USD 5.000 per bulan dari Tel Aviv.

Kelompok Fursan Julan selama ini punya hubungan yang kadang berkonflik dengan Jabal Nusra dan bekerja sama dalam sejumlah operasi serangan. CIA menyetop bantuan dana bagi kelompok ini pada 2014 ketika sejumlah anggota mereka bergabung dengan Al Nusra.

“Israel mendukung kami dengan cara yang heroik,” kata juru bicara Julan, Muatasim Al Gulani kepada the Wall Street Journal di 2017. “Kami tidak akan bertahan tanpa bantuan dari Israel.”

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan