Israel Sembunyikan 300 Rudal Nuklir di Bawah Laut

Israel adalah satu-satunya negara Nuklir di dunia yang masih tidak mau mengaku. India dan Pakistan meskipun tidak ikut meratifikasi rudal nuklirnya, namun kedua negara ini secara gamblang mengakui kepemilikan senjata pemusnah tersebut.

Amerika Serikat, PBB dan Energi Atom Dunia selaku pengawas keberadaan nuklir juga bersikap standar ganda. Saat Iran dan Korea Selatan dihukum karena tidak mau berterus terang soal senjata nuklir, Israel dibiarkan saja dan malah terkesan dilindungi.

Senjata global berhulu ledak nuklir saat ini berada pada 16.300, turun hampir 1.000 sejak 2013.

Jumlah senjata operasional saat ini adalah sekitar 4.000, menurut data tahunan yang dirilis oleh Lembaga Penelitian Perdamaian Internasional Stockholm (SIPRI).

Senjata nuklir global dimiliki oleh dia negara, Amerika Serikat dan Rusia, 90 persen dari total nuklir di dunia. Rusia memiliki 8.000 dan AS 7.300 hulu ledak.

Dalam data resmi IAE ada sembilan negara diyakini memiliki senjata nuklir adalah AS, Rusia, Inggris, Perancis, China, India, Pakistan, Israel, dan Korea Utara.


Menariknya, Israel juga disebut didalamnya meski negara ini tidak pernah mengakui secara resmi memiliki senjara nuklir.

Menurut laporan yang diterbitkan di Swedia, Israel adalah gudang nuklir dengan 80 hulu ledak, namun laporan lain dari Jane’s Defence Weekly menyebut Israel memiliki 100 hingga 300 hulu ledak.

Kapasitas tersebut diyakini sama dengan yang dimiliki oleh militer Inggris saat ini.

Baca Juga:  Arab Saudi Ancam Serang Qatar Jika Nekad Membeli S-400 dari Rusia

Israel adalah satu-satunya kekuatan nuklir di Timur Tengah, program nuklirnya secara bertahap dikembangkan dengan bantuan Perancis, dan itu berpusat di reaktor Dimona di selatan Negev.

Pada tahun 1986, seorang teknisi dari pabrik Dimona, Mordechai Vanunu, mengungkapkan rinciannya kepada dunia tentang program nuklir negaranya.

Sebaliknya, Israel juga diyakini secara diam-diam telah mengembangkan sendiri senjata nuklir yang berbasis di lautan, seperti diwartakan National Interest.

Pada tahun 2000 Angkatan Laut AS mendeteksi peluncuran uji rudal jelajah berbasis kapal selam (SLCM) milik Israel di Samudera Hindia, dengan target mencapai 930 mil.

Senjata ini secara umum diyakini sebagai Turbo Popeye, adaptasi dari rudal jelajah udara yang diluncurkan oleh subsonic dengan hulu ledak nuklir 200 kiloton.

Dugaan lain menyebut senjata ini secara terselubung, disematkan pada kapal selam Dolphin milik Israel yang telah menyerang pelabuhan Suriah, Latakia, dengan rudal jelajah konvensional pada tahun 2013.

Kapal selam ini memiliki ketangkasan berenang lebih cepat, dan mampu berenang di bawah air dengan sangat tenang pada kecepatan rendah selama berminggu-minggu.


Namun, bukan berarti senjata ini digunakan untuk melakukan serangan dengan tenang melalui bawah laut, tetapi mereka bisa menggunakannya untuk berpatroli dan pencegahan nuklir jangka panjang.

Meski pun memiliki banyak kelebihan, ada suatu kendala geografis yang mengurangi kepraktisan kekuatan nuklir Israel.

Menurut laporan saat ini hanya ada satu target yang bisa dituju, yaitu Iran, sementara Teheran terletak hampir dalam jangkauan kapal selam Israel sepanjang 930 mil.

Baca Juga:  Sistem Infrared Search & Track F18 Super Hornet

Namun, ancaman nuklir yang diluncurkan oleh laut mungkin lebih ditujukan untuk senjata politik daripada ditujukan untuk keefektifan militernya.

Sumber: nationalinterest.org/TSM

2 Komentar

  1. Rusia maupun korut bisa membantu indonesia…….memiliki hulu ledaknya saja….mampu bikin negri sonotan and sonora panas dingin…..masa negri yg kuat dan berotot ini ga punya……apa kata dunia

  2. Mengalahkn israel harus dg satu serangan cepat rudal berbagai ukuran,dg target utama fasilitas nuklir dan militer israel…satu hari penuh minimal 100ribu rudal harus menghujani israel.itulah sebab knapa hisbulah dan hamas harus menumpuk rudal sebanyak mungkin.

Tinggalkan Balasan